Berito.id – Administrator NASA, Jared Isaacman, secara resmi mengumumkan perubahan arah kebijakan serta restrukturisasi organisasi internal lembaga antariksa tersebut. Langkah strategis ini sebagai upaya nyata untuk mempercepat eksplorasi luar angkasa, menyusul kesuksesan besar yang di raih dalam misi Artemis II.
Isaacman menegaskan bahwa Program Artemis akan terus berjalan dengan fokus utama membawa kembali manusia mendarat di Bulan. NASA mematok target jangka panjang yang lebih ambisius, yakni membangun eksistensi manusia secara berkelanjutan lewat proyek pangkalan Bulan (Moon Base).
Fokus pada Teknologi Baru dan Energi Nuklir
Peta jalan eksplorasi ini di rancang secara bertahap dengan memanfaatkan inovasi teknologi mutakhir serta memperkuat sinergi internasional. Fondasi kuat tersebut nantinya akan menjadi batu pijakan utama bagi umat manusia sebelum melangsungkan misi berawak menuju Mars.
Salah satu terobosan teknologi oleh NASA adalah pemanfaatan energi nuklir di antariksa, yan di kelola langsung di bawah Space Reactor Office.
Sistem berbasis nuklir ini di proyeksikan menjadi kunci krusial dalam menyokong kebutuhan operasional jangka panjang, baik untuk pangkalan di permukaan Bulan maupun penjelajahan yang lebih jauh ke sistem tata surya.
Penyederhanaan Struktur Organisasi
Guna menyelaraskan kinerja dengan target-target besar tersebut, NASA melakukan reformasi birokrasi agar organisasi menjadi lebih adaptif dan fokus pada misi. Perubahan mendasar terlihat dari penggabungan beberapa divisi penting, antara lain:
-
Human Spaceflight Mission Directorate (HSMD): Divisi baru hasil peleburan dari divisi eksplorasi dan divisi operasi antariksa.
-
Research and Technology Mission Directorate (RTMD): Divisi baru yang menyatukan divisi riset aeronautika dan divisi teknologi ruang angkasa. Sektor ini akan fokus pada penciptaan teknologi mutakhir, termasuk sistem komunikasi modern dan propulsi canggih.
Optimasi Tanpa PHK
Meskipun melangsungkan perombakan internal yang cukup masif, manajemen NASA memastikan bahwa kebijakan ini tidak akan berdampak pada pengurangan karyawan (PHK), pembatalan program kerja, ataupun penutupan fasilitas operasional.
Sebaliknya, langkah ini di ambil untuk memaksimalkan efisiensi sumber daya yang ada, memperkokoh kompetensi utama lembaga, serta memperluas kemitraan strategis dengan sektor komersial maupun sekutu internasional. (Aat/*)






