Berito.id – Dapur rumah tangga kembali menghadapi ujian berat pada Jumat pagi ini. Data terbaru Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per 24 April 2026 pukul 06.35 WIB menunjukkan tren harga komoditas utama yang masih ogah turun. Telur ayam ras menjadi salah satu yang paling mencolok dengan harga stabil di angka Rp32.000 per kilogram.
Kenaikan ini tidak berdiri sendiri. Kelangkaan bahan baku plastik di tingkat global mulai memberikan efek domino yang nyata terhadap harga eceran pangan di pasar-pasar tradisional.
Cabai Rawit Merah Tembus Rp65.000, Bawang Merah Fluktuatif
Laporan PIHPS mencatatkan volatilitas tinggi pada komoditas bumbu dapur. Bawang merah saat ini di banderol Rp45.950 per kg, sementara bawang putih menyentuh Rp39.650 per kg. Lonjakan paling terasa ada pada kategori cabai:
-
Cabai Rawit Merah: Rp65.000/kg
-
Cabai Rawit Hijau: Rp48.700/kg
-
Cabai Merah Besar: Rp48.600/kg
Di sisi lain, harga protein hewani seperti daging sapi kualitas I masih tertahan di angka Rp147.650 per kg, di susul daging ayam ras yang di patok Rp39.400 per kg.
Efek Domino Kelangkaan Plastik: Beras Terkerek Rp300
Bukan hanya faktor cuaca atau distribusi, kenaikan harga pangan kali ini juga di picu oleh mahalnya biaya kemasan. Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengonfirmasi bahwa kelangkaan bahan baku plastik menambah beban produksi.
“Di beras itu, hampir sekitar Rp300 per kilogram dampaknya. Tapi di gula, sedikit sekitar Rp100 hingga Rp150. Itu pun masih hitungan kasar,” ujar Astawa dalam keterangan resminya.
Kelangkaan ini memaksa pemerintah berkoordinasi ketat dengan pelaku usaha beras dan gula untuk mencari alternatif pasokan agar kenaikan tidak langsung menghantam daya beli masyarakat secara drastis.
Menperin Pantau Selat Hormuz: Logistik Membengkak 3 Kali Lipat
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti bahwa ketegangan geopolitik di Selat Hormuz menjadi biang keladi distorsi harga plastik nasional. Meskipun stok dipastikan “seharusnya” aman, namun waktu pengiriman bahan baku membengkak dari 15 hari menjadi 50 hari.
“Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi akibat kenaikan biaya logistik dan freight pelabuhan,” jelas Agus Gumiwang.
Pemerintah menjanjikan pemantauan ketat agar kesinambungan suplai plastik, terutama bagi industri kecil, tetap terjaga di tengah ketidakpastian global ini. Bagi konsumen, ini adalah sinyal untuk lebih bijak dalam mengatur belanja bulanan mengingat tekanan harga kemungkinan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. ***






