Berito.id – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) resmi mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 bps hingga menyentuh angka 5,25 persen. Lonjakan ini bukan sekadar angka di lembar berita ekonomi. Bagi generasi muda, kebijakan moneter tersebut merombak total kalkulasi pengeluaran bulanan, biaya pinjaman, hingga strategi mencari cuan lewat investasi.
Langkah pertama yang mendesak untuk di lakukan adalah mengecek ulang kontrak pinjaman Anda, terutama bagi pemegang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau kredit kendaraan. Kenaikan BI Rate otomatis memicu lonjakan suku bunga mengambang (floating rate). Jika cicilan Anda menggunakan sistem ini, alokasikan dana ekstra minimal 5 hingga 10 persen dari anggaran bulanan untuk mengantisipasi lonjakan tagihan. Menunda belanja konsumtif demi mempertebal pos cicilan adalah pilihan paling realistis saat ini.
Sebaliknya, situasi ini menjadi angin segar bagi pemburu pendapatan pasif. Suku bunga tinggi membuat perbankan memperbesar imbal hasil tabungan dan deposito.
Berikut adalah peta pengalihan aset yang bisa Anda manfaatkan segera:
| Instrumen Investasi | Strategi Aksi | Estimasi Dampak |
| Deposito & Tabungan | Pindahkan dana menganggur dari rekening biasa ke deposito berjangka. | Mendapatkan keuntungan maksimal dari tren bunga tinggi. |
| Obligasi Negara (SBN) | Beli SBN seri terbaru yang terbit setelah kenaikan suku bunga. | Mengunci kupon/imbal hasil tinggi yang aman dari risiko pasar. |
| Reksadana Pasar Uang | Alokasikan dana darurat ke instrumen ini. | Likuiditas tetap terjaga dengan pertumbuhan di atas inflasi. |
Era bunga tinggi menuntut perubahan perilaku finansial yang agresif. Manfaatkan momentum pergeseran pasar ini dengan memangkas utang konsumtif dan memperbesar porsi aset likuid berpendapatan tetap. (Nd/*)






