Berito.id – Nama Teungku Nyak Sandang mendadak menjadi perbincangan nasional beberapa tahun lalu saat ia bertemu Presiden dengan membawa selembar surat obligasi usang. Surat tersebut bukan sekadar kertas biasa, melainkan bukti cinta luar biasa rakyat Aceh terhadap Republik Indonesia yang baru seumur jagung.
Lahir pada tahun 1923 di Lamno, Aceh Jaya, Nyak Sandang tumbuh besar di tengah semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia adalah simbol nyata bagaimana kedaulatan sebuah bangsa dibangun di atas pengorbanan rakyatnya yang paling tulus.
Awal Mula Sumbangan Seulawah RI-001
Titik balik hidup Nyak Sandang terjadi pada 16 Juni 1948. Saat itu, Presiden Soekarno datang ke Banda Aceh dengan misi khusus: meminta bantuan rakyat Aceh untuk membeli pesawat terbang guna menembus blokade udara Belanda.
Nyak Sandang yang kala itu berusia 23 tahun bersama ayahnya, Lamudin, terpanggil memenuhi seruan tersebut. Tanpa pikir panjang, ia menjual aset paling berharga miliknya berupa tanah seluas 40 hektare serta emas seberat 10 gram. Total dana yang terkumpul dari masyarakat Aceh saat itu mencapai 120.000 dollar Singapura dan 20 kilogram emas, yang kemudian di gunakan untuk membeli pesawat angkut Dakota berkapasitas 25 orang.
Menunggu Pengakuan Selama Puluhan Tahun
Meski memiliki jasa yang begitu besar, Nyak Sandang menjalani masa tuanya dengan sangat sederhana sebagai petani di Desa Lhuet, Aceh Jaya. Ia menyimpan rapat-rapat bukti pemberian dana tersebut yang tertuang dalam surat obligasi (surat pinjaman negara) bertanggal 16 Juni 1948.
Penantian panjangnya untuk mendapatkan perhatian negara akhirnya terjawab pada tahun 2018. Melalui bantuan berbagai pihak, Nyak Sandang berhasil bertemu dengan Presiden di Istana Negara. Dalam pertemuan yang penuh haru itu, ia tidak meminta kekayaan, melainkan tiga permohonan yang sangat personal:
-
Bantuan operasi katarak untuk penglihatannya yang mulai kabur.
-
Keinginan untuk menunaikan ibadah haji.
-
Pembangunan masjid di kampung halamannya.
Penghargaan Tertinggi dari Negara
Dedikasi Nyak Sandang akhirnya di akui secara resmi melalui penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama. Penghargaan ini merupakan bentuk legitimasi bahwa ia bukan sekadar donatur, melainkan pejuang kedaulatan ekonomi.
Kisah Nyak Sandang memberikan pelajaran berharga bahwa nasionalisme tidak selalu harus ditunjukkan dengan senjata. Terkadang, kerelaan untuk melepaskan harta pribadi demi kepentingan bersama adalah bentuk patriotisme yang paling kuat.
Wawasan Tambahan: Pesawat Seulawah RI-001 yang dibeli dari dana Nyak Sandang dkk tidak hanya menjadi angkutan kepresidenan, tetapi juga menjadi modal awal berdirinya Indonesian Airways di Burma (Myanmar). Maskapai inilah yang kemudian bertransformasi menjadi Garuda Indonesia, maskapai flag carrier kebanggaan kita saat ini.
Kepergiannya di usia 103 tahun pada 7 April 2026 meninggalkan warisan semangat yang tak akan pernah padam. Ia telah membuktikan bahwa Indonesia bisa berdiri tegak karena ada rakyat yang siap menjadi penopang, seberat apa pun beban yang harus dipikul. (Nd)






