Tanpa Ribet, Strategi 90/10 Warren Buffett Bongkar Mitos Investasi Harus Rumit

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 19 April 2026 - 18:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tanpa Ribet, Strategi 90/10 Warren Buffett Bongkar Mitos Investasi Harus Rumit (Foto: AI)

Tanpa Ribet, Strategi 90/10 Warren Buffett Bongkar Mitos Investasi Harus Rumit (Foto: AI)

Berito.id – Investasi seringkali di anggap sebagai labirin yang hanya bisa di taklukkan oleh mereka yang punya layar monitor berderet. Namun, Warren Buffett justru menghancurkan stigma itu. Pria berjuluk Oracle of Omaha ini menawarkan jalan pintas yang sangat radikal karena kesederhanaannya: Metode 90/10.

Strategi ini bukan sekadar teori. Buffett begitu meyakini efektivitasnya hingga ia menginstruksikan skema serupa untuk pengelolaan dana warisan istrinya. Pesannya jelas, Anda tidak perlu menjadi jenius matematika untuk menang di pasar modal.

Membedah Formula 90/10

Secara teknis, metode ini membagi modal ke dalam dua keranjang yang sangat kontras. Buffett menyarankan investor untuk menaruh 90 persen dana pada reksa dana indeks saham berbiaya rendah (seperti S&P 500 jika di AS, atau indeks likuid di pasar lokal). Sementara 10 persen sisanya di tempatkan pada obligasi pemerintah jangka pendek.

Logikanya sederhana. Keranjang 90 persen bertugas mengejar pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Sedangkan keranjang 10 persen berfungsi sebagai “ban serep” atau bantalan likuiditas saat pasar saham sedang mengalami guncangan hebat.

Baca Juga :  Eropa Siapkan Amunisi Geser Dominasi Visa-Mastercard

Mengapa Harus Reksa Dana Indeks?

Buffett punya alasan kuat mengapa ia antipati terhadap pemilihan saham individual bagi orang awam. Mayoritas investor ritel dianggap tidak memiliki keahlian atau waktu untuk memantau laporan keuangan setiap hari.

Dengan memilih reksa dana indeks, investor secara otomatis “memiliki” ratusan perusahaan terbaik tanpa risiko bangkrutnya satu perusahaan menghancurkan seluruh portofolio. Keunggulan lainnya adalah biaya. Buffett berkali-kali menyentil manajer investasi aktif yang memungut biaya tinggi namun kinerjanya seringkali kalah dari indeks pasar.

Jebakan Psikologis di Balik Kesederhanaan

Meski terlihat mudah di atas kertas, metode ini menuntut disiplin baja. Tantangan terbesarnya bukan pada teknis pembelian, melainkan pada pengendalian emosi. Saat pasar memerah, banyak investor panik dan menjual asetnya.

Strategi 90/10 hanya akan bekerja jika investor mampu menahan diri dari godaan trading harian. Kekuatan utama metode ini terletak pada efek compounding atau bunga berbunga yang membutuhkan waktu tahunan, bahkan dekade.

Baca Juga :  Pi Network Rilis Versi Perdana Pi Launchpad, Begini Cara Kerjanya untuk Pioneer

Siapa yang Cocok Menggunakan Strategi Ini?

Metode ini sangat agresif karena porsi saham yang mendominasi hingga 90 persen. Oleh karena itu, strategi ini sangat ideal bagi:

  • Investor muda dengan jangka waktu investasi lebih dari 10 tahun.

  • Pekerja sibuk yang tidak sempat memantau pergerakan grafik setiap jam.

  • Mereka yang ingin meminimalisir biaya transaksi dan pajak.

Sebaliknya, bagi Anda yang sudah mendekati masa pensiun atau memiliki profil risiko konservatif, porsi 90 persen saham mungkin terlalu berisiko. Penyesuaian porsi obligasi yang lebih besar bisa menjadi pilihan untuk menjaga stabilitas mental dan finansial.

Tips Implementasi untuk Investor Lokal

Jika ingin menerapkan prinsip ini di Indonesia, Anda bisa mencari produk Reksa Dana Indeks (Index Fund) yang mereplikasi indeks seperti IDX30 atau LQ45 yang memiliki biaya manajemen (expense ratio) rendah. Untuk porsi 10 persen, Surat Berharga Negara (SBN) ritel atau reksa dana pasar uang bisa menjadi alternatif obligasi pemerintah jangka pendek yang likuid dan aman. ***

Berita Terkait

OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger
Harga Emas Pekan Depan Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS
Harga Minyak Dunia Sentuh US$100, Prabowo Minta Simulasi APBN
Bank Mandiri Catat Laba Naik 25 Persen, Kredit dan Aset Makin Kuat
BI Pertahankan BI Rate 5,75 Persen, Ekonom Soroti Stabilnya Rupiah
Update Harga Emas Antam 22 Juli 2026, Turun Rp9.000
B50 Ditargetkan Tersedia di Seluruh SPBU Mulai 1 Oktober 2026
Pemerintah Perkuat Program SPHP Beras Hadapi Ancaman El Nino Ekstrem
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:00 WIB

Harga Emas Pekan Depan Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:00 WIB

Harga Minyak Dunia Sentuh US$100, Prabowo Minta Simulasi APBN

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:00 WIB

Bank Mandiri Catat Laba Naik 25 Persen, Kredit dan Aset Makin Kuat

Kamis, 23 Juli 2026 - 09:00 WIB

BI Pertahankan BI Rate 5,75 Persen, Ekonom Soroti Stabilnya Rupiah

Berita Terbaru

OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger(Foto: OJK
/AI)

Finansial

OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger

Senin, 27 Jul 2026 - 11:00 WIB

Beasiswa BPDDI 2026 untuk Dosen Resmi Dibuka
(Foto: kemdiktisaintek/AI)

Nasional

Beasiswa BPDDI 2026 untuk Dosen Resmi Dibuka

Senin, 27 Jul 2026 - 09:00 WIB

IPDN Luluskan 1.404 Mahasiswa, Tito Tekankan Ilmu Pemerintahan
(Foto: KOMPAS/Fristin Intan Sulistyowati
/AI)

Nasional

IPDN Luluskan 1.404 Mahasiswa, Tito Tekankan Ilmu Pemerintahan

Minggu, 26 Jul 2026 - 22:33 WIB

Google Buka Akses Gemini Spark untuk AI Ultra USD100
(Foto: Google/liputan6
/AI)

Teknologi

Google Buka Akses Gemini Spark untuk AI Ultra USD100

Minggu, 26 Jul 2026 - 20:00 WIB