Berito.id – Gelombang kenaikan harga energi kembali menghantam. Kali ini, Pertamina resmi mengerek harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi dengan angka yang cukup signifikan. Kebijakan ini mengikuti dinamika pasar global yang sedang bergejolak.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengonfirmasi bahwa penyesuaian ini merupakan keputusan pemerintah merespons kondisi pasar dunia. Bagi anak muda dengan mobilitas tinggi, angka-angka baru di papan SPBU ini tentu bukan sekadar statistik, melainkan beban nyata pada pengeluaran bulanan.
Lonjakan Drastis di Papan SPBU
Berdasarkan data resmi MyPertamina, kenaikan harga kali ini menyasar lini bahan bakar kelas atas. Pertamax Turbo (RON 98) yang sebelumnya dibanderol Rp13.100 per liter, kini melesat ke angka Rp19.400 per liter.
Berikut rincian kenaikan harga BBM nonsubsidi:
-
Pertamax Turbo: Dari Rp13.100 menjadi Rp19.400/liter.
-
Dexlite: Dari Rp14.200 menjadi Rp23.600/liter.
-
Pertamina DEX: Dari Rp14.500 menjadi Rp23.900/liter.
Tak berhenti di sana, harga LPG nonsubsidi ukuran 12 kg juga terkerek naik sebesar 18,75%. Di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara, satu tabung biru kini dihargai Rp228.000, naik dari harga sebelumnya Rp192.000. Ini merupakan penyesuaian harga pertama sejak tahun 2023.
Efek Domino: Dari Ongkos Hangout Hingga Harga Kafe
Meskipun pakar ekonomi energi UGM, Fahmy Radhi, berpendapat dampaknya tidak akan sesignifikan kenaikan BBM bersubsidi (Pertalite/Solar), namun “efek psikologis” dan biaya turunan tetap menghantui.
Bagi generasi muda yang aktif, kenaikan ini menyerang dari dua sisi. Pertama, biaya transportasi pribadi otomatis membengkak. Kedua, naiknya harga LPG 12 kg seringkali menjadi alasan bagi pengusaha kuliner atau kafe untuk menyesuaikan harga menu mereka. Kebiasaan makan di luar atau sekadar ngopi di akhir pekan kini membutuhkan alokasi dana lebih besar.
Dilema Self Reward di Tengah Inflasi
Kenaikan harga yang tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan menciptakan dilema baru: memangkas self reward atau mengorbankan tabungan masa depan. Fenomena ini memaksa kita untuk lebih selektif dalam memanjakan diri setelah lelah bekerja.
Pengaturan ulang pola pengeluaran menjadi wajib. Jika biasanya Anda rutin menggunakan bahan bakar nonsubsidi untuk menjaga performa mesin kendaraan, mungkin saatnya melakukan audit keuangan. Mobilitas tetap penting, namun menjaga napas finansial di tengah kenaikan harga energi global adalah prioritas yang tak bisa ditawar.
Bagaimana strategi Anda menghadapi lonjakan harga ini? Apakah rencana liburan atau upgrade gadget bulan ini tetap jalan, atau harus rela masuk kotak sementara? ***






