Sejarah Singkat Candi Borobudur, Warisan Dinasti Sailendra

Monumen Buddha terbesar di dunia yang menyimpan jejak sejarah, filosofi kehidupan, dan ribuan relief bernilai tinggi.

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sejarah Singkat Candi Borobudur, Warisan Dinasti Sailendra
(Foto: indonesia)

Sejarah Singkat Candi Borobudur, Warisan Dinasti Sailendra (Foto: indonesia)

Berito.id – Sejarah Singkat Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan sejarah paling berharga di Indonesia. Berlokasi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bangunan ini di kenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia sekaligus salah satu situs warisan dunia UNESCO yang paling terkenal.

Keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang di miliki menjadikan Borobudur sebagai destinasi wisata unggulan yang menarik jutaan wisatawan dari berbagai negara setiap tahunnya.

Sejarah singkat candi borobudur di bangun pada masa dinasti sailendra

Berdasarkan berbagai sumber sejarah, Candi Borobudur di bangun oleh Dinasti Sailendra sekitar tahun 780–840 Masehi. Pada masa itu, candi ini berfungsi sebagai tempat ibadah umat Buddha sekaligus pusat pembelajaran spiritual. Borobudur di rancang sebagai simbol perjalanan manusia menuju pencerahan. Setiap bagian bangunannya mengandung pesan moral dan ajaran Buddha yang mengajak manusia meninggalkan nafsu duniawi untuk mencapai kebijaksanaan.

Selain terinspirasi dari konsep stupa dan mandala yang berkembang di India, para ahli meyakini bahwa Candi Borobudur juga mengadopsi berbagai unsur budaya Nusantara. Hal ini terlihat dari bentuk bangunannya yang memiliki kemiripan dengan struktur punden berundak yang telah dikenal sejak masa prasejarah di Indonesia. Dengan demikian, Borobudur tidak hanya mencerminkan pengaruh budaya India, tetapi juga menunjukkan kuatnya identitas lokal yang berkembang pada masa itu. Di sisi lain, perpaduan dua unsur budaya tersebut menjadikan Borobudur memiliki karakter arsitektur yang unik dan berbeda dari candi-candi Buddha lainnya di dunia.

Oleh karena itu, banyak sejarawan menilai bahwa Borobudur merupakan bukti nyata terjadinya proses akulturasi budaya yang harmonis antara tradisi lokal Nusantara dan ajaran Buddha yang datang dari luar wilayah Indonesia. Bahkan, perpaduan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Borobudur diakui sebagai mahakarya peradaban yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang sangat tinggi.

Penemuan Kembali dan Proses Pemugaran

Setelah lama tertutup abu vulkanik dan semak belukar, Borobudur di temukan kembali pada tahun 1814 oleh tim yang di pimpin Sir Thomas Stamford Raffles saat Inggris menguasai Jawa.

Baca Juga :  Mengenal Desa Wisata Cisande: Surga Tersembunyi di Sukabumi untuk Pecinta Alam dan Edukasi

Pembersihan awal dilakukan untuk menyingkap struktur bangunan yang terkubur. Namun karena ukuran candi yang sangat besar, proses tersebut tidak dapat di selesaikan sepenuhnya.

Pekerjaan kemudian di lanjutkan oleh Residen Kedu, Hartmann, hingga seluruh area candi berhasil di bersihkan pada tahun 1835.

Sejak saat itu, Borobudur beberapa kali menjalani pemugaran, termasuk restorasi besar pada 1907–1911 oleh Theodor van Erp dan proyek pemugaran terbesar pada 1973–1983 yang melibatkan Pemerintah Indonesia dan UNESCO.

Sejarah singkat candi borobudur keunikan arsitektur

Borobudur di bangun menggunakan konsep mandala yang melambangkan alam semesta dalam ajaran Buddha.

Strukturnya terdiri atas:

  • Lima teras berbentuk persegi
  • Tiga teras berbentuk lingkaran
  • 72 stupa berlubang
  • Satu stupa utama di puncak

Selain itu, candi ini memiliki:

  • 1.460 relief naratif
  • 1.212 relief dekoratif
  • Total 2.672 panel relief
  • Luas relief sekitar 2.500 meter persegi

Setiap tingkatan candi menggambarkan tahapan kehidupan manusia menuju kesempurnaan spiritual.

Tiga Tingkatan Utama Candi Borobudur

1. Kamadhatu

Kamadhatu merupakan bagian paling bawah Candi Borobudur yang melambangkan kehidupan manusia yang masih terikat oleh hawa nafsu dan berbagai keinginan duniawi. Pada tahap ini, manusia digambarkan masih berfokus pada kesenangan materi serta kepentingan pribadi. Selain itu, tingkatan Kamadhatu juga merepresentasikan kehidupan nyata yang penuh dengan godaan, konflik, dan konsekuensi dari setiap tindakan.

