Pemanfaatan teknologi AI di Industri Keuangan Melonjak, Tantangan Masih Besar

Tata kelola dan kesiapan infrastruktur masih menghambat pemanfaatan adopsi AI industri keuangan secara optimal.

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 07:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Adopsi AI industri keuangan terus meningkat. Namun, tantangan tata kelola dan infrastruktur masih menghambat implementasi skala besar
(Foto: digitalbank)

Adopsi AI industri keuangan terus meningkat. Namun, tantangan tata kelola dan infrastruktur masih menghambat implementasi skala besar (Foto: digitalbank)

Berito.idTransformasi digital di sektor keuangan memasuki fase baru seiring meningkatnya penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Banyak lembaga keuangan kini memanfaatkan adopsi AI industri keuangan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat analisis data, dan memperkuat layanan kepada nasabah. 

AI Dorong Efisiensi di Layanan Keuangan 

Namun, laporan terbaru Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) edisi kedelapan dari Nutanix menunjukkan bahwa banyak organisasi masih menghadapi kendala saat ingin memperluas pemanfaatan adopsi AI industri keuangan. Hambatan itu tidak hanya datang dari sisi teknologi, tetapi juga dari tata kelola, kepemimpinan, dan kesiapan operasional. 

Shadow AI Muncul sebagai Risiko Baru 

Salah satu temuan penting dalam laporan tersebut adalah meningkatnya praktik Shadow AI. Sebanyak 66 persen eksekutif TI mengungkapkan bahwa karyawan menggunakan aplikasi AI tanpa persetujuan resmi perusahaan. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena 86 persen responden menilai praktik tersebut telah menimbulkan risiko bisnis yang besar. 

Tata Kelola dan SDM Masih Jadi Hambatan 

Laporan itu juga menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam memperluas penggunaan AI justru berasal dari faktor nonteknis. Sebanyak 38 persen organisasi mengaku kesulitan mengelola tata kelola AI yang kompleks. Sementara itu, 34 persen responden menyebut keterbatasan kepemimpinan dan keahlian sebagai hambatan utama. Adapun masalah teknis murni hanya menyumbang 28 persen dari total kendala yang dihadapi. 

Baca Juga :  Pemerintah Genjot Pembangunan Irigasi Demi Swasembada Pangan

Kedaulatan Data Jadi Perhatian Utama 

Selain tata kelola, isu kedaulatan data turut menjadi perhatian besar. Sebanyak 79 persen organisasi menempatkan perlindungan dan kontrol data sebagai prioritas utama. Meski demikian, 62 persen perusahaan masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di layanan public cloud. 

Kondisi tersebut berpotensi memunculkan Sovereignty Debt atau utang kedaulatan data. Situasi ini terjadi ketika strategi pengelolaan data tidak sepenuhnya sejalan dengan tuntutan regulasi dan kebutuhan keamanan informasi. 

Infrastruktur On-Premises Belum Siap 

Di sisi infrastruktur, sebagian besar organisasi mengakui belum siap mendukung kebutuhan AI yang terus berkembang. Sebanyak 68 persen responden menyatakan infrastruktur on-premises mereka masih memiliki banyak keterbatasan. Akibatnya, 64 persen organisasi memilih bekerja sama dengan penyedia layanan pihak ketiga untuk menutupi kekurangan tersebut. 

Baca Juga :  Google Luncurkan Gemma 4 12B untuk Laptop

Teknologi Kontainer Makin Dibutuhkan 

Seiring meningkatnya penggunaan AI, adopsi teknologi kontainer juga berkembang pesat. Sebanyak 90 persen responden menilai kebutuhan AI menjadi pendorong utama penggunaan kontainer. Bahkan, 89 persen responden memperkirakan tren tersebut akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. 

Vice President APJ Nutanix, Jay Tuseth, menegaskan bahwa persaingan di era AI tidak lagi ditentukan oleh kecanggihan model semata. Menurut dia, faktor penentu keberhasilan adalah kemampuan organisasi dalam mengelola dan memperluas implementasi AI secara aman, terukur, dan sesuai regulasi. 

Ia menambahkan, perusahaan yang mampu menyelaraskan infrastruktur dengan kebutuhan kedaulatan data dan aturan regional akan memiliki keunggulan lebih besar. Platform berbasis kontainer yang fleksibel dinilai menjadi salah satu solusi untuk mencapai tujuan tersebut. 

Lingkungan Hybrid Jadi Strategi Penting 

Studi global yang melibatkan 1.600 eksekutif ini menegaskan bahwa lembaga keuangan perlu mengintegrasikan berbagai beban kerja dalam lingkungan hybrid. Langkah tersebut penting untuk menjaga keamanan data sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang semakin ketat. 

(A/*)

Berita Terkait

Jutaan Satelit Ancam Ubah Langit Malam Bumi
Jaket Kulit CEO Nvidia Terjual Rp17 Miliar
Hasil Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Resmi Ditetapkan, Ini Daftar Pemenangnya
Indonesia Cetak 9 Juta Gambar AI per Hari, Tertinggi di ASEAN
TikTok Perkuat Transparansi Konten AI
Analog Devices Perkuat Infrastruktur AI Lewat Akuisisi Empower
Google Gabungkan AI Search dan YouTube untuk Bisnis Online
xAI Berganti Nama Jadi SpaceXAI Usai Diakuisisi SpaceX
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:00 WIB

Jutaan Satelit Ancam Ubah Langit Malam Bumi

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:00 WIB

Jaket Kulit CEO Nvidia Terjual Rp17 Miliar

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:00 WIB

Hasil Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Resmi Ditetapkan, Ini Daftar Pemenangnya

Rabu, 15 Juli 2026 - 19:00 WIB

Indonesia Cetak 9 Juta Gambar AI per Hari, Tertinggi di ASEAN

Minggu, 12 Juli 2026 - 18:00 WIB

TikTok Perkuat Transparansi Konten AI

Berita Terbaru

Jutaan Satelit Ancam Ubah Langit Malam Bumi
(Foto: AI)

Teknologi

Jutaan Satelit Ancam Ubah Langit Malam Bumi

Rabu, 22 Jul 2026 - 17:00 WIB

Tesla Luncurkan Balance Bike Rp 4 Jutaan, Langsung Sold Out(Foto: AI)

Otomotif

Tesla Luncurkan Balance Bike Rp 4 Jutaan, Langsung Sold Out

Rabu, 22 Jul 2026 - 15:00 WIB