Berito.id – Laporan terbaru Forbes per April 2026 menempatkan Rupiah Indonesia di posisi kelima sebagai mata uang dengan nilai terlemah di dunia. Nilai tukar Rupiah sempat menyentuh angka psikologis baru di level Rp17.300 per dollar AS pada Kamis (23/4/2026), memicu kekhawatiran di pasar domestik.
Meski Indonesia memiliki output ekonomi terbesar di Asia Tenggara, kombinasi inflasi yang persisten dan bayang-bayang resesi global menjadi beban berat bagi nilai tukar. Namun, Indonesia tidak sendirian dalam pusaran devaluasi ini.
Daftar 10 Mata Uang dengan Nilai Terendah
Forbes menyusun daftar ini berdasarkan nilai tukar terhadap dollar AS per 7 April 2026. Berikut urutannya:
-
Rial Iran (IRR): Masih menjadi yang terburuk di dunia. Sanksi ekonomi yang tak kunjung usai membuat 1 dollar AS setara dengan lebih dari 1,3 juta Rial.
-
Pound Lebanon (LBP): Terjebak dalam krisis perbankan dan instabilitas politik menahun.
-
Dong Vietnam (VND): Tertekan akibat kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang menyedot likuiditas dari pasar berkembang.
-
Kip Laos (LAK): Terbebani utang luar negeri yang menumpuk dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
-
Rupiah Indonesia (IDR): Menempati posisi kelima dengan volatilitas tinggi yang sempat membawa kurs ke angka Rp17.000 – Rp17.300 pekan ini.
Melengkapi daftar tersebut, posisi keenam hingga sepuluh di isi oleh Som Uzbekistan (UZS), Franc Guinea (GNF), Franc Burundi (BIF), Ariary Malagasy (MGA), dan Guarani Paraguay (PYG).
Menkeu: “Ini Bukan Pemburukan Ekonomi Domestik”
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung bereaksi terhadap laporan ini. Dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026), ia menegaskan bahwa merosotnya nilai tukar rupiah lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal dan “noise” di pasar global, bukan karena keroposnya struktur ekonomi nasional.
“Pondasi ekonomi kita tidak berubah, bahkan cenderung semakin cepat. Dibanding negara lain di kawasan, kita masih sangat kuat,” tegas Purbaya.
Pemerintah kini fokus menutup celah kebocoran pajak dan merapikan kebijakan yang selama ini memicu ketidakpastian bagi investor. Purbaya juga membantah adanya intervensi sengaja untuk melemahkan rupiah demi daya saing ekspor. Menurutnya, pergerakan ini murni dinamika pasar yang dipengaruhi ekspektasi global yang berlebihan.
Mengapa Ini Berdampak pada Anda?
Pelemahan mata uang seringkali diikuti oleh kenaikan harga barang impor (imported inflation). Bagi pelaku usaha, kenaikan kurs dollar AS meningkatkan biaya bahan baku. Sementara bagi masyarakat umum, ini adalah sinyal untuk lebih bijak dalam mengelola aset dan memantau instrumen investasi yang tahan terhadap fluktuasi valuta asing. ***






