Berito.id – Kondisi dapur rumah tangga di akhir pekan ini masih menghadapi tekanan harga pada sejumlah komoditas inti. Berdasarkan data terbaru Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pada Minggu (26/4/2026) pukul 10.00 WIB, fluktuasi harga terlihat jelas pada kelompok sayuran dan protein hewani.
Cabai rawit merah menjadi komoditas paling “pedas” bagi kantong konsumen dengan harga menembus Rp64.050 per kilogram (kg). Lonjakan ini di ikuti oleh cabai rawit hijau yang bertengger di angka Rp49.000 per kg. Sementara itu, untuk bumbu dapur lainnya, bawang merah dibanderol Rp46.100 per kg dan bawang putih di patok Rp39.700 per kg.
Rincian Harga Beras dan Daging
Kelompok beras, sebagai komoditas paling krusial, menunjukkan variasi harga yang stabil namun berada di level tinggi. Beras kualitas super I kini menyentuh Rp17.350 per kg, sedangkan kualitas medium I berada di angka Rp16.100 per kg. Bagi konsumen yang mencari opsi lebih terjangkau, beras kualitas bawah II tersedia di kisaran Rp14.550 per kg.
Di sektor protein, harga telur ayam ras masih tertahan di angka Rp31.950 per kg. Untuk daging sapi kualitas I, konsumen harus merogoh kocek hingga Rp148.150 per kg, sementara daging ayam ras berada di posisi Rp39.200 per kg.
Angin Segar dari Tren Harga Minyakita
Kabar baik datang dari minyak goreng program pemerintah, Minyakita. Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan tren penurunan harga yang mulai mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET). Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengonfirmasi pergeseran angka ini.
“Sebenarnya bukan naik, sudah mulai turun kalau Minyakita ya. Dari Rp17 ribu ke Rp16 ribu,” ujar Ketut saat memberikan keterangan resmi. Data Bapanas mencatat rata-rata harga nasional kini berada di Rp16.824 per liter, menyusut tipis dari periode sebelumnya.
Upaya Memangkas ‘Jaring’ Distribusi
Masalah klasik distribusi masih menjadi ganjalan utama dalam menstabilkan harga di tingkat pengecer. Jalur distribusi yang terlalu panjang dari produsen ke pasar membuat harga seringkali melambung sebelum sampai ke tangan konsumen.
Bapanas kini mendorong skema baru agar Perum Bulog dan ID Food mendapatkan alokasi 60 persen Domestic Market Obligation (DMO). Langkah ini diharapkan dapat memperpendek rantai pasok.
“Harusnya kan langsung ke pengecer. Jika Bulog atau ID Food memperoleh 60 persen DMO, pemantauan akan jauh lebih mudah,” pungkas Ketut. Pengawasan ketat terus dilakukan guna memastikan stabilitas harga pangan tidak semakin menjauh dari daya beli masyarakat di tengah dinamika pasar global.
Tips Belanja Bijak: Untuk mendapatkan harga terbaik, konsumen disarankan melakukan pengecekan berkala melalui portal PIHPS secara real-time sebelum berangkat ke pasar, mengingat fluktuasi harga di tingkat pedagang eceran bisa sangat dinamis antar wilayah. ***






