Berito.id – Stabilitas ekonomi global kini berada di ujung tanduk. Ketegangan di Timur Tengah mencapai level baru setelah Iran mulai menarik pungutan tarif bagi setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah sepihak Teheran ini langsung memicu reaksi keras dari negara-negara tetangganya yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Dalam pertemuan konsultatif di Jeddah, Arab Saudi, para pemimpin negara Teluk menyatakan sikap tegas: menolak segala bentuk pungutan di jalur perairan strategis tersebut. Mereka melabeli tindakan Iran sebagai aksi ilegal yang mengangkangi hukum internasional.
Skema Bayar Pakai Kripto dan Yuan
Cara Iran memungut tarif tergolong tak lazim dan provokatif. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memerintahkan kapal-kapal untuk melakukan pembayaran di muka. Alih-alih menggunakan sistem perbankan global yang kini menjepit mereka dengan sanksi, Iran mewajibkan pembayaran menggunakan mata uang kripto atau mata uang China, Yuan.
Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengklaim bahwa “upeti” gelombang pertama sudah masuk ke rekening Bank Sentral Iran. Meski jumlah pastinya masih di rahasiakan, keberanian Iran menarik pajak di jalur yang di lalui seperlima pasokan minyak dunia ini di anggap sebagai tantangan terbuka terhadap blokade laut yang di terapkan militer Amerika Serikat.
Respons Darurat: Pipa Minyak Bersama dan Sistem Rudal
Sadar bahwa diplomasi mungkin tidak cukup, Sekretaris Jenderal GCC Jasem Mohamed Albudaiwi mengungkapkan rencana kontingensi yang lebih ekstrem. Negara-negara Teluk kini mempercepat pembangunan infrastruktur jalur pipa minyak dan gas bersama. Proyek ini bertujuan mem bypass Selat Hormuz agar ekspor energi mereka tidak tersandera oleh kebijakan Teheran.
Selain urusan perut (energi), faktor keamanan menjadi prioritas.
“Para pemimpin telah memerintahkan langkah cepat untuk membangun sistem peringatan dini guna menangkal ancaman rudal balistik di kawasan,” ujar Albudaiwi.
Langkah ini menunjukkan bahwa negara-negara Teluk tidak lagi hanya memandang ancaman Iran sebagai gangguan navigasi, melainkan ancaman kedaulatan yang nyata.
Dunia di Ambang Krisis Energi?
Konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu antara Iran melawan AS dan Israel telah mengubah Selat Hormuz dari jalur dagang menjadi zona tempur. Jika penutupan atau pungutan tarif ini terus berlanjut, pasar energi global dipastikan akan terguncang hebat.
Bagi konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, ketegangan ini adalah sinyal buruk bagi harga bahan bakar. Saat dua kekuatan besar saling kunci di selat sempit, biaya asuransi kapal melonjak, risiko pengiriman naik, dan pada akhirnya, beban itu akan mendarat di kantong masyarakat luas. ***






