Pertamina Perkuat Kapabilitas SDM dan Budaya ESG, Strategi Jangka Panjang Hadapi Transisi Energi

Perkuat SDM dan budaya ESG demi daya saing jangka panjang.

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pertamina Perkuat Kapabilitas SDM dan Budaya ESG, Strategi Jangka Panjang Hadapi Transisi Energi
(Foto: ruangenergi
/AI)

Pertamina Perkuat Kapabilitas SDM dan Budaya ESG, Strategi Jangka Panjang Hadapi Transisi Energi (Foto: ruangenergi /AI)

Berito.id – Transformasi bisnis berkelanjutan kini tidak lagi hanya di ukur dari pencapaian finansial. Bagi perusahaan energi seperti PT Pertamina (Persero), keberhasilan juga di tentukan oleh kemampuan mengelola aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) secara konsisten. Komitmen tersebut kembali mendapat pengakuan setelah Pertamina Sustainability Academy (PSA) meraih Anugerah Utama Sektor Energi.

Penghargaan ini menunjukkan bahwa strategi penguatan sumber daya manusia (SDM) dan budaya perusahaan mulai di pandang sebagai aset ekonomi jangka panjang, bukan sekadar program pelatihan internal. Dari perspektif bisnis, langkah tersebut penting karena industri energi sedang menghadapi tekanan besar akibat perubahan regulasi, tuntutan investor, hingga percepatan transisi menuju energi rendah karbon.

Dua Fondasi yang Di perkuat Pertamina

Alih-alih hanya berinvestasi pada teknologi, Pertamina menempatkan dua aspek sebagai fondasi transformasi perusahaan, yaitu:

  • Penguatan kapabilitas SDM, agar seluruh pekerja memahami implementasi ESG hingga tingkat pengambilan keputusan strategis.
  • Pembangunan budaya keberlanjutan, sehingga prinsip ESG menjadi bagian dari aktivitas bisnis sehari-hari, bukan sekadar memenuhi regulasi.

Pendekatan tersebut di nilai mampu mempercepat adaptasi perusahaan terhadap perubahan industri sekaligus menjaga daya saing dalam jangka panjang. Secara sederhana, investasi pada SDM berarti perusahaan tidak hanya membeli teknologi baru, tetapi juga memastikan seluruh pekerja mampu mengoperasikan, mengembangkan, dan mengambil keputusan yang sesuai dengan arah transformasi energi.

Mengapa Strategi Ini Penting Secara Ekonomi?

Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, menilai ESG kini telah berkembang menjadi fondasi penting dalam membangun nilai perusahaan. Menurutnya, ESG tidak lagi sebatas kewajiban administratif, melainkan investasi strategis yang mampu meningkatkan daya saing serta menciptakan pertumbuhan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Harga Bitcoin 2027 Diproyeksi Capai US$120.000

Dari sisi ekonomi, perusahaan yang memiliki tata kelola ESG yang kuat umumnya memperoleh beberapa keuntungan, antara lain:

  • lebih mudah memperoleh pendanaan dari investor;
  • memiliki risiko operasional yang lebih rendah;
  • meningkatkan efisiensi jangka panjang;
  • memperkuat kepercayaan pasar dan pemangku kepentingan.

Dengan kata lain, implementasi ESG berpotensi menurunkan biaya risiko sekaligus meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.

SDM Menjadi Penentu Keberhasilan Transisi Energi

Senior Vice President Business Sustainability PT Pertamina (Persero), Wenny Ipmawan, menjelaskan bahwa transformasi energi pada akhirnya merupakan transformasi manusia. Pertamina Sustainability Academy di rancang untuk meningkatkan kompetensi seluruh pekerja, mulai dari pemahaman dasar mengenai keberlanjutan hingga kemampuan mengambil keputusan strategis yang mendukung Dual Growth Strategy perusahaan.

Program ini juga di arahkan untuk mempersiapkan organisasi menghadapi dinamika industri energi yang semakin cepat berubah. Menurut Wenny, penghargaan yang di terima bukanlah tujuan akhir, melainkan dorongan agar kualitas implementasi ESG terus meningkat seiring target perusahaan menuju Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.

Investasi Kompetensi Di nilai Mengurangi Risiko Bisnis

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa keberhasilan ESG sangat bergantung pada kesamaan pemahaman seluruh insan perusahaan. Artinya, implementasi ESG tidak cukup di tuangkan dalam dokumen kebijakan. Nilai tersebut harus hadir dalam setiap keputusan operasional, investasi, hingga pengembangan bisnis.

Dari sudut pandang ekonomi, pendekatan ini berpotensi mengurangi berbagai risiko, seperti:

  • risiko kepatuhan terhadap regulasi;
  • risiko reputasi perusahaan;
  • risiko investasi pada proyek jangka panjang;
  • risiko operasional selama proses transisi energi.
Baca Juga :  Rincian Biaya dan Syarat Terbaru Menjadi Mitra SPBU Pertamina

Semakin kuat budaya perusahaan, semakin kecil peluang terjadinya ketidaksesuaian implementasi di lapangan.

Program Berjenjang untuk Seluruh Tingkatan Organisasi

Pertamina Sustainability Academy di susun dalam beberapa jenjang pembelajaran agar seluruh level organisasi memiliki kompetensi yang sesuai dengan tanggung jawabnya.

Program tersebut meliputi:

  • Mandatory Sustainability Training;
  • Sustainability Awareness Program;
  • Sustainability Accelerator Program;
  • Sustainability Masterclass;
  • Sustainability Transcendence Forum bagi Direksi dan Dewan Komisaris.

Selain pelatihan formal, Pertamina juga membangun budaya keberlanjutan melalui podcast, program Jejak Keberlanjutan, Sustainability Insight, serta berbagai materi komunikasi internal. Pendekatan ini bertujuan memastikan ESG tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi bagian dari pola pikir dan budaya kerja seluruh insan perusahaan.

Analisis Ekonomi: Peluang Lebih Besar, Namun Implementasi Menjadi Tantangan

Pertamina menunjukkan bahwa investasi pada SDM kini menjadi bagian dari investasi bisnis. Peluangnya adalah meningkatnya daya saing perusahaan, peluang memperoleh pembiayaan yang lebih luas, efisiensi operasional, serta kesiapan menghadapi regulasi global yang semakin ketat terkait keberlanjutan.

Namun, risikonya juga tidak kecil. Investasi pengembangan kompetensi membutuhkan biaya yang besar dan hasilnya baru dapat di rasakan dalam jangka panjang. Keberhasilan program juga bergantung pada konsistensi implementasi di seluruh unit bisnis.

Apabila penguatan kapabilitas dan budaya mampu berjalan beriringan, Pertamina berpotensi memperkuat posisi sebagai perusahaan energi yang lebih adaptif menghadapi perubahan pasar sekaligus menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi pemegang saham, masyarakat, dan lingkungan.

(A/*)

Berita Terkait

MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026
Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia
Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026
Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya
OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger
Harga Emas Pekan Depan Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS
Harga Minyak Dunia Sentuh US$100, Prabowo Minta Simulasi APBN
Bank Mandiri Catat Laba Naik 25 Persen, Kredit dan Aset Makin Kuat
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:00 WIB

MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026

Rabu, 29 Juli 2026 - 08:00 WIB

Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:00 WIB

Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:00 WIB

Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya

Senin, 27 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger

Berita Terbaru