Peretas Bobol Ribuan Repositori GitHub Lewat Kampanye Siber (Megalodon)

Kelompok peretas susupi 5.500 repositori dalam 6 jam lewat manipulasi bot GitHub Actions

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peretas Bobol Ribuan Repositori GitHub Lewat Kampanye Siber (Megalodon)
(Foto: reversinglabs)

Peretas Bobol Ribuan Repositori GitHub Lewat Kampanye Siber (Megalodon) (Foto: reversinglabs)

Berito.id – Komunitas pengembang peranti lunak global baru saja diguncang oleh ancaman siber baru yang masif. Kelompok peretas meluncurkan kampanye berbahaya bernama Megalodon yang sukses menyusupi lebih dari 5.500 repositori GitHub melalui kiriman kode (commit) ilegal.

Para pelaku merancang commit palsu ini untuk menguras habis token akses, kredensial, dan rahasia penting dalam pengembangan software. Peneliti keamanan siber mengungkapkan bahwa Megalodon menyusupkan kode ke dalam alur kerja (workflow) GitHub Actions lewat otomatisasi yang terlihat resmi.

Hanya dalam waktu enam jam, penyerang berhasil mengirimkan lebih dari 5.700 commit berbahaya ke ribuan repositori publik. Skala operasi ini langsung tercatat sebagai salah satu insiden supply chain attack (serangan rantai pasok) terbesar di ekosistem GitHub selama beberapa tahun terakhir.

Baca Juga :  Pesawat N219 Buatan PT Dirgantara Indonesia Siap Perkuat Konektivitas Udara Nasional

Manipulasi Bot Otomatis

Untuk mengelabui korban, peretas menyamar sebagai akun bot otomatis pencatat riwayat kerja seperti build-bot atau auto-ci. Taktik ini membuat manipulasi berkas tampak seperti pembaruan rutin biasa. Begitu pemilik repositori menggabungkan kode tersebut, sistem GitHub Actions yang telah dimodifikasi akan langsung berjalan.

Pada fase inilah, malware mulai memanen informasi sensitif dari lingkungan Continuous Integration/Continuous Deployment (CI/CD) milik korban. Mereka mengincar token akses cloud, kredensial AWS, Google Cloud, Azure, kunci SSH, hingga konfigurasi Kubernetes dan Terraform.

Para pakar mengingatkan bahwa bahaya Megalodon bisa meluas. Jika proyek yang terinfeksi ini terbit ke ekosistem komunal seperti npm, dampaknya akan langsung memapar pengguna akhir. Pola inilah yang membuat analis mengategorikan Megalodon sebagai evolusi serangan rantai pasok yang sangat berbahaya.

Baca Juga :  Panduan Lengkap Cara Top Up GoPay Terbaru 2026 Melalui Semua Bank dan Minimarket

Langkah Penyelamatan Data

Merespons temuan ini, sejumlah firma keamanan siber mendesak para pengembang segera mengaudit berkas workflow GitHub Actions mereka. Organisasi wajib memeriksa setiap commit mencurigakan dan memastikan tidak ada perubahan berkas format YAML tanpa izin.

Bagi tim yang terindikasi menjadi korban, segeralah mengganti seluruh kredensial penting, mulai dari API key hingga kunci SSH. Pakar juga menyarankan pengembang untuk memperketat pengawasan aktivitas kontributor, mengaktifkan autentikasi multifaktor (MFA), dan hanya menggunakan alur kerja yang terverifikasi resmi.

Kasus Megalodon menjadi bukti kuat bahwa koridor pengembangan aplikasi kini jadi target utama kejahatan siber. Di tengah ketergantungan industri pada otomatisasi cloud, kelalaian mengawasi komponen pendukung seperti ini justru bisa berdampak jauh lebih fatal daripada serangan konvensional.

(A/*)

Berita Terkait

Jangan Salah Pilih! Ini Perbedaan 4G dan 5G Beserta Kelebihannya
Google Buka Akses Gemini Spark untuk AI Ultra USD100
WhatsApp Hadirkan Fitur Baru, Kini Bisa Edit PDF Langsung di Dalam Chat
Asus ExpertBook P5 G2 Resmi Hadir di Indonesia, Laptop AI untuk Profesional Hybrid
Rekomendasi 5 Generator Video AI Terbaik untuk Konten Viral 2026
Jutaan Satelit Ancam Ubah Langit Malam Bumi
Jaket Kulit CEO Nvidia Terjual Rp17 Miliar
Hasil Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Resmi Ditetapkan, Ini Daftar Pemenangnya
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:00 WIB

Jangan Salah Pilih! Ini Perbedaan 4G dan 5G Beserta Kelebihannya

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:00 WIB

Google Buka Akses Gemini Spark untuk AI Ultra USD100

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:00 WIB

WhatsApp Hadirkan Fitur Baru, Kini Bisa Edit PDF Langsung di Dalam Chat

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:00 WIB

Asus ExpertBook P5 G2 Resmi Hadir di Indonesia, Laptop AI untuk Profesional Hybrid

Kamis, 23 Juli 2026 - 23:00 WIB

Rekomendasi 5 Generator Video AI Terbaik untuk Konten Viral 2026

Berita Terbaru