China Geser Jepang Jadi Kreditur Terbesar Kedua Dunia, Jerman Kokoh di Puncak

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi mata uang Yen.

Ilustrasi mata uang Yen.

Berito.id – Peta kekuatan finansial global kembali berubah tajam. China resmi menggeser posisi Jepang sebagai negara kreditur terbesar kedua di dunia pada akhir tahun 2025. Data terbaru Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Selasa (26/5) menunjukkan aset eksternal bersih Tokyo sebenarnya mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni mencapai ¥561,8 triliun (setara USD 3,5 triliun). Namun, lonjakan agresif akumulasi kekayaan China berhasil melampaui angka tersebut dengan capaian ¥636,3 triliun.

Pergeseran ini memperpanjang tren penurunan posisi Jepang di panggung finansial global. Setahun sebelumnya, Tokyo kehilangan takhta sebagai kreditur terbesar nomor satu di dunia setelah di tumbangkan oleh Jerman untuk pertama kalinya dalam 34 tahun. Hingga akhir 2025, Berlin masih kokoh di posisi puncak global dengan kepemilikan aset bersih sebesar ¥675,5 triliun.

Apa itu Aset Luar Negeri Bersih? Indikator ini menghitung total nilai aset internasional yang dimiliki oleh penduduk suatu negara, di kurangi dengan seluruh aset domestik yang di kuasai oleh investor asing, serta di sesuaikan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang. Angka ini menjadi cerminan akumulasi surplus neraca transaksi berjalan sebuah negara dalam jangka panjang.

Dominasi Dagang dan Lonjakan Pasar Saham

Kementerian Keuangan Jepang menyatakan bahwa keunggulan posisi Jerman dan China di sokong kuat oleh surplus neraca transaksi berjalan yang masif, terutama dari sektor perdagangan internasional.

Baca Juga :  Panduan Lengkap Cara Membatalkan Pinjaman Indodana Fintech secara Aman

Kondisi sebaliknya terjadi di pasar domestik Jepang. Lambatnya pertumbuhan aset bersih Tokyo dipicu oleh lonjakan nilai saham lokal yang di borong investor asing. Ketika indeks saham Nikkei 225 meroket hingga 26 persen sepanjang tahun 2025 hingga menembus level 50.000, nilai aset domestik yang di pegang asing otomatis membengkak. Dalam pencatatan akuntansi makro, hal ini di hitung sebagai peningkatan kewajiban utang Jepang terhadap luar negeri.

Ekspansi Bisnis Jepang Tetap Agresif

Meskipun turun peringkat, ekspansi korporasi Jepang di luar negeri tidak kendur. Aset internasional Jepang tumbuh 8,5 persen dari tahun sebelumnya menjadi ¥1.806 triliun. Arus modal ini mengalir deras dalam bentuk investasi bisnis langsung, dengan Amerika Serikat dan Swiss sebagai tujuan utama. Tiga sektor yang menjadi magnet modal Jepang meliputi:

  • Keuangan dan asuransi

  • Industri peralatan transportasi

  • Sektor logam nonbesi (nonferrous)

Baca Juga :  5 Cara Menghasilkan Uang dari HP yang Terbukti Membayar di Tahun 2026

Pada saat yang sama, kewajiban finansial Jepang melonjak 10,5 persen menjadi ¥1.244 triliun akibat derasnya modal asing yang masuk ke pasar saham domestik mereka.

Dampak Bagi Pelaku Pasar dan Investor

Pergeseran peta kreditur ini menandakan likuiditas global kini semakin berpusat di Beijing dan Berlin. Bagi para pelaku pasar dan investor di Indonesia, dinamika ini membawa dua dampak langsung yang harus diantisipasi:

  1. Divergensi Arus Modal: Keperkasaan ekonomi China berpotensi meningkatkan dominasi investasi luar negeri mereka di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pelaku bisnis lokal perlu mencermati arah pendanaan baru ini.

  2. Volatilitas Pasar Saham: Lonjakan indeks Nikkei 225 hingga ke level 50.000 menunjukkan pasar Jepang sangat atraktif, namun sekaligus rentan terhadap koreksi akibat aksi ambil untung investor global. Diversifikasi portofolio investasi internasional menjadi langkah aman untuk memitigasi risiko jangka pendek.

(Nd/*)

Berita Terkait

BI Rilis Instrumen Pasar Uang Baru, Jaga Rupiah dan Dorong Transaksi Digital UMKM
Defisit Neraca Pembayaran RI Melonjak Kuartal I-2026 akibat Tekanan Global
IHSG Dibuka Menghijau ke Level 6.187, Bursa Saham Asia Kompak Menguat
BI Rate Tembus 5,25%, Saatnya Ambil KPR Sekarang atau Lebih Baik Ditunda
BI Batasi Pembelian Dolar Mulai Juni 2026, Strategi Redam Spekulasi Pasar Valas
Pekerja Informal Sulit KPR? Skema Rent to Own Jadi Solusi Rumah Subsidi
5 Aplikasi Pengatur Keuangan Android Terbaik untuk Bebas Finansial
Cara Praktis Melacak NIK KTP yang Dicatut untuk Pinjaman Online
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:07 WIB

China Geser Jepang Jadi Kreditur Terbesar Kedua Dunia, Jerman Kokoh di Puncak

Senin, 25 Mei 2026 - 17:09 WIB

BI Rilis Instrumen Pasar Uang Baru, Jaga Rupiah dan Dorong Transaksi Digital UMKM

Senin, 25 Mei 2026 - 12:03 WIB

Defisit Neraca Pembayaran RI Melonjak Kuartal I-2026 akibat Tekanan Global

Senin, 25 Mei 2026 - 09:38 WIB

IHSG Dibuka Menghijau ke Level 6.187, Bursa Saham Asia Kompak Menguat

Minggu, 24 Mei 2026 - 22:05 WIB

BI Rate Tembus 5,25%, Saatnya Ambil KPR Sekarang atau Lebih Baik Ditunda

Berita Terbaru

Masjidil Haram Sepi, Jutaan Jemaah Mulai Padati Arafah (Foto:   Foto: Youtube @qurantvsa/kumparan)

Khasanah

Masjidil Haram Sepi, Jutaan Jemaah Mulai Padati Arafah

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:07 WIB