Berito.id – Pasar modal Indonesia mengawali pekan dengan nafas segar. Setelah sempat babak belur di pekan sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tancap gas ke zona hijau begitu perdagangan dibuka, Senin (27/4/2026).
Data RTI mencatat IHSG bertengger di level 7.217 pada pukul 09.05 WIB. Angka ini mencerminkan kenaikan tajam 87 poin atau sekitar 1,23%. Aktivitas pasar langsung mendidih dengan nilai transaksi menyentuh Rp1,64 triliun dalam sekejap. Sebanyak 391 saham kompak menguat, berbanding terbalik dengan 168 saham yang masih tertahan di zona merah.
Aliran Modal Asing dan Bayang-bayang Rupiah
Meski dibuka ceria, pelaku pasar perlu tetap waspada. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, mengingatkan bahwa IHSG sebenarnya memikul beban berat dari kinerja pekan lalu yang merosot 6,61%.
“Pelemahan rupiah menjadi pemicu aksi profit taking,” ungkap Ratih dalam risetnya pagi ini.
Intervensi pasar terus dipantau setelah kurs rupiah JISDOR terdepresiasi ke posisi Rp17.308 per dolar AS. Tekanan ini sebelumnya menyeret saham-saham Blue Chip hingga indeks LQ45 terkoreksi cukup dalam. Namun, pagi ini gairah beli kembali muncul, didorong oleh sentimen positif dari bursa Asia Pasifik seperti Nikkei dan KOSPI yang bergerak menguat.
Musim Dividen: BNGA hingga ITMG Jadi Incaran
Daya tarik utama perdagangan hari ini terletak pada fase cum date dividen sejumlah emiten kelas berat. Para pemburu yield mulai menyusun posisi untuk menangkap bagi-bagi keuntungan dari perusahaan-perusahaan besar.
Berikut adalah daftar emiten dengan estimasi yield dividen yang menarik perhatian pasar hari ini:
-
BNGA: 8,6%
-
ITMG: 3,7%
-
ADRO: 4,7%
-
ADMR: 2,7%
Selain faktor dividen, pasar kini tengah mencermati agenda rebalancing indeks domestik. Bursa Efek Indonesia dijadwalkan merombak daftar penghuni IDX 30, LQ45, hingga IDX 80 yang efektif berlaku pada 4 Mei mendatang.
Menanti Laporan Keuangan Raksasa Teknologi Dunia
Sentimen dari mancanegara turut memberikan angin segar bagi bursa domestik. Wall Street tercatat menguat terbatas di awal pekan. Investor global kini dalam posisi wait and see menanti rilis kinerja keuangan emiten Big Tech.
Laporan keuangan Alphabet (Google), Microsoft, Amazon, Meta, hingga Apple di jadwalkan meluncur pekan ini. Performa para raksasa teknologi ini seringkali menjadi kompas arah pergerakan pasar saham global, termasuk pengaruhnya ke sektor teknologi di dalam negeri.
Meskipun harga minyak Brent masih bertahan tinggi di level US$106 per barel, arus beli di pasar domestik menunjukkan kepercayaan investor mulai pulih secara perlahan. Fokus utama tetap pada manajemen risiko di tengah fluktuasi kurs yang masih dinamis. ***






