Berito.id – Kecerdasan buatan (AI) kini bak pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini mempermudah urusan kantor; di sisi lain, ia menjadi “asisten” baru bagi para peretas untuk melancarkan serangan siber yang lebih presisi dan mematikan. Jika dahulu serangan siber terasa acak, kini dengan bantuan AI, peretas bisa memetakan kelemahan sistem Anda dengan jauh lebih efisien.
Hacker Makin Pintar Berkat AI
Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu, mengungkapkan bahwa AI telah mengubah peta persaingan di dunia digital. Penggunaan teknologi ini meningkatkan risiko keamanan karena memperluas celah yang bisa dieksploitasi.
“AI adalah peluang, tetapi juga tantangan. Tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja perusahaan, tetapi juga meningkatkan efisiensi peretas dalam melakukan serangan,” ujar Clara Hsu.
Salah satu yang paling bertransformasi adalah metode phishing. Jika dulu email penipuan mudah di kenali karena bahasa yang kaku, kini AI mampu menyusun pesan yang sangat personal. Peretas bisa menyesuaikan profil korban, mulai dari jabatan hingga aktivitas sehari-hari, sehingga tautan berbahaya yang mereka kirimkan terlihat sangat meyakinkan.
Skenario Serangan: Menyerang Saat Titik Lemah
Setelah berhasil mencuri kredensial melalui phishing, peretas tidak langsung bertindak gegabah. Mereka memanfaatkan AI untuk menganalisis pola penggunaan sistem perusahaan guna mencari waktu yang tepat untuk menyerang.
Seringkali, serangan ransomware di lancarkan pada momen krusial, misalnya di akhir kuartal bisnis. Saat operasional perusahaan sedang tinggi-tingginya dan beban kerja maksimal, di situlah peretas masuk untuk mengunci data dan meminta tebusan.
4 Sektor Utama Incaran Peretas
Siapa saja yang dibidik? Ternyata tidak ada organisasi yang benar-benar aman. Namun, ada empat sektor yang menjadi target favorit karena dampak gangguannya yang masif:
-
Keuangan: Lumpuhnya transaksi perbankan bisa memicu kepanikan ekonomi.
-
Layanan Pemerintah: Gangguan pada administrasi publik atau fasilitas transportasi seperti bandara.
-
Manufaktur: Penghentian jalur produksi yang menyebabkan kerugian finansial besar.
-
Kesehatan: Ini yang paling berisiko karena menyangkut keselamatan nyawa pasien di rumah sakit.
Mengenal Strategi 3-2-1-1-0 sebagai Benteng Terakhir
Menghadapi serangan yang kian canggih, perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara lama. Solusi perlindungan data harus menjadi lini pertahanan terakhir yang mustahil di tembus. Synology melalui ActiveProtect Appliance menawarkan pendekatan modern untuk memastikan data tetap aman meski sistem utama berhasil di bobol.
Perusahaan kini di dorong menerapkan strategi cadangan data 3-2-1-1-0. Apa artinya?
-
3: Memiliki tiga salinan data.
-
2: Disimpan di dua media berbeda.
-
1: Satu salinan berada di lokasi fisik yang terpisah.
-
1: Satu salinan bersifat immutable (tidak dapat di ubah atau di hapus oleh siapapun, termasuk peretas).
-
0: Memastikan nol kesalahan (zero error) saat proses pemulihan data di lakukan.
Teknologi seperti AirGap dan immutable backup menjadi kunci agar cadangan data tidak ikut terinfeksi saat peretas menyusup ke jaringan utama. Dengan perlindungan berlapis dan sistem yang terintegrasi, keberlangsungan operasional perusahaan dapat tetap terjaga di tengah badai ancaman siber yang terus berevolusi. (Nd)






