Berito.id – Atap dunia setinggi 8.849 mdpl kembali menjadi saksi bisu kehebatan Kami Rita Sherpa. Pada Minggu (17/5/2026) pukul 10.12 waktu setempat, pria berusia 56 tahun ini menjejakkan kaki di puncak Gunung Everest untuk yang ke-32 kalinya. Keberhasilan ini menghancurkan rekornya sendiri dan mengukuhkan posisinya sebagai manusia dengan jumlah pendakian terbanyak dalam sejarah modern.
Khim Lal Gautam, Koordinator Everest Base Camp Departemen Pariwisata Nepal, mengonfirmasi bahwa Kami Rita memimpin tim ekspedisi internasional dari 14 Peaks Expedition sebelum akhirnya segera turun kembali menuju base camp. Perjalanan ini bukanlah hal baru baginya. Sejak memulai debut pada 1994 di usia 24 tahun, putra dari seorang sirdar (kepala Sherpa) di Desa Thame ini hampir tidak pernah melewatkan musim pendakian. Ia tercatat hanya berhenti saat jalur pendakian di tutup total akibat bencana alam atau pandemi global.
Bekerja di Antara Maut dan Tanggung Jawab
Popularitas bukan motivasi utama di balik pencapaian fantastis ini. Bagi Kami Rita, setiap langkah menuju puncak adalah murni profesionalisme. Ia menegaskan bahwa prioritasnya adalah memastikan keselamatan para pendaki yang menggunakan jasanya. Pendekatan pragmatis ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Sherpa yang kini menghadapi risiko lebih tinggi di lapangan.
Data menunjukkan bahwa profesi pemandu gunung di Himalaya kian berisiko. Sepanjang musim pendakian 2026, setidaknya lima nyawa melayang di kawasan pegunungan Nepal, dengan tiga kematian terjadi tepat di lereng Everest. Minimnya pemandu berpengalaman serta tuntutan standar keselamatan yang kian ketat menjadi tantangan besar bagi operator ekspedisi saat ini.
Ancaman Nyata Perubahan Iklim
Statistik keberhasilan Kami Rita muncul di tengah kondisi alam yang semakin tidak stabil. Suhu di Himalaya meningkat pesat, memicu pencairan es yang lebih cepat dan meningkatkan frekuensi longsoran salju secara drastis. Fenomena ini mengubah lanskap pendakian menjadi medan yang sulit di prediksi, bahkan bagi pendaki veteran sekalipun.
Meskipun bahaya mengintai, daya tarik Everest belum memudar. Pada hari yang sama dengan pencapaian Kami Rita, lebih dari 70 pendaki lainnya di laporkan berupaya mencapai puncak. Hal ini menunjukkan bahwa industri pariwisata ekstrem Nepal tetap bergeliat meski di hantui krisis iklim.
Rekor Ganda Pendaki Nepal
Sejarah tidak hanya di tulis oleh Kami Rita. Di hari yang sama, Lhakpa Sherpa juga memperkuat dominasi pendaki lokal dengan mencapai puncak Everest untuk yang ke-11 kalinya. Prestasi ini mengukuhkan statusnya sebagai perempuan dengan jumlah pendakian Everest terbanyak di dunia.
Keberhasilan ganda para Sherpa ini menjadi pengingat penting bagi komunitas global mengenai peran krusial penduduk asli Nepal dalam setiap misi eksplorasi di puncak tertinggi bumi. Bagi para pendaki amatir maupun profesional, fenomena ini menekankan satu hal: persiapan teknis yang matang dan pemahaman terhadap perubahan kondisi gunung adalah kunci utama keselamatan dalam menaklukkan Himalaya. (Nd/*)






