Berito.id – Layar monitor perdagangan valuta asing memerah pagi ini. Nilai tukar rupiah merosot tajam hingga menembus level psikologis Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4/2026). Angka ini mencerminkan tekanan berat yang menghantam pasar keuangan domestik akibat sengatan ketidakpastian global.
Data Trading Economics menunjukkan mata uang Garuda sempat terkapar di level Rp 17.300 pada pukul 09.00 WIB, sebelum sedikit tertahan di kisaran Rp 17.295 menjelang siang. Pelemahan sebesar 108 poin atau 0,63 persen ini memaksa otoritas moneter bergerak lebih lincah di pasar.
Respons Cepat Bank Indonesia
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengakui bahwa guncangan hari ini tidak lepas dari tren regional yang ikut terpuruk. Ketidakpastian global menjadi motor utama yang menekan mata uang di kawasan Asia.
“Tekanan terhadap rupiah hari ini di pengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional,” ujar Destry Kamis (23/4/2026).
Meski tampak mengkhawatirkan, BI mencatat pelemahan rupiah secara year-to-date berada di angka 3,54 persen. Destry menilai angka ini masih dalam batas wajar jika di komparasi dengan negara-negara tetangga yang mengalami nasib serupa akibat dominasi Greenback.
Strategi Intervensi di Berbagai Lini
Bank Indonesia tidak tinggal diam melihat volatilitas yang tinggi. Langkah stabilisasi kini di tingkatkan intensitasnya. Intervensi di lakukan secara berlapis, mulai dari pasar offshore hingga domestik.
“Langkah stabilisasi di lakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder,” tegas Destry.
BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter. Tujuannya jelas: menjaga daya tarik aset dalam negeri agar investor tidak kabur ke luar negeri, terutama saat konflik di Timur Tengah masih membayangi stabilitas finansial dunia.
Fondasi Cadangan Devisa Masih Kokoh
Di tengah gempuran faktor eksternal, Indonesia masih memiliki bantalan ekonomi yang cukup tebal. Posisi cadangan devisa (CadeV) per akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD 148,2 miliar.
Angka jumbo tersebut menjadi modal utama BI untuk menjaga kepercayaan pasar dan memastikan stabilitas eksternal tetap terjaga. BI memastikan akan selalu hadir di pasar untuk mengambil langkah terukur guna membendung pelemahan lebih dalam. Kondisi fundamental ini diharapkan mampu meredam kepanikan pelaku pasar di tengah fluktuasi nilai tukar yang kian dinamis. ***






