Berito.id – Harapan publik akan stabilnya pasokan energi dunia kembali pupus. Putaran kedua negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran berakhir buntu pada Senin (27/4/2026). Kegagalan ini langsung di respons pasar dengan lonjakan harga si “emas hitam”.
Minyak Brent yang menjadi barometer internasional meroket hampir 3 persen ke level USD 108,23 per barel. Seirama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga terkerek naik 2 persen menuju angka USD 96,37. Ketidakpastian di Selat Hormuz menjadi motor utama penggerak harga hari ini.
Ramalan Ngeri USD 150 per Barel
Pasar minyak kini ibarat bom waktu yang terus berdetak. Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas di bank Belanda ING, menilai gagalnya pembicaraan damai menghapus harapan pemulihan aliran energi dalam waktu dekat.
“Kurangnya kemajuan berarti pasar semakin ketat setiap hari. Harga minyak perlu menyesuaikan ke level yang lebih tinggi,” tulis Patterson dalam catatan risetnya.
Guncangan lebih keras di prediksi oleh Citigroup. Analis bank raksasa tersebut melempar skenario ekstrem: jika gangguan pasokan ini berlanjut hingga akhir Juni, harga Brent berpotensi melonjak hingga USD 150 per barel. Angka ini akan menjadi rekor yang mengancam inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Goldman Sachs pun merevisi proyeksinya. Mereka kini mematok rata-rata harga Brent di kuartal keempat pada angka USD 90 per barel, naik signifikan dari perkiraan awal sebesar USD 80.
Sentimen Keras Donald Trump
Ketegangan mencapai puncaknya setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mendadak membatalkan pengiriman utusan khususnya ke Islamabad, Pakistan. Rencana pertemuan diplomatik yang semula di harapkan menjadi titik balik justru berantakan.
Melalui media sosial Truth Social, Trump melontarkan pernyataan keras yang menutup pintu diplomasi formal untuk sementara. Ia menuding kepemimpinan Iran sedang dalam kondisi kacau dan tidak terorganisir.
“Kami memegang semua kartu; mereka tidak punya! Jika mereka ingin berbicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!” tulis Trump dengan nada provokatif.
Sikap konfrontatif ini langsung ditepis oleh Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan tidak ada rencana pertemuan apa pun antara kedua belah pihak dalam waktu dekat.
Dampak bagi Konsumen
Bagi masyarakat luas, kenaikan harga minyak mentah di atas USD 100 per barel adalah sinyal bahaya bagi beban subsidi energi dan harga BBM di dalam negeri. Dengan ancaman harga tembus USD 150, volatilitas pasar diprediksi akan tetap tinggi sepanjang Mei hingga Juni 2026. Dunia kini hanya bisa menunggu apakah ada pihak yang bersedia “mengangkat telepon” untuk mendinginkan tensi di jalur perdagangan tersibuk dunia tersebut. ***






