Berito.id – Pasar kripto terpaksa gigit jari pada Minggu (19/4/2026). Mayoritas aset digital utama gagal mempertahankan posisinya dan terjerembap ke zona merah. Tekanan jual yang masif membuat kapitalisasi pasar global menyusut hingga 2,52 persen dalam kurun waktu 24 jam.
Berdasarkan data terbaru dari Coinmarketcap, total valuasi pasar kini bertengger di level Rp 43.809 triliun. Penurunan ini di barengi dengan merosotnya volume perdagangan yang anjlok tajam sebesar 27,94 persen, menyisakan angka Rp 2.129,9 triliun.
Bitcoin Bertahan di Rp 1,30 Miliar
Raja kripto, Bitcoin (BTC), tidak kuasa menahan gempuran koreksi. BTC tergelincir 2,22 persen dan kini berkutat di level Rp 1,30 miliar per koin. Menariknya, di tengah penurunan harga ini, dominasi Bitcoin terhadap aset lainnya justru meningkat tipis menjadi 59,30 persen. Angka ini membuktikan bahwa investor cenderung melepas aset berisiko tinggi lainnya (altcoin) dan kembali memegang Bitcoin sebagai instrumen yang di anggap lebih stabil di saat badai.
Ethereum dan Koin Meme Rontok
Nasib lebih malang menimpa Ethereum (ETH). Aset kripto terbesar kedua ini tergerus 3,13 persen, membuatnya harus puas berada di angka Rp 40,40 juta. Langkah serupa di ikuti oleh Binance Coin (BNB) yang turun ke level Rp 10,8 juta.
Koreksi paling dalam terlihat pada deretan altcoin dan koin komunitas:
-
Cardano (ADA): Merosot tajam 4,29 persen ke level Rp 4.282.
-
Solana (SOL): Terpangkas 3,43 persen menjadi Rp 1,47 juta.
-
XRP: Melemah 3,27 persen ke angka Rp 24.567.
-
Dogecoin (DOGE): Menjadi yang terparah dengan kejatuhan 5,26 persen ke level Rp 1.614.
Lindung Nilai di Stablecoin
Ketika pasar bergejolak, investor tampaknya memilih untuk mengamankan aset mereka ke dalam stablecoin. Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,01 persen. Saat ini, USDT dihargai Rp 17.180, sementara USDC dipatok pada Rp 17.008 per koin.
Tips Menghadapi Pasar “Bearish”
Penurunan volume perdagangan sebesar hampir 28 persen menunjukkan adanya sikap wait and see dari para pelaku pasar. Bagi Anda yang memiliki aset di bursa, hindari pengambilan keputusan impulsif berdasarkan kepanikan (panic selling).
Gunakan momen koreksi ini untuk melakukan riset ulang terhadap fundamental proyek kripto Anda. Jika Anda adalah tipe investor jangka panjang, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau mencicil pembelian saat harga murah seringkali menjadi langkah yang lebih bijak daripada mencoba menebak dasar harga terbawah. ***