Oleh karena itu, bagian ini menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan akan menghasilkan akibat yang harus dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, relief-relief yang menghiasi area Kamadhatu menggambarkan berbagai perilaku manusia, baik yang positif maupun negatif. Dengan demikian, tingkatan ini mengajarkan pentingnya pengendalian diri, kebijaksanaan, dan kesadaran moral sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik menurut ajaran Buddha. Pada tingkat ini terdapat sekitar 160 relief Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab-akibat dalam kehidupan manusia. Relief tersebut menunjukkan berbagai perilaku manusia beserta konsekuensi yang di timbulkannya.

Baca Juga :  Panduan Lengkap Wisata Berkelanjutan di Yogyakarta: Lokasi, Harga Tiket, dan Tips Low-Waste
2. Rupadhatu

Rupadhatu melambangkan tahap ketika manusia mulai melepaskan diri dari ikatan duniawi. Bagian ini di penuhi galeri relief dan patung Buddha yang menggambarkan perjalanan hidup, kebajikan, serta ajaran moral. Tercatat terdapat sekitar 328 arca Buddha dan lebih dari 1.300 relief yang menghiasi kawasan ini.

3. Arupadhatu

Arupadhatu merupakan tingkatan tertinggi yang melambangkan kondisi spiritual yang hampir mencapai nirwana. Pada bagian ini terdapat tiga pelataran berbentuk lingkaran dengan 72 stupa berlubang yang mengelilingi stupa utama. Tidak terdapat banyak ornamen pada area ini, yang mencerminkan kemurnian dan kesempurnaan spiritual.

Empat Relief Utama yang Menghiasi Borobudur

Karmawibhangga

Relief Karmawibhangga mengajarkan hukum karma atau sebab-akibat. Pesan utamanya adalah setiap perbuatan manusia akan menghasilkan konsekuensi yang sesuai.

Jataka dan Awadana

Sebanyak 620 panel relief Jataka dan Awadana menceritakan kisah teladan tentang kebajikan, pengorbanan, serta pentingnya memberi manfaat bagi sesama.

Lalitavistara

Relief Lalitavistara terdiri dari 120 panel yang mengisahkan perjalanan hidup Siddhartha Gautama hingga menjadi Buddha.

Gandavyuha

Gandavyuha merupakan rangkaian relief terbesar dengan sekitar 460 panel. Relief ini menggambarkan perjalanan manusia dalam mencari pengetahuan, kebijaksanaan, dan kesempurnaan hidup.

Warisan Dunia yang Sarat Nilai Filosofi

Lebih dari sekadar objek wisata, Candi Borobudur merupakan simbol kejayaan peradaban Nusantara pada masa lampau. Setiap relief, stupa, dan tingkatan bangunannya menyimpan pesan moral yang mengajarkan kebajikan, toleransi, serta perjalanan manusia menuju pencerahan. Tak heran jika hingga kini Borobudur tetap menjadi salah satu mahakarya arsitektur dan warisan budaya paling berharga yang di miliki Indonesia dan dunia.

(Aat/*)

Berita Terkait

HUT Jakarta ke-499, Ancol Gratiskan Tiket Masuk Sore hingga Malam pada 8-19 Juni 2026
Tata Ekosistem Digital Pariwisata, Kemenpar Susun Verifikasi API
Kami Rita Sherpa Taklukkan Everest ke-32 Kali, Rekor Dunia di Tengah Ancaman Iklim
Satu Abad Ducati, Ratusan Motor Ikonik Guncang Aspal Pulau Dewata
Lelah dengan Rutinitas? Atria Hotel Magelang Hadirkan Konsep ‘Rasa Pulang’ untuk Relaksasi Total
Bukan Cuma Diving, DXI 2026 Hadirkan Kompetisi Mermaid dan Diskon Perlengkapan Outdoor Besar-besaran!
Mengenal Carstensz Pyramid: Puncak dengan Medan Paling Mematikan
Pesona Kota Kembang: Alasan Bandung Selalu Jadi Primadona Wisata
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:05 WIB

Sejarah Singkat Candi Borobudur, Warisan Dinasti Sailendra

Sabtu, 30 Mei 2026 - 16:26 WIB

HUT Jakarta ke-499, Ancol Gratiskan Tiket Masuk Sore hingga Malam pada 8-19 Juni 2026

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:44 WIB

Tata Ekosistem Digital Pariwisata, Kemenpar Susun Verifikasi API

Senin, 18 Mei 2026 - 11:04 WIB

Kami Rita Sherpa Taklukkan Everest ke-32 Kali, Rekor Dunia di Tengah Ancaman Iklim

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:24 WIB

Satu Abad Ducati, Ratusan Motor Ikonik Guncang Aspal Pulau Dewata

Berita Terbaru

Soto Kudus Legendaris di Jakarta Timur Segar Sejak 1974
(Foto: iStock/detik)

Daerah

Soto Kudus Legendaris di Jakarta Timur Segar Sejak 1974

Jumat, 5 Jun 2026 - 15:10 WIB

Cara Cek PIP Juni 2026 Lewat HP, Cek Status Penerima Dana(Foto:GeminiAI
/detik)

Nasional

Cara Cek PIP Juni 2026 Lewat HP, Cek Status Penerima Dana

Jumat, 5 Jun 2026 - 12:00 WIB