Rupiah Anjlok Rp18.000/Dolar AS, Terparah dalam Sejarah

Konflik Global dan Respons Lambat Kebijakan Moneter Jadi Sorotan Internasional

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:02 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah Anjlok Rp18.000/Dolar AS, Terparah dalam Sejarah(Foto: ist/ceknricek)

Rupiah Anjlok Rp18.000/Dolar AS, Terparah dalam Sejarah(Foto: ist/ceknricek)

Berito.id – Mata uang Indonesia, rupiah, sedang mengalami tekanan hebat. Pada perdagangan Kamis (4/6), nilai tukar rupiah merosot tajam hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini langsung memicu perhatian besar dari berbagai media internasional.

Al Jazeera: Rekor Terburuk akibat Lonjakan Harga Energi

Media asal Qatar, Al Jazeera, melaporkan bahwa ini adalah posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah RI. Menurut analisis mereka, keterpurukan ini di picu oleh efek domino konflik bersenjata antara AS-Israel melawan Iran.

Perang tersebut membuat harga energi dunia melambung tinggi. Akibatnya, Indonesia yang masih bergantung pada impor energi bersih harus mengeluarkan dana lebih besar. Hal ini mengganggu keseimbangan neraca perdagangan, memicu penarikan modal asing, dan akhirnya meruntuhkan nilai rupiah.

Baca Juga :  Bupati Tulungagung Gatut Sunu Kena OTT KPK, Begini Perjalanan Karier dan Latar Belakangnya

Asia Times: Kritik Keras untuk Bank Indonesia

Sementara itu, media Hong Kong, Asia Times, menilai keterpurukan rupiah selama dua bulan terakhir bukan sekadar masalah kuatnya mata uang dolar AS. Mereka mengkritik pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yang di anggap lambat dan tidak konsisten dalam mengambil tindakan.

Menurut Asia Times, pasar saat ini sedang panik sehingga terjadi kelangkaan stok dolar di dalam negeri. BI di nilai terlalu santai hanya karena angka inflasi dalam negeri cukup aman di level 2,42 persen pada April 2026. Strategi BI yang menghindari kenaikan suku bunga pun terbukti gagal menyelamatkan rupiah.

Baca Juga :  IHSG Terkoreksi ke 6.750 Jelang Rebalancing MSCI dan Sentimen Royalti Tambang

The Straits Times: Investor Khawatir Kebijakan Pemerintah

Dari negara tetangga, The Straits Times asal Singapura melaporkan bahwa kejatuhan rupiah juga di ikuti oleh merosotnya harga saham-saham di Indonesia. Para investor khawatir tingginya harga minyak dunia akan menjebol kas negara.

Selain faktor eksternal, kebijakan domestik juga ikut memicu kepanikan modal. Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mengontrol langsung ekspor beberapa komoditas penting membuat para pelaku pasar dan investor merasa cemas akan masa depan investasi mereka.

(Aat/*)

Berita Terkait

Pertamina Perkuat Kapabilitas SDM dan Budaya ESG, Strategi Jangka Panjang Hadapi Transisi Energi
MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026
Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia
Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026
Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya
OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger
Harga Emas Pekan Depan Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS
Harga Minyak Dunia Sentuh US$100, Prabowo Minta Simulasi APBN
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:00 WIB

Pertamina Perkuat Kapabilitas SDM dan Budaya ESG, Strategi Jangka Panjang Hadapi Transisi Energi

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:00 WIB

MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026

Rabu, 29 Juli 2026 - 08:00 WIB

Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:00 WIB

Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:00 WIB

Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya

Berita Terbaru