Berito.id – Jika hiruk-pikuk kota mulai terasa menyesakkan, sejenak arahkan kendaraan Anda menuju Desa Renah Kayu Embun (RKE). Di ketinggian Kecamatan Kumun Debai, terdapat sebuah permata tersembunyi bernama Bahung Basilo. Destinasi ini menawarkan kemewahan yang sulit di temukan di kota besar: udara murni tanpa polusi, suara aliran sungai, dan kehangatan tradisi lokal yang menyentuh hati.
Berjarak sekitar 13 kilometer atau 45 menit perjalanan dari pusat Kota Sungai Penuh, perjalanan menuju lokasi ini akan membawa Anda membelah perbukitan yang asri. Nama Bahung Basilo sendiri merujuk pada kearifan lokal. Dalam bahasa Kerinci, “Bahung” berarti gubuk bambu, sementara “Basilo” berarti duduk bersila. Sebuah undangan terbuka bagi siapa pun untuk duduk santai dan melepaskan penat.
Harmoni Alam dan Edukasi di Kebun Kopi
Begitu menjejakkan kaki di area wisata, hijaunya hamparan perkebunan langsung menyapa mata. Berbeda dengan tempat wisata komersial pada umumnya, Bahung Basilo mengusung konsep agrowisata terpadu. Anda tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan ekosistem pertanian setempat.
Para petani lokal di sini sangat terbuka membagikan ilmu mereka. Pengunjung bisa belajar cara merawat pohon kopi Robusta yang legendaris, mengenali pohon kulit manis (cinnamon), hingga melihat langsung berbagai tanaman rempah. Pengalaman edukatif ini menjadikan Bahung Basilo pilihan tepat bagi keluarga yang ingin mengenalkan dunia agraris kepada anak-anak sejak dini.
Sensasi “Cibur” di Air Pegunungan yang Jernih
Magnet utama tempat ini adalah aliran sungainya yang dangkal dan sangat jernih. Airnya berasal langsung dari mata air pegunungan, memberikan sensasi dingin yang menyegarkan tubuh. Warga lokal menyebut aktivitas berendam santai di sini dengan istilah “cibur”.
Kejernihan airnya bahkan menggoda banyak wisatawan untuk membawanya pulang dalam kemasan botol. Selain aman untuk bermain air bagi anak-anak, Anda juga bisa mencoba aktivitas memancing di spot-spot khusus yang telah disiapkan oleh pengelola.
“Bahung Basilo adalah ruang belajar tentang hidup harmonis dengan alam. Pengunjung ikut serta dalam pelestarian lingkungan melalui keterlibatan aktif masyarakat sekitar,” ungkap pengelola dalam narasinya mengenai destinasi berbasis komunitas ini.
Mencicipi Kopi Kamo dan Fasilitas Pengunjung
Lelah bermain air, saatnya bersantai di saung bambu sambil menikmati kuliner khas. Jangan lewatkan kesempatan mencicipi minuman dari daun kamo, herbal tradisional yang disajikan unik menggunakan tempurung kelapa. Wangi kopi lokal yang diseduh secara tradisional juga siap menemani momen santai Anda di tepi sungai.
Untuk kenyamanan pengunjung, pengelola telah menyediakan fasilitas yang cukup mumpuni:
-
Tiket Masuk: Rp 10.000 per orang.
-
Fasilitas: Area parkir (motor & mobil), toilet, musala, dan gazebo bambu.
-
Jam Operasional: 10.00 – 17.00 WIB (hari kerja) dan 08.00 – 17.00 WIB (akhir pekan).
Tips Penting Sebelum Berkunjung:
Agar agenda healing Anda berjalan lancar, perhatikan beberapa hal berikut:
-
Gunakan Kendaraan Prima: Jalur menuju lokasi memiliki beberapa tanjakan curam, terutama setelah melewati area Bukit Khayangan.
-
Bawa Baju Ganti: Sangat di sayangkan jika Anda sampai di sini tanpa merasakan kesegaran air sungainya.
-
Pakaian Hangat & Alas Kaki: Suhu di Renah Kayu Embun cukup dingin, dan area sekitar sungai mungkin sedikit licin.
-
Jaga Kebersihan: Sebagai ekowisata, pengunjung sangat di wajibkan membawa pulang sampah mereka masing-masing demi menjaga kelestarian mata air.
Bahung Basilo bukan sekadar tempat berfoto, melainkan ruang refleksi untuk kembali menghargai alam. Dengan dukungan penuh dari komunitas lokal, destinasi ini menjadi bukti bahwa wisata dan pelestarian budaya bisa berjalan beriringan. (Nd)






