Berito.id – Pernahkah Anda merasa cemas saat melihat unggahan teman yang sedang berlibur, atau merasa tertinggal karena belum mencoba kafe yang sedang viral? Tekanan untuk selalu “ada” dan “tahu” segalanya ini sering kita kenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out). Namun, belakangan ini muncul gerakan tandingan yang justru mengajak kita untuk menarik diri sejenak: JOMO atau Joy of Missing Out.
JOMO bukan sekadar tren antisosial. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap kelelahan digital. Alih-alih merasa takut ketinggalan, JOMO merayakan keputusan untuk absen dari keriuhan demi memprioritaskan kesejahteraan diri sendiri.
Mengapa FOMO Melelahkan Secara Mental?
FOMO bekerja dengan memicu rasa tidak aman. Setiap kali kita menggulir lini masa, otak secara tidak sadar membandingkan sisi paling membosankan dari hidup kita dengan sisi paling gemilang dari hidup orang lain. Dampaknya? Kelelahan kronis, kecemasan, hingga gangguan tidur.
Psikolog sering menyebut bahwa keinginan untuk terus terkoneksi justru membuat kita terputus dari realita di depan mata. Kita sibuk memotret makanan agar terlihat estetis, namun lupa menikmati rasa masakannya.
JOMO: Seni Menikmati “Ketinggalan”
Berbeda dengan FOMO yang didorong oleh rasa takut, JOMO berakar pada rasa syukur dan kendali penuh atas waktu. Berikut adalah alasan mengapa memilih JOMO bisa membuat hidup Anda jauh lebih berkualitas:
1. Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas
Saat mempraktikkan JOMO, Anda tidak lagi mengejar setiap tren. Anda memilih kegiatan yang benar-benar memberikan nilai tambah bagi diri sendiri, baik itu membaca buku tanpa gangguan notifikasi atau sekadar duduk santai di teras rumah.
2. Mengurangi Kebisingan Mental
Media sosial adalah tempat perebutan atensi yang sangat intens. Dengan sengaja “ketinggalan” berita viral yang tidak relevan, Anda memberikan ruang bagi otak untuk beristirahat dan berpikir lebih jernih.
3. Mempererat Hubungan Nyata
Tanpa gangguan ponsel, interaksi dengan orang-orang terdekat menjadi lebih bermakna. Anda hadir sepenuhnya (fully present) saat berbicara dengan pasangan, anak, atau sahabat.
Cara Mulai Mempraktikkan JOMO Hari Ini
Beralih dari kebiasaan FOMO memang tidak mudah, namun bisa dimulai dengan langkah kecil yang konsisten:
-
Matikan Notifikasi Non-Esensial: Jangan biarkan ponsel mengatur kapan Anda harus menoleh padanya. Atur waktu khusus untuk mengecek media sosial.
-
Belajar Mengatakan “Tidak”: Anda tidak wajib menghadiri setiap undangan atau mengikuti setiap diskusi di grup WhatsApp. Pilih yang benar-benar ingin Anda lakukan.
-
Hargai Waktu Luang: Jangan merasa bersalah jika tidak melakukan apa-apa. “Gabut” berkualitas adalah kemewahan di era digital saat ini.
Memilih JOMO berarti memahami bahwa Anda tidak perlu melihat dunia untuk merasakan kebahagiaan. Terkadang, kebahagiaan justru muncul saat Anda berani menutup layar dan mulai melihat ke dalam diri sendiri. (Nd)






