Berito.id – Upaya evakuasi delapan korban helikopter milik PT Matthew Air dengan nomor registrasi PK-CFX di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, menghadapi tantangan besar. Tim SAR gabungan kini harus berpacu dengan waktu dan kondisi alam yang ekstrem di pedalaman Kalimantan.
Hingga Jumat (17/4/2026) malam, tim yang terdiri dari TNI, Basarnas, BPBD, hingga masyarakat setempat di laporkan terpaksa bermalam di area perbukitan Kecamatan Nanga Taman. Langkah ini di ambil setelah tim berhasil mencapai titik jatuh, namun terkendala visibilitas dan topografi yang membahayakan nyawa petugas.
Bertahan di Tengah Hutan Nanga Taman
Kondisi di lapangan menunjukkan betapa sulitnya menjangkau titik koordinat jatuhnya pesawat jenis Airbus H130 tersebut. Meski posisi serpihan sudah di temukan, tim tidak bisa langsung memindahkan para korban ke titik aman.
Kabagops Polres Sekadau, AKP Sugiyanto, menjelaskan bahwa jarak pandang yang sangat terbatas menjadi alasan utama penghentian sementara proses evakuasi pada malam hari.
“Tim sudah berada di lokasi jatuhnya helikopter. Namun karena kondisi gelap dan medan yang terjal, evakuasi belum memungkinkan dilakukan malam ini,” ujar Sugiyanto saat memberikan keterangan di Nanga Taman.
Demi keselamatan, seluruh personel kini mendirikan bivak atau tenda darurat di atas bukit, hanya berjarak sekitar 50 meter dari badan helikopter yang hancur. “Kami bivak terlebih dahulu. Besok pagi evakuasi akan di lakukan dengan peralatan yang saat ini sudah mulai di kirim ke lokasi,” tambahnya.
Pantauan Udara Temukan Titik Terang
Sebelum tim darat berhasil menembus tebing curam, keberadaan helikopter ini sempat menjadi teka-teki. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Pontianak, I Made Junetra, menyebutkan bahwa koordinat pasti baru teridentifikasi setelah beberapa kali pemantauan udara dilakukan.
“Kami menerima informasi awal adanya serpihan di titik koordinat yang telah di identifikasi. Namun ini masih berdasarkan pengamatan dari udara,” kata Junetra.
Operasi udara ini pun bukannya tanpa risiko. Cuaca yang fluktuatif di wilayah Kalimantan Barat menjadi faktor penentu keselamatan penerbangan helikopter pencari. Sementara itu, tim darat yang bergerak dari Sintang harus membelah vegetasi hutan yang rapat dan menanjak.
Daftar Penumpang dan Kronologi Kejadian
Helikopter PK-CFX membawa delapan orang saat insiden terjadi. Berikut adalah daftar manifes korban:
-
Kru: Kapten Marindra W (Pilot) dan Harun Arasyd (Co-pilot).
-
Penumpang: Patrick K, Victor T, Charles L, Joko C, Fauzie O, dan Sugito.
Pesawat dilaporkan take-off dari helipad PT CMA di Desa Nanga Keruap, Kabupaten Melawi pada pukul 07.34 WIB. Sedianya, helikopter ini terbang menuju Desa Teluk Bakung, Kabupaten Kubu Raya. Namun, pada pukul 08.39 WIB, komunikasi terputus total. (Nd)






