Berito.id – Cara generasi milenial dan Gen Z menikmati waktu liburan terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya banyak orang memilih destinasi yang sedang populer, kini wisatawan muda lebih tertarik pada perjalanan yang menawarkan pengalaman autentik, personal, sekaligus memiliki makna. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melihat perubahan ini memunculkan berbagai tren baru di industri pariwisata. Mulai dari wisata tematik, wisata berbasis lingkungan, hingga perjalanan yang memanfaatkan teknologi digital sebagai pendukung pengalaman wisata.
Juru Bicara Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, menjelaskan bahwa arah perkembangan pariwisata global saat ini semakin menitikberatkan pada pengalaman wisata yang berkelanjutan, lebih imersif, dan di sesuaikan dengan kebutuhan setiap wisatawan. Menurut Nia, generasi milenial dan Gen Z yang tumbuh sebagai digital-native ikut mendorong lahirnya berbagai tren baru. Di antaranya adalah wisata berbasis lingkungan, wisata kebugaran, wisata olahraga, hingga Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE).
Teknologi Bikin Perjalanan Semakin Personal
Perkembangan teknologi juga menjadi salah satu faktor yang mempercepat transformasi sektor pariwisata. Nia menyebut teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), serta Augmented Reality dan Virtual Reality (AR/VR) kini semakin banyak di manfaatkan dalam dunia wisata. Teknologi tersebut membantu wisatawan mendapatkan rekomendasi perjalanan yang lebih sesuai dengan preferensi masing-masing. Selain itu, pengalaman wisata menjadi lebih interaktif dan proses merencanakan perjalanan pun semakin mudah.
Wisatawan Kini Lebih Mengejar Pengalaman
Nia menjelaskan bahwa wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara pada dasarnya memiliki minat yang hampir sama terhadap berbagai jenis wisata. Namun, masing-masing tetap memiliki prioritas yang berbeda.
Saat ini terdapat enam jenis wisata yang paling banyak di minati, yaitu:
- Wisata budaya yang menghadirkan pengalaman langsung (immersive culture).
- Wisata ramah lingkungan (eco tourism).
- Wisata alam dan petualangan.
- Wisata kuliner dan gastronomi.
- Wisata kebugaran (wellness tourism).
- Wisata rekreasi.
Wisatawan mancanegara umumnya lebih menyukai pengalaman budaya, wisata alam, dan destinasi yang menerapkan prinsip keberlanjutan. Sementara itu, wisatawan domestik lebih banyak memilih wisata kuliner, pengalaman budaya, serta perjalanan yang memberikan kenyamanan dan relaksasi. Menurut Nia, perbedaan keduanya terletak pada motivasi serta tingkat ketertarikan terhadap setiap jenis wisata. Meski begitu, kedua kelompok sama-sama mengutamakan perjalanan yang lebih bermakna dan autentik.
Sport Tourism Di prediksi Terus Tumbuh
Selain wisata budaya dan kuliner, wisata olahraga atau sport tourism juga menjadi salah satu sektor pariwisata dengan pertumbuhan paling pesat. Berdasarkan data UN Tourism, sektor ini menyumbang sekitar 10 persen dari total pengeluaran wisatawan dunia. Bahkan, pertumbuhannya di perkirakan mencapai rata-rata 17,5 persen setiap tahun hingga 2030. Nia menilai tren tersebut menunjukkan bahwa wisatawan saat ini tidak hanya ingin berlibur. Mereka juga mencari aktivitas yang menyehatkan sekaligus menghadirkan pengalaman yang berkesan.
Perubahan preferensi wisata ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk terus mengembangkan berbagai destinasi tematik. Mulai dari wisata budaya, wellness tourism, sport tourism, hingga destinasi berbasis alam dan keberlanjutan. Dengan kekayaan budaya serta keindahan alam yang di miliki, Indonesia di nilai memiliki modal kuat untuk memenuhi kebutuhan generasi milenial dan Gen Z yang kini lebih mengutamakan pengalaman daripada sekadar mengunjungi destinasi wisata.
(A/*)






