Berito.id – Di tengah dentuman yang belum sepenuhnya reda, jutaan warga Gaza kini harus menghadapi musuh baru yang tak kasat mata: suhu dingin yang menusuk tulang. Bagi anak-anak yang tinggal di tenda-tenda darurat, musim dingin tahun ini bukan lagi soal hujan yang membawa berkah, melainkan perjuangan hidup dan mati.
Tanpa penghangat ruangan, pakaian tebal yang memadai, hingga nutrisi yang cukup, tubuh-tubuh mungil itu di paksa bertahan di bawah guyuran hujan badai yang merendam kamp-kamp pengungsian.
Kondisi di lapangan menunjukkan pemandangan yang menyayat hati. Ribuan keluarga yang kehilangan rumah akibat konflik kini hanya berlindung di balik lembaran plastik tipis. Saat hujan deras mengguyur, lantai tenda yang hanya berupa tanah berubah menjadi kubangan lumpur dingin.
Laporan dari berbagai lembaga kemanusiaan menyebutkan bahwa banyak anak yang mulai terserang penyakit pernapasan akut dan hipotermia. Minimnya akses air bersih memperparah keadaan, membuat anak-anak rentan terkena infeksi kulit dan diare di tengah suhu ekstrem.
Penderitaan ini bukan sekadar angka statistik. Mengutip laporan lapangan, salah satu warga yang mengungsi, Umm Mohammed, menceritakan betapa sulitnya menjaga anak-anaknya tetap kering.
“Setiap kali hujan turun, kami tidak bisa tidur. Kami hanya duduk berpelukan agar bisa berbagi suhu tubuh. Anak-anak saya menggigil sepanjang malam, dan saya tidak punya apa-apa untuk menyelimuti mereka selain pakaian basah ini,” ungkapnya dengan nada getir.
Ketidakpastian ini di perparah dengan blokade bantuan yang membuat distribusi selimut dan bahan bakar untuk memasak menjadi sangat terbatas.
Secara medis, paparan suhu dingin yang terus-menerus tanpa asupan kalori yang cukup sangat berbahaya bagi balita. Tubuh mereka kehilangan panas lebih cepat daripada orang dewasa. Tanpa adanya intervensi medis yang memadai karena rusaknya fasilitas kesehatan di Gaza, penyakit ringan bisa berubah menjadi fatal dalam hitungan hari.
Bantuan internasional yang masuk saat ini masih jauh dari kata cukup. Kebutuhan mendesak saat ini meliputi:
-
Pakaian musim dingin dan sepatu boot untuk anak-anak.
-
Tenda tahan air (waterproof) dan alas tidur yang layak.
-
Makanan tinggi kalori untuk membantu metabolisme tubuh menjaga suhu internal.
Bagaimana Dunia Merespons?
Meski tekanan internasional terus meningkat agar bantuan kemanusiaan dibuka secara penuh, kenyataan di lapangan tetap sulit. Musim dingin di Gaza menjadi pengingat keras bahwa selain perlindungan dari serangan fisik, perlindungan dari alam juga menjadi hak dasar yang saat ini terenggut dari anak-anak Palestina. (Nd)






