Berito.id – Bulan Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk menahan diri, namun data di lapangan justru menunjukkan fenomena yang kontradiktif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat adanya lonjakan penyaluran pinjaman online (pinjol) yang signifikan selama dua tahun terakhir, yakni pada periode Ramadan 2024 dan 2025. Ironisnya, aliran dana segar ini mayoritas mengalir ke sektor konsumtif, bukan untuk modal usaha atau kegiatan produktif lainnya.
Peningkatan kebutuhan menjelang Lebaran mulai dari belanja baju baru, persiapan mudik, hingga tradisi bagi-bagi amplop seringkali membuat masyarakat mengambil jalan pintas melalui aplikasi pinjaman di ponsel pintar mereka.
Fenomena FOMO: Akar Masalah Pinjol di Bulan Suci
Maraknya penggunaan pinjol saat Ramadan tidak lepas dari tekanan sosial. Dosen Ilmu Ekonomi Syariah IPB University, Dr. Ranti Wiliasih, mengamati bahwa masyarakat kini sering terjebak dalam rasa takut tertinggal tren atau yang populer disebut Fear of Missing Out (FOMO). Keinginan untuk meniru gaya hidup orang lain di media sosial kerap memicu keputusan finansial yang impulsif.
“Sebagian besar pinjol digunakan untuk kebutuhan konsumtif, bukan produktif, sehingga berpotensi menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari,” ungkap Dr. Ranti.
Menurutnya, pinjaman untuk urusan konsumtif sebenarnya wajib di hindari. Pengecualian hanya berlaku pada kondisi yang benar-benar darurat. “Kecuali dalam kondisi mendesak seperti kebutuhan medis, musibah, atau bencana,” tegasnya.
Bahaya di Balik Kemudahan Klik Pinjaman
Kemudahan yang di tawarkan aplikasi pinjol seringkali menjadi fatamorgana. Pinjaman yang awalnya di anggap sebagai solusi kilat justru berubah menjadi beban mental dan finansial yang berat. Masalah utama muncul ketika peminjam gagal melunasi utang tepat waktu karena terbentur kebutuhan pokok lainnya.
Dampaknya bisa sangat sistemik. Bunga yang terus membengkak membuat utang sulit di lunasi. Belum lagi risiko penagihan yang tidak beretika. “Proses penagihan yang tidak etis, seperti pencemaran nama baik, penyebaran informasi pribadi, dan teror, dapat terjadi,” tambah Dr. Ranti. Hal ini tentu saja merusak ketenangan batin yang seharusnya dicari selama bulan suci.
Cara Sehat Mengelola Keuangan Jelang Lebaran
Agar tidak terjebak dalam lingkaran setan utang digital, Dr. Ranti menekankan pentingnya kejujuran terhadap kemampuan finansial diri sendiri. Gaya hidup harus disesuaikan dengan isi dompet, bukan di sesuaikan dengan ekspektasi orang lain.
“Jangan malu jika gaya hidup kita berbeda dari orang lain. Justru mestinya malu jika berutang untuk hal-hal tidak penting hanya karena ingin terlihat keren,” pesannya.
Bagi masyarakat yang sudah terlanjur “tercekik” bunga pinjol, Dr. Ranti menyarankan langkah taktis:
-
Cari Pinjaman Talangan Tanpa Bunga: Cobalah mencari bantuan dari kerabat atau lembaga sosial yang menyediakan pinjaman tanpa bunga dengan tenor lebih panjang.
-
Prioritaskan Pelunasan: Gunakan THR atau pendapatan tambahan untuk menutup utang dengan bunga tertinggi terlebih dahulu.
-
Hidup Sesuai Kemampuan: Biasakan diri untuk merasa cukup agar hati lebih tenang dan selalu bersyukur.
Menjaga kesehatan finansial adalah bagian dari ibadah. Dengan keuangan yang sehat, ibadah di bulan Ramadan akan terasa lebih khusyuk tanpa bayang-bayang kejaran penagih utang. (Nd)






