Berito.id – Para pelancong di Indonesia kini secara masif mengubah arah kiblat perjalanan mereka. Mayoritas wisatawan mulai aktif menghindari hiruk-pikuk kota besar demi mengejar keasrian alam, autentisitas budaya, serta interaksi mendalam dengan masyarakat lokal di berbagai pelosok daerah.
Laporan Airbnb Ungkap Lonjakan Wisata Alternatif
Laporan komprehensif Airbnb bertajuk Beyond the Beaten Track: Unlocking Tourism Growth Across Asia Pacific mengonfirmasi lonjakan signifikan pada permintaan destinasi alternatif ini. Fenomena pergeseran minat tersebut langsung membuka keran pertumbuhan ekonomi baru bagi komunitas lokal yang selama ini berada di luar pusaran industri pariwisata arus utama.
Tren Penginapan Mulai Bergeser ke Pinggiran
Data internal platform Airbnb menunjukkan fakta menarik: kini hampir 20 persen atau satu dari lima penginapan di Indonesia beroperasi di luar kawasan kota besar. Sepanjang tahun 2025, durasi menginap para pelancong di area pelosok ini juga sukses membukukan kenaikan di atas 15 persen jika kita bandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.
Lompatan Masif Masa Tinggal Turis di Lombok
Perubahan preferensi ini tergambar jelas di sejumlah wilayah operasional. Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) sukses mencetak pertumbuhan masa tinggal yang sangat impresif, yakni melonjak hingga 68 persen secara tahunan. Rekor ini menempatkan Lombok dalam jajaran destinasi dengan pertumbuhan paling progresif di seluruh kawasan Asia Pasifik.
Sektor Pariwisata Rambah Wilayah Nabire Papua
Ekspansi pasar juga merambah wilayah timur nusantara. Kabupaten Nabire di Papua berhasil mencatatkan transaksi pemesanan Airbnb untuk pertama kalinya pada 2025. Fakta ini menjadi indikasi kuat bahwa sektor pariwisata nasional kini mulai menembus dan menggerakkan ekonomi wilayah terpencil yang sebelumnya minim kunjungan.
Turis Asing Dominasi Kunjungan Pelosok Nusantara
Penyebaran arus wisatawan ini menciptakan distribusi ekonomi yang jauh lebih berkeadilan bagi komunitas kecil. Menariknya, daya pikat destinasi tersembunyi (hidden gems) ini justru didominasi oleh pasar internasional. Data statistik menunjukkan bahwa 90 persen pengguna akomodasi di luar kota besar merupakan wisatawan mancanegara, yang menandakan kedalaman apresiasi global terhadap lanskap budaya Indonesia.
Kesadaran Sosial Wisatawan Domestik Menguat
Riset Airbnb terhadap wisatawan domestik juga menunjukkan peningkatan kesadaran sosial yang tajam:
-
95% wisatawan menganggap penting untuk mendatangi destinasi yang berkontribusi langsung pada kesejahteraan warga lokal.
-
85% pelancong bersedia mengeksplorasi wilayah pinggiran apabila tersedia opsi akomodasi non-hotel yang memadai.
-
100% responden mengakui rekomendasi personal dari pemilik penginapan (host) memengaruhi total belanja mereka.
Perputaran Uang Mengalir ke Sektor Akar Rumput
Perubahan perilaku konsumsi ini langsung berdampak positif pada perputaran uang di sektor akar rumput. Wisatawan kini lebih memilih membelanjakan modal mereka di kedai makanan lokal, pasar tradisional, serta destinasi alam yang dikelola mandiri oleh warga setempat. Keberadaan platform penginapan alternatif menjadi kunci utama, mengingat wilayah pedalaman kerap terkendala keterbatasan modal untuk membangun hotel konvensional berskala besar.
Solusi Digital Atasi Keterbatasan Infrastruktur
Akses digital ini sukses memotong rantai kesenjangan infrastruktur dan melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam bisnis pariwisata. Riset bahkan menemukan bahwa seperempat wisatawan Asia Pasifik memilih membatalkan kunjungan mereka ke daerah pelosok andai platform penginapan berbasis warga seperti Airbnb tidak tersedia di sana.
Komitmen Pemerataan Ekonomi Berkelanjutan
“Kami melihat pergeseran yang sangat jelas di Indonesia. Wisatawan kini beralih dari pusat-pusat keramaian populer menuju kawasan pinggiran yang menawarkan ritme kehidupan lebih tenang serta interaksi sosial yang jauh lebih autentik. Lonjakan ini mempercepat pemerataan kue ekonomi pariwisata secara bertanggung jawab,” ujar Amanpreet Bajaj, Country Head Airbnb Asia Tenggara & India.
Sinyal Positif Masa Depan Wisata yang Inklusif
Secara akumulatif, sebanyak 92 persen pelancong domestik tercatat telah mengunjungi destinasi luar kota besar minimal sekali dalam satu tahun terakhir. Angka ini menjadi sinyal optimistis bahwa masa depan industri pariwisata Indonesia bergerak ke arah yang jauh lebih inklusif, merata, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.
(A/*)






