AESI Dorong Industri Ekspor Beralih ke Energi Surya

Perusahaan yang lebih cepat beralih ke energi bersih dinilai lebih siap menghadapi tuntutan pasar global dan regulasi karbon

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 14 Juni 2026 - 09:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

AESI Dorong Industri Ekspor Beralih ke Energi Surya(Foto: Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari/listrik
indonesia)

AESI Dorong Industri Ekspor Beralih ke Energi Surya(Foto: Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari/listrik indonesia)

Berito.id – Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menilai energi surya kini menjadi kebutuhan strategis bagi industri yang berorientasi ekspor. Meningkatnya permintaan pasar global terhadap produk rendah karbon membuat perusahaan perlu mempercepat penggunaan energi bersih. AESI meyakini perusahaan yang lebih cepat mengadopsi energi terbarukan akan memiliki posisi yang lebih kuat untuk mempertahankan akses ke pasar internasional sekaligus meningkatkan daya saing bisnis.

Ketua AESI, Mada Ayu Habsari, mengatakan periode 2026 hingga 2028 menjadi fase penting bagi percepatan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sektor industri. Menurutnya, kombinasi kebijakan pemerintah, kebutuhan industri yang terus meningkat, dan tuntutan pasar global semakin memperkuat peran energi surya dalam dunia usaha.

“Adopsi energi surya di sektor industri terus menunjukkan tren positif. Saat ini, sebagian besar kapasitas PLTS atap nasional di manfaatkan oleh sektor industri. Namun, jika di bandingkan dengan potensi energi surya Indonesia yang sangat besar, tingkat pemanfaatannya masih belum mencapai satu persen,” ujar Mada dalam Green Energy Solutions Forum for Manufacture Owners di Bandung, Rabu (10/6/2026).

Industri Manufaktur Menjadi Pengguna Terbesar PLTS Atap

Mada menjelaskan bahwa sektor manufaktur saat ini menjadi pengguna terbesar PLTS atap di Indonesia. Meski demikian, peluang pertumbuhan masih sangat luas karena sebagian besar potensi energi surya nasional belum di manfaatkan secara optimal.

Baca Juga :  CurseForge Ekspansi ke Minecraft Bedrock, Ribuan Addon Kini Gratis Tanpa Minecoins

AESI mencatat ada empat faktor utama yang mendorong percepatan penggunaan energi surya. Faktor tersebut meliputi ketersediaan kuota PLTS yang masih terbuka, meningkatnya permintaan dari sektor industri, dukungan regulasi pemerintah, serta tekanan pasar global terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan. Menurut Mada, perusahaan yang mengambil langkah lebih awal akan memperoleh keuntungan kompetitif yang lebih besar di bandingkan para pesaingnya.

Regulasi Karbon Uni Eropa Tingkatkan Urgensi Transisi Energi

AESI juga menyoroti penerapan penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) oleh Uni Eropa sejak awal 2026. Kebijakan tersebut semakin memperkuat kebutuhan industri untuk menggunakan energi bersih.

Selain itu, tuntutan transparansi jejak karbon dalam rantai pasok global membuat banyak perusahaan harus mempercepat strategi dekarbonisasi agar tetap kompetitif di pasar internasional.

Energi Hijau Menjadi Strategi Bisnis Industri

Dalam forum yang sama, CEO Trivigo, Kunadi Setiadi, mengatakan energi kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing industri manufaktur. Menurut Kunadi, tingginya biaya energi serta tuntutan pasar internasional membuat perusahaan perlu memandang energi hijau sebagai bagian penting dari strategi bisnis, bukan sekadar inisiatif lingkungan.

Baca Juga :  Gencatan Senjata AS-Iran Goyah, Bursa Asia Pasifik Bergerak "Campur Aduk"

Ia menilai saat ini terdapat momentum yang sangat mendukung percepatan transisi energi. Regulasi semakin terbuka, harga teknologi panel surya semakin terjangkau, dan perhatian pasar global terhadap jejak karbon produk terus meningkat. “Ada tiga faktor yang jarang bergerak bersamaan, namun saat ini semuanya terjadi sekaligus. Regulasi semakin mendukung, harga teknologi semakin kompetitif, dan tekanan pasar global terhadap emisi karbon semakin nyata,” kata Kunadi.

Efisiensi Biaya Jadi Alasan Utama Investasi PLTS

Kunadi menambahkan bahwa biaya listrik masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya produksi berbagai sektor industri. Pada industri tekstil, misalnya, porsi biaya energi dapat mencapai 15 hingga 25 persen dari total biaya produksi.

Karena itu, investasi pada energi surya kini tidak hanya berkaitan dengan upaya menjaga lingkungan. Langkah tersebut juga menjadi strategi untuk meningkatkan efisiensi biaya sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.

Menurutnya, dalam tiga hingga lima tahun mendatang, energi surya akan menjadi standar baru di sektor industri. Penggunaannya tidak lagi dianggap sebagai nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar.

Ia menegaskan, perusahaan yang lebih cepat mengadopsi energi surya akan memperoleh keunggulan kompetitif. Sebaliknya, perusahaan yang terlambat akan lebih sulit mengejar ketertinggalan.

(A/*)

Berita Terkait

Purbaya: Modal Koperasi Merah Putih Rp 3 Miliar untuk Gerai dan Operasional
Update Harga Emas 24 Karat 16 Juli 2026, Cek Antam hingga Pegadaian
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20.000, Buyback Anjlok Rp42.000
KUR Juli 2026 Tembus Rp159,8 Triliun, Disalurkan ke 2,5 Juta UMKM
Harga Emas Antam Hari Ini Tak Berubah, Cek Daftar Terbaru
Promo Transmart Full Day Sale 12 Juli 2026, Diskon Besar untuk Elektronik
Harga BBM Pertamina Juli 2026 Resmi Turun, Cek Tarif Terbaru
Google Gabungkan AI Search dan YouTube untuk Bisnis Online
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:00 WIB

Purbaya: Modal Koperasi Merah Putih Rp 3 Miliar untuk Gerai dan Operasional

Kamis, 16 Juli 2026 - 09:00 WIB

Update Harga Emas 24 Karat 16 Juli 2026, Cek Antam hingga Pegadaian

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:00 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20.000, Buyback Anjlok Rp42.000

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:00 WIB

KUR Juli 2026 Tembus Rp159,8 Triliun, Disalurkan ke 2,5 Juta UMKM

Senin, 13 Juli 2026 - 09:00 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Tak Berubah, Cek Daftar Terbaru

Berita Terbaru

5 Wisata Kerinci Paling Populer di Jambi(Foto: AI)

Wisata

5 Wisata Kerinci Paling Populer di Jambi

Jumat, 17 Jul 2026 - 17:00 WIB

Tren Kucing Munchkin Makin Populer di Kalangan Cat Lovers(Foto: AI)

Lifestyle

Tren Kucing Munchkin Makin Populer di Kalangan Cat Lovers

Jumat, 17 Jul 2026 - 13:00 WIB