Berito.id – Dunia teknologi kerap kali tidak adil terhadap para pionir. Lima tahun lalu, LG Electronics memutuskan angkat kaki dari hiruk-pikuk industri smartphone. Namun, jika kita melihat kantong atau meja kerja hari ini, bayang-bayang inovasi raksasa Korea Selatan itu sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Banyak fitur yang dahulu di anggap aneh dan “terlalu maju” oleh pasar, justru menjadi fondasi utama bagi tren ponsel lipat dan perangkat flagship saat ini.
Layar Putar dan Mimpi Ponsel yang Bisa Digulung
Keberanian LG mencapai puncaknya saat mereka merilis LG Wing. Dengan layar utama yang bisa berputar membentuk huruf ‘T’, LG menawarkan cara multitasking yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Meski sempat di pandang sebelah mata, konsep penggunaan dua layar secara simultan ini kini menjadi jiwa bagi perangkat foldable modern.
Bukan hanya itu, dunia sempat menaruh harapan besar pada LG Rollable. Teknologi ini menawarkan layar yang bisa melebar tanpa meninggalkan bekas lipatan sebuah solusi elegan untuk masalah “kerutan” yang hingga kini masih menghantui ponsel lipat produksi merek lain.
“LG di kenal sebagai salah satu produsen yang tidak takut bereksperimen,” tulis laporan dari GSM Arena. Sayangnya, eksperimen tersebut seringkali meluncur sebelum ekosistem aplikasi siap mendukungnya.
Warisan Audio dan Kamera yang Melampaui Zaman
Bagi penikmat audio, seri LG V adalah legenda. Lewat fitur Quad DAC, LG menyulap ponsel menjadi pemutar musik berkualitas studio yang sulit di cari tandingannya, bahkan oleh flagship paling mahal sekalipun saat ini.
Di sektor fotografi, LG adalah pemain pertama yang mempopulerkan lensa ultra-wide. Dulu, mengambil foto dengan sudut pandang luas dianggap sebagai fitur tambahan semata. Kini? Hampir mustahil menemukan ponsel kelas menengah hingga atas yang tidak memiliki lensa tersebut. Begitu pula dengan aspek rasio layar 18:9 pada LG G6, yang kini menjadi standar baku desain ponsel memanjang agar nyaman digenggam.
Mengapa LG Gagal Bertahan?
Inovasi brilian saja terbukti tidak cukup untuk memenangkan pasar. LG harus menghadapi realita pahit akibat beberapa faktor krusial:
-
Dukungan Perangkat Lunak: Pembaruan sistem operasi yang lamban membuat pengguna setia perlahan berpaling.
-
Strategi Harga: Seringkali produk eksperimental mereka dibanderol dengan harga yang kurang kompetitif di bandingkan kompetitor asal Tiongkok.
-
Pemasaran yang Lemah: Pesan inovasi yang ingin di sampaikan kerap gagal terserap oleh konsumen awam.
Pasca resmi berhenti beroperasi pada 2021, LG tetap memberikan dukungan terbatas hingga akhirnya seluruh layanan pembaruan di hentikan total pada 2025.
Tips: Memilih Smartphone Inovatif di Tahun 2026
Bagi Anda yang merindukan semangat inovasi ala LG, berikut beberapa hal yang perlu di perhatikan saat memilih ponsel dengan teknologi baru saat ini:
-
Cek Dukungan Software: Pastikan produsen menjamin pembaruan OS minimal 4-5 tahun agar investasi Anda tidak sia-sia.
-
Kesiapan Ekosistem: Teknologi canggih (seperti layar lipat) hanya akan berguna jika aplikasi yang sering Anda gunakan sudah teroptimasi dengan baik.
-
Kualitas Audio: Jika Anda audiophile, carilah perangkat yang masih mendukung codec audio resolusi tinggi atau gunakan DAC eksternal untuk menggantikan peran Quad DAC LG yang hilang.
Meski secara bisnis LG gagal bertahan, sejarah mencatat mereka sebagai pemberani yang mempercepat evolusi teknologi di tangan kita hari ini. Tanpa kegagalan LG Wing atau Rollable, mungkin industri smartphone saat ini akan terasa jauh lebih membosankan.






