Berito.id – Konflik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah bukan sekadar isu politik mancanegara. Bagi masyarakat Indonesia, dampak nyata mulai terasa di kantong, terutama soal biaya energi. Ketegangan antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran di Teluk Persia telah menyeret harga minyak mentah dunia melonjak hingga menyentuh level US$100 per barel.
Kenaikan harga minyak yang fantastis ini memicu kekhawatiran massal akan kelangkaan dan lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri. Namun, di tengah ketidakpastian ini, industri otomotif justru melihat celah besar. Kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) di prediksi akan mengalami lonjakan peminat sebagai alternatif paling logis saat harga bensin tak lagi ramah di dompet.
CEO PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus, mengamati bahwa situasi di Timur Tengah secara otomatis berdampak pada rantai pasok energi global. Komponen transportasi yang sangat bergantung pada minyak bumi menjadi titik paling rentan.
“Kondisi di Timur Tengah saat ini berpotensi membuat harga minyak terus naik. Jika ini terjadi, semua barang akan terdampak karena komponen biaya transportasi sangat besar,” ungkap Alexander saat di temui di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.
Menurutnya, ketika harga BBM melambung tinggi, pola pikir konsumen biasanya akan berubah. Pertimbangan untuk beralih ke kendaraan yang lebih hemat dan efisien secara biaya operasional menjadi prioritas utama.
Salah satu keunggulan utama mobil listrik adalah kemandiriannya dari bahan bakar fosil. Karena sepenuhnya menggunakan energi listrik, EV tidak terkena dampak langsung saat harga minyak mentah dunia bergejolak.
“Mobil listrik tidak menggunakan minyak. Secara logika, akan ada pergeseran minat masyarakat ke mobil listrik,” tambah Alexander.
Ketidakbergantungan ini memberikan ketenangan bagi pemilik kendaraan. Di saat pengguna mobil konvensional merasa was-was setiap kali ada pengumuman penyesuaian harga BBM, pengguna mobil listrik cenderung memiliki biaya pengisian daya yang lebih stabil dan murah.
Faktor Pendorong Selain Harga Minyak
Meski harga energi menjadi pemicu utama, Alexander Barus menekankan bahwa lonjakan penjualan mobil listrik tidak bisa berdiri sendiri. Ada dua faktor kunci lain yang harus berjalan beriringan:
-
Kebijakan Pemerintah: Dukungan berupa insentif pajak dan kemudahan regulasi tetap menjadi bahan bakar utama pertumbuhan ekosistem EV di tanah air.
-
Infrastruktur Pengisian Daya: Semakin meratanya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) akan menghilangkan keraguan masyarakat untuk melakukan perjalanan jarak jauh.
Krisis energi akibat konflik global mungkin menjadi katalis, namun kesiapan ekosistem dalam negeri adalah penentu apakah mobil listrik akan benar-benar merajai jalanan Indonesia dalam waktu dekat.
Tips Tambahan: Bagi Anda yang berencana beralih ke mobil listrik, pertimbangkan untuk memasang home charging di rumah guna mendapatkan tarif listrik diskon di malam hari (pukul 22.00 – 05.00) yang sering ditawarkan PLN untuk pemilik EV. (Nd)






