Strategi Passive Income: Mengincar Saham yang Rajin Tebar Dividen Tiap Semester

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Strategi Passive Income: Mengincar Saham yang Rajin Tebar Dividen Tiap Semester (Foto: AI)

Strategi Passive Income: Mengincar Saham yang Rajin Tebar Dividen Tiap Semester (Foto: AI)

Berito.id – Bagi investor saham, mendapatkan dividen ibarat menerima “gaji tambahan” tanpa harus bekerja. Menariknya, di Bursa Efek Indonesia (BEI), tidak semua emiten hanya membagikan laba setahun sekali. Sejumlah perusahaan justru di kenal royal dengan menebar dividen hingga dua atau tiga kali dalam satu tahun kalender.

Fenomena ini sering menjadi incaran para dividend hunter yang mengincar arus kas (cash flow) rutin. Meski jumlah emiten di bursa terus bertambah mencapai 950 lebih perusahaan, hanya segelintir yang konsisten menjaga tradisi pembagian dividen interim (tengah tahun) dan final.

Berikut adalah daftar saham yang tercatat rajin membagikan laba lebih dari sekali setahun berdasarkan performa terbarunya hingga awal 2026:

Jagoan Perbankan: Stabil dan Terukur

Sektor perbankan, khususnya kelompok bank besar (Big Caps), hampir selalu menjadi tulang punggung portofolio dividen.

  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia): Sebagai bank dengan fokus UMKM, BBRI rutin membagikan dividen dua kali setahun. Pada 15 Januari 2026 lalu, BBRI baru saja mencairkan dividen interim sebesar Rp137 per lembar saham.

  • BBCA (Bank Central Asia): Saham blue chip idola investor ini juga tak absen. BBCA konsisten membagi dividen interim di akhir tahun dan dividen final di kuartal kedua tahun berikutnya. Dengan layanan digital yang masif, profitabilitas BCA tetap terjaga untuk menyokong pembagian laba ini.

Baca Juga :  "Raksasa Baru" Muncul di Laut Kalimantan, Temuan Gas Masif Eni Siap Ubah Peta Energi Dunia

Sektor Energi dan Tambang: Si Paling Agresif

Emiten tambang sering kali memberikan kejutan dengan frekuensi pembagian yang lebih banyak, terutama saat harga komoditas melambung.

  • GEMS (Golden Energy Mines): Saham ini di kenal sangat royal. Pada periode sebelumnya, GEMS bahkan mampu membagikan dividen hingga 4 kali (3 kali interim dan 1 kali final).

  • BSSR (Baramulti Suksessarana): Tidak kalah agresif, BSSR sering menebar dividen 3 kali setahun. Teranyar, pada 15 Januari 2026, mereka membagikan dividen interim senilai Rp127,4 per lembar.

  • ADRO (Adaro Energy Indonesia): Melalui produk unggulannya Envirocoal, Adaro rutin membagikan laba dua kali setahun, memberikan kepastian bagi investor jangka panjang.

Barang Konsumsi dan Multisektor yang Defensif

Bagi investor yang profil risikonya lebih rendah, sektor konsumsi dan multisektor menawarkan stabilitas.

  • ASII (Astra International): Raksasa multisektor ini rutin membagikan dividen pada bulan Juni (final) dan Oktober (interim). Diversifikasi bisnis di bidang otomotif hingga jasa keuangan membuat arus kas Astra tetap kokoh.

  • UNVR (Unilever Indonesia): Meski menghadapi dinamika pasar, Unilever tetap menjaga tradisi pembagian laba dua kali setahun. Produk kebutuhan pokok yang di gunakan jutaan masyarakat Indonesia menjadi mesin uang utama emiten ini.

  • AVIA (Avia Avian): Emiten cat milik konglomerat Hermanto Tanoko ini juga mulai rutin membagikan laba dua kali setahun, memperkuat posisinya di sektor bahan baku.

Baca Juga :  Tanpa Ribet, Strategi 90/10 Warren Buffett Bongkar Mitos Investasi Harus Rumit

Tips Tambahan: Jangan Terjebak ‘Dividend Trap’

Rifda Arum, praktisi pasar modal, dalam ulasannya mengingatkan bahwa frekuensi pembagian dividen bukanlah satu-satunya parameter. Investor perlu melihat kekuatan fundamental perusahaan.

“Penting untuk mempertimbangkan konsistensi pembagian dividen setiap tahun serta kekuatan fundamental berupa arus kas positif dan laba bersih yang bertumbuh,” tulisnya dalam laporan edukasi.

Beberapa hal yang perlu diwaspadai adalah Dividend Trap, yakni kondisi di mana harga saham merosot tajam setelah tanggal ex-date (hari di mana investor tidak lagi berhak mendapat dividen). Pastikan Anda membeli saham saat valuasinya masih masuk akal, bukan saat harga sudah terlalu tinggi karena euforia dividen.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi, bukan perintah jual atau beli. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor dengan mempertimbangkan risiko yang ada.

Berita Terkait

Harga Emas Antam Hari Ini 14 Mei 2026, Stagnan di Rp2,839 Juta per Gram
Jadwal Libur Bursa Efek Indonesia 15 Mei 2026, Strategi Menghadapi Cuti Bersama
OJK Perkuat Literasi Kripto dan Tokenisasi Aset, Cegah Penipuan Digital Generasi Muda
OpenAI Perkuat Dominasi Korporasi Lewat Investasi Rp 69,68 Triliun
Wall Street Tembus Rekor Baru, Dominasi AI Melawan Tekanan Geopolitik
IHSG Terkoreksi ke 6.750 Jelang Rebalancing MSCI dan Sentimen Royalti Tambang
IHSG Anjlok ke 6.905 Akibat Eksodus Modal Asing di Saham Perbankan dan Blue Chip
Simulasi Imbal Hasil ST016, Raih Passive Income Stabil dengan Pajak Rendah
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:02 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 14 Mei 2026, Stagnan di Rp2,839 Juta per Gram

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:06 WIB

Jadwal Libur Bursa Efek Indonesia 15 Mei 2026, Strategi Menghadapi Cuti Bersama

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:04 WIB

OJK Perkuat Literasi Kripto dan Tokenisasi Aset, Cegah Penipuan Digital Generasi Muda

Selasa, 12 Mei 2026 - 15:03 WIB

OpenAI Perkuat Dominasi Korporasi Lewat Investasi Rp 69,68 Triliun

Selasa, 12 Mei 2026 - 09:32 WIB

Wall Street Tembus Rekor Baru, Dominasi AI Melawan Tekanan Geopolitik

Berita Terbaru