Berito.id – Nama Yenna Yuliana mendadak jadi buah bibir. Bukan karena prestasi di panggung seminar bisnis, melainkan karena angka fantastis Rp2,4 triliun. Melalui PT Yasa Artha Trimanunggal, ia mengamankan proyek raksasa pengadaan 25.000 unit sepeda motor listrik Emmo JVX GT untuk Badan Gizi Nasional (BGN). Satuan harganya menyentuh Rp49,95 juta per unit.
Angka ini memicu kerutan di dahi publik. Siapa sebenarnya sosok yang memegang kendali penuh atas distribusi logistik strategis ini?
Penguasa Mutlak di Balik Data AHU
Yenna bukan sekadar nama di atas kertas. Berdasarkan data Administrasi Hukum Umum (AHU), ia tercatat sebagai beneficial owner. Artinya, ia memegang lebih dari 25% saham dan hak suara. Kekuasaannya absolut: menentukan direksi, mengatur arus kas, hingga memegang kendali atas pembagian laba.
Jejaknya di dunia bisnis meluas cepat. Pada September 2024, ia mencaplok PT Semuwa Aviasi Mandiri. Ambisinya jelas, yakni menguasai jalur logistik wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) dengan armada pesawat CN-212 dan N219 produksi PT Dirgantara Indonesia.
Jejak Bansos dan Vonis Wanprestasi Rp65 Miliar
Namun, kilau proyek triliunan ini di bayangi rekam jejak yang pelik. Nama Yenna pernah masuk dalam berkas penyidikan KPK sebagai saksi kasus dugaan korupsi bansos beras tahun 2020. Meski statusnya tak pernah naik menjadi tersangka, keterlibatannya dalam ekosistem distribusi pangan bersama tokoh-tokoh besar tetap meninggalkan catatan di ingatan publik.
Persoalan hukum terbaru justru datang dari ranah perdata. Pengadilan Negeri Jakarta Barat melalui putusan Nomor 22/Pdt.G/2025/PN Jkt.Brt menyatakan perusahaannya melakukan wanprestasi terhadap PT Pos Indonesia. Hukumannya tidak main-main: kewajiban membayar kerugian materiil sebesar Rp65 miliar.
“Hantu” di Grogol Petamburan
Kontras dengan hiruk pikuk angka triliun di meja kantor, kehidupan personal Yenna justru senyap. Di kawasan Grogol Petamburan, kediamannya berdiri dengan pagar tinggi dan kanopi rapat. Tak ada sapaan hangat di sore hari, apalagi sekadar berbincang dengan tetangga.
“Interaksi langsung hampir tidak pernah terjadi,” ungkap Ketua RT setempat. Komunikasi biasanya tertahan di pintu depan, hanya melalui perantara karyawan. Warga hanya mengenal keberadaannya dari deretan mobil listrik mewah yang sesekali terparkir di area rumah, tanpa pernah melihat siapa pemiliknya.
Sosok yang mampu menggerakkan roda ekonomi logistik nasional ini, ironisnya, tetap menjadi asing di tanah tempatnya memijak. Fenomena “pengusaha bayangan” dalam proyek besar pemerintah kini kembali menjadi diskursus publik: seberapa besar transparansi yang bisa diharapkan dari tangan-tangan tertutup? ***






