Berito.id – Bank Indonesia (BI) mengambil posisi tegas. Di tengah badai ketidakpastian global dan nilai tukar rupiah yang terus tertekan, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa otoritas moneter lebih memilih mengerem ambisi pertumbuhan demi menjaga fondasi mata uang tetap kokoh.
Prioritas BI saat ini jelas: stabilitas adalah harga mati.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menilai langkah ini konsisten untuk meredam volatilitas. Sepanjang bulan ini, rupiah sudah meluncur jatuh sekitar 0,8 persen hingga menyentuh level psikologis baru, yakni Rp17.140 per dolar AS. Angka ini menempatkan mata uang Garuda sebagai salah satu yang terlemah di kawasan Asia.
Ancaman Nyata ‘Deficit Trap’
Kondisi ini bukan sekadar fluktuasi harian. Ada risiko struktural yang lebih dalam yang menghantui ekonomi nasional. Jessica menyoroti munculnya potensi deficit trap atau jebakan defisit.
“Tekanan pada neraca berjalan, fiskal, dan cadangan devisa kini saling memperkuat. Ini memberikan tekanan hebat terhadap rupiah,” jelas Jessica dalam keterangannya.
Berikut adalah rincian angka yang patut diwaspadai:
-
Defisit Transaksi Berjalan: Di prediksi melebar ke angka 0,4–0,7 persen terhadap PDB pada 2026.
-
Defisit Anggaran: Di perkirakan merangkak naik ke level 2,95 persen dari PDB.
-
Dampak Harga Minyak: Setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen berisiko menggerus surplus perdagangan kita hingga 20-40 persen.
Sebagai negara importir neto minyak, kenaikan harga energi global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah bak pedang bermata dua bagi Indonesia: membebani subsidi sekaligus menekan cadangan devisa.
Cadangan Devisa Mulai Terkuras
Upaya BI menjaga rupiah tidaklah murah. Cadangan devisa Indonesia tercatat menyusut cukup signifikan. Per Maret 2026, angkanya berada di posisi USD148,2 miliar, turun tajam dari USD156 miliar pada akhir tahun lalu.
Penurunan sekitar USD7,8 miliar dalam waktu singkat ini mencerminkan betapa agresifnya intervensi pasar yang di lakukan BI, mulai dari pasar valuta asing hingga pengelolaan likuiditas di pasar obligasi.
Kapan Suku Bunga Bisa Turun?
Bagi pelaku usaha yang menanti pelonggaran moneter, kabar ini mungkin pahit. Selama kurs rupiah masih betah bertengger di atas Rp17.000 per dolar AS dan harga energi tetap tinggi, harapan melihat bunga kredit turun dalam waktu dekat nampaknya tertutup rapat.
“Pesan kebijakannya cukup jelas: stabilitas rupiah di dahulukan. Ruang pemangkasan suku bunga akan sangat sempit,” pungkas Jessica.
BI diprediksi tetap akan menggunakan instrumen non-suku bunga untuk sementara waktu. Membiarkan imbal hasil (yield) obligasi tenor pendek naik menjadi strategi andalan untuk menarik modal asing masuk, sembari menjaga stabilitas pasar keuangan domestik agar tidak terombang-ambing sentimen eksternal. ***






