Berito.id – Harga Bitcoin (BTC) saat ini berada di kisaran US$63.692. Angka tersebut menunjukkan penurunan lebih dari 50 persen di bandingkan puncak harga yang tercapai pada Oktober 2025. Meski belum menunjukkan tren bullish yang kuat, peluang pemulihan dalam jangka panjang masih terbuka. Sejumlah faktor fundamental dan teknikal di nilai dapat menjadi penentu arah pergerakan Bitcoin hingga 2027.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa pergerakan Bitcoin pada periode 2026–2027 akan di pengaruhi oleh kondisi makroekonomi global, indikator teknikal, arus dana institusional, serta siklus halving. Menurut dia, level US$60.000 menjadi area support yang sangat penting. Sementara itu, resistance utama berada pada rentang US$72.000 hingga US$75.000.
Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level support tersebut, peluang rebound masih cukup besar. Sebaliknya, apabila harga terus bergerak di bawah US$60.000, tekanan jual berpotensi mendorong BTC ke level yang lebih rendah.
Faktor Makro Masih Menjadi Tantangan
Fyqieh menilai kondisi ekonomi global pada 2026 belum sepenuhnya mendukung aset berisiko seperti Bitcoin. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, serta potensi kenaikan inflasi membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Selain itu, kebijakan suku bunga bank sentral, khususnya The Fed, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar kripto. Bitcoin di kenal sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas global dan arah suku bunga.
Proyeksi terbaru menunjukkan The Fed berpeluang menurunkan suku bunga secara bertahap hingga 2027. Di saat yang sama, inflasi PCE di perkirakan terus melandai. Apabila skenario tersebut terwujud, kondisi pasar pada 2027 berpotensi menjadi lebih kondusif. Likuiditas yang membaik dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Arus Dana ETF Jadi Penentu Penting
Di tengah optimisme jangka panjang, Bitcoin masih menghadapi tekanan dari arus keluar dana ETF spot. Data CoinShares mencatat produk investasi aset digital mengalami outflow sekitar US$1,67 miliar hanya dalam satu pekan pada awal Juni 2026. Sementara itu, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat membukukan arus keluar dana sekitar US$4,4 miliar dalam 13 sesi perdagangan.
Meski demikian, tekanan tersebut belum tentu berlangsung lama. Bitcoin sempat kembali menguat ke atas US$63.000 setelah muncul sinyal masuknya dana baru ke ETF dan meningkatnya aktivitas investor besar.
Proyeksi Harga Bitcoin 2026–2027
Fyqieh memperkirakan 2026 akan menjadi periode konsolidasi bagi Bitcoin. Pada fase ini, pasar berupaya menemukan titik dasar harga atau bottom sebelum memasuki tahap akumulasi. Setelah proses tersebut selesai, peluang pemulihan di perkirakan mulai terlihat pada 2027. Namun, skenario itu tetap bergantung pada sejumlah faktor pendukung.
Beberapa indikator yang perlu di perhatikan antara lain:
- Bitcoin mampu bertahan di atas US$60.000.
- ETF Bitcoin kembali mencatat inflow secara berkelanjutan.
- The Fed mulai menurunkan suku bunga.
- Likuiditas global membaik.
- Minat investor institusional meningkat.
Jika seluruh faktor tersebut terpenuhi, Bitcoin berpotensi bergerak menuju kisaran US$80.000 hingga US$120.000. Sebaliknya, jika tekanan ekonomi global masih tinggi dan dana institusi terus keluar dari pasar kripto, potensi rebound dapat tertunda atau berlangsung lebih lambat dari perkiraan.
Strategi Investasi Bitcoin yang Di sarankan
Fyqieh menyarankan investor untuk menerapkan strategi investasi yang bertahap dan disiplin. Ia menilai pendekatan agresif dengan menempatkan seluruh modal sekaligus masih berisiko dalam kondisi pasar saat ini. Menurutnya, koreksi tajam sepanjang 2026 memang membuka peluang akumulasi. Namun, kondisi tersebut belum bisa di anggap sebagai sinyal pasti bahwa tren bullish telah kembali.
Bagi investor jangka panjang, strategi dollar cost averaging (DCA) menjadi pilihan yang lebih aman. Metode ini memungkinkan investor membeli Bitcoin secara berkala, terutama ketika harga mendekati area support dan sentimen pasar sedang melemah.
Pendekatan tersebut membantu mengurangi risiko salah menentukan waktu masuk pasar. Pasalnya, pergerakan Bitcoin masih di pengaruhi oleh suku bunga, inflasi, arus dana ETF, dan kondisi likuiditas global.
Investor Perlu Menyesuaikan Risiko
Fyqieh menegaskan bahwa investor tetap harus selektif dalam melakukan akumulasi. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$60.000, ETF mulai mencatat inflow, dan The Fed mengadopsi kebijakan yang lebih longgar, maka koreksi saat ini dapat di anggap sebagai fase pembentukan dasar harga sebelum potensi kenaikan pada 2027. Namun, apabila harga terus berada di bawah US$60.000 dan dana institusional masih keluar dari pasar, risiko penurunan lanjutan tetap perlu di waspadai.
Karena itu, ia menyarankan investor membagi modal ke beberapa tahap, menyesuaikan porsi investasi dengan profil risiko, serta menunggu konfirmasi dari indikator teknikal maupun fundamental. Investor konservatif sebaiknya menunggu sinyal pemulihan yang lebih kuat di atas area resistance utama. Sementara itu, investor agresif dapat memanfaatkan fase koreksi secara bertahap, asalkan tetap menerapkan batas risiko yang jelas.
(A/*)






