Harga Pertamax Naik, Dana Talangan Pertamina Sudah Mentok

Skema Penahanan Harga BBM Nonsubsidi Dinilai Menggerus Kesehatan Finansial BUMN dan Mengancam Kepercayaan Investor Global

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Pertamax Naik, Dana Talangan Pertamina Sudah Mentok
(Foto: Dok
Mypertamina
/lintasgayo)

Harga Pertamax Naik, Dana Talangan Pertamina Sudah Mentok (Foto: Dok Mypertamina /lintasgayo)

Berito.id – Pemerintah akhirnya mengerek harga jual Pertamax menjadi Rp16.250 per liter. Langkah berani ini menjadi titik akhir yang tidak lagi bisa dihindari oleh PT Pertamina (Persero). Sejumlah pakar ekonomi menilai, badan usaha milik negara tersebut sudah terlalu lama memikul beban berat akibat menahan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di bawah nilai pasar yang sebenarnya.

Selama beberapa bulan terakhir, perusahaan migas pelat merah ini mengandalkan skema dana talangan internal untuk menutup selisih harga. Namun, tekanan eksternal dari pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga minyak mentah dunia memaksa manajemen mengambil keputusan realistis. Kebijakan ini murni untuk menyelamatkan arus kas korporasi.

Konsekuensi Logis Mekanisme Pasar

Hendry Cahyono, ekonom asal Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menegaskan bahwa penyesuaian harga ini merupakan konsekuensi logis. Pertamina memiliki keterbatasan ruang fiskal untuk terus-menerus menutupi gap harga keekonomian tersebut.

“Manajemen akhirnya melepas harga BBM nonsubsidi agar bergerak mengikuti dinamika pasar. Mereka tidak mungkin lagi menahannya setelah sekian lama. Itulah mengapa lonjakan harga kali ini terasa sangat tinggi. Kita harus menerima realitas bahwa Pertamax memang harus naik,” ujar Hendry dalam keterangan resminya, Jumat (12/6/2026).

Hendry menambahkan, masyarakat perlu memahami kedudukan Pertamax sebagai produk komersial. Berbeda dengan Pertalite atau Solar, APBN sama sekali tidak mengalokasikan subsidi untuk lini produk ini. Oleh sebab itu, intervensi harga yang terlalu lama justru akan menjadi bumerang bagi kesehatan keuangan internal BUMN tersebut.

Baca Juga :  Cara Mudah Cek Dukungan eSIM di Berbagai Merk HP Melalui Menu Pengaturan dan Kode Dial

Jika Pertamina terus membiarkan ketimpangan harga ini berlarut-larut, kinerja keuangan korporasi menjadi taruhannya. Dampak buruknya tidak hanya memangkas setoran dividen kepada negara, tetapi juga merusak reputasi perusahaan di mata pelaku pasar modal global. Kesehatan keuangan korporasi energi terbesar di Indonesia ini kini tengah dipertaruhkan.

Sentimen Negatif bagi Investor Global

Hendry mengingatkan bahwa investor internasional selalu memantau rasio profitabilitas dan kinerja keuangan perusahaan secara berkala. Menurutnya, tidak akan ada satu pun investor yang bersedar menanamkan modal pada perusahaan yang terus mengalami defisit akibat memikul beban penugasan yang tidak rasional.

Pandangan serupa datang dari Yayan Satyaki, pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad). Yayan menyoroti bahwa kombinasi anjloknya nilai tukar rupiah dan tingginya harga minyak internasional telah mendongkrak biaya produksi BBM domestik secara signifikan.

Secara regulasi, formula penetapan harga Pertamax wajib merujuk pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 19 Tahun 2019. Aturan ini menggunakan Mean of Platts Singapore (MOPS) sebagai jangkar perhitungan, yang pergerakannya sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs dolar Amerika Serikat.

Baca Juga :  Gibran Tegaskan Perbaikan Tata Kelola MBG dan KDMP

Beban Finansial yang Bergeser ke Pemerintah

Yayan membeberkan fakta bahwa konsumen di dalam negeri sebenarnya sudah menikmati kompensasi terselubung selama beberapa bulan terakhir. Pertamina membiayai selisih harga itu secara mandiri. Meski begitu, mekanisme dana talangan ini pada dasarnya tidak pernah menghapus utang, melainkan hanya menunda waktu penagihan beban finansial tersebut.

“Meskipun Pertamina memiliki hak klaim kompensasi ke pemerintah di masa depan, tagihan tersebut pada akhirnya tetap akan membebani kas negara. Menahan harga terlalu lama justru mempersempit ruang fiskal APBN dan memperlemah fundamental keuangan Pertamina itu sendiri,” jelas Yayan.

Berdasarkan kalkulasi empiris yang ia lakukan, harga keekonomian Pertamax yang ideal saat ini berada di rentang Rp14.150 hingga Rp16.650 per liter. Dengan demikian, angka Rp16.250 yang ditetapkan saat ini dinilai masih sangat rasional karena berada di dalam koridor hukum resmi pemerintah.

Yayan memperingatkan pemerintah agar tidak lagi memaksakan skema penahanan harga yang tidak berkelanjutan. Pasalnya, jika para pemodal melihat kondisi keuangan Pertamina terus memburuk, minat investasi pada sektor minyak dan gas bumi di Indonesia dipastikan akan merosot tajam ke titik terendah.

(A/*)

Berita Terkait

LNG Abadi Masela Perkuat Hilirisasi dan Industri Nasional
BKN Minta Pemerintah Tambah Jumlah PNS
Pesawat N219 Buatan PT Dirgantara Indonesia Siap Perkuat Konektivitas Udara Nasional
Bansos PKH dan BPNT Kuartal III Mulai Cair 20 Juli 2026
Barang Subsidi Kopdes Merah Putih Wajib Disalurkan ke Rakyat
Bulog Siapkan Beras SPHP Premium Beras Kita untuk Tekan Harga Beras
Bansos ATENSI YAPI Tahap 2 Cair Juni 2026, Cek Syaratnya
Febrie Adriansyah Mundur dari Jabatan Jampidsus
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 07:00 WIB

BKN Minta Pemerintah Tambah Jumlah PNS

Rabu, 15 Juli 2026 - 07:00 WIB

Pesawat N219 Buatan PT Dirgantara Indonesia Siap Perkuat Konektivitas Udara Nasional

Selasa, 14 Juli 2026 - 07:00 WIB

Bansos PKH dan BPNT Kuartal III Mulai Cair 20 Juli 2026

Senin, 13 Juli 2026 - 07:00 WIB

Barang Subsidi Kopdes Merah Putih Wajib Disalurkan ke Rakyat

Minggu, 12 Juli 2026 - 10:00 WIB

Bulog Siapkan Beras SPHP Premium Beras Kita untuk Tekan Harga Beras

Berita Terbaru

5 Wisata Kerinci Paling Populer di Jambi(Foto: AI)

Wisata

5 Wisata Kerinci Paling Populer di Jambi

Jumat, 17 Jul 2026 - 17:00 WIB

Tren Kucing Munchkin Makin Populer di Kalangan Cat Lovers(Foto: AI)

Lifestyle

Tren Kucing Munchkin Makin Populer di Kalangan Cat Lovers

Jumat, 17 Jul 2026 - 13:00 WIB