Menguak Sisi Gelap Dinasti Gucci yang Tak Terungkap di Label Harga

Retaknya Dinasti di Balik Kilau Monogram Emas

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 3 Mei 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menguak Sisi Gelap Dinasti Gucci yang Tak Terungkap di Label Harga (Foto: wikipedia)

Menguak Sisi Gelap Dinasti Gucci yang Tak Terungkap di Label Harga (Foto: wikipedia)

Berito.id – Kemewahan yang di pancarkan oleh butik-butik Gucci di seluruh dunia kontras dengan sejarah berdarah para pemiliknya. Di dirikan oleh Guccio Gucci di Florence pada 1921, merek ini bermula dari kekaguman sang pendiri terhadap gaya hidup kaum jetset saat ia bekerja di sebuah hotel di London. Namun, warisan yang ia tinggalkan justru menjadi sumbu ledak bagi konflik antargenerasi yang berakhir tragis.

Jeruji Besi bagi Sang Visioner

Pasca era Guccio, Aldo Gucci mengambil tongkat estafet kepemimpinan sejak tahun 1950-an. Di bawah kendalinya, Gucci bertransformasi menjadi simbol status global melalui identitas monogram “GG” yang legendaris. Popularitas merek ini mencapai puncaknya saat Jackie Kennedy Onassis menjadikannya favorit, hingga memicu lahirnya Jackie Bag pada 1961.

Kejayaan tersebut tidak bertahan selamanya. Pada 1986, Aldo terjerembap dalam kasus penggelapan pajak di Amerika Serikat yang memaksanya mendekam di penjara selama satu tahun. Tragisnya, laporan yang menjatuhkan Aldo kabarnya datang dari darah dagingnya sendiri, Paolo. Perselisihan ini dipicu oleh ambisi Paolo membangun lini fashion mandiri yang dilarang keras oleh keluarga besarnya.

Baca Juga :  Lenovo Luncurkan One Lenovo Solutions Mendorong AI di Industri dan Pendidikan

Kudeta dan Akhir Tragis Maurizio

Dominasi keluarga Gucci mulai goyah saat Maurizio Gucci, putra Rodolfo Gucci, menempuh jalur hukum untuk merebut kendali perusahaan dari tangan pamannya, Aldo. Langkah agresif ini menandai berakhirnya harmoni keluarga demi kontrol penuh atas bisnis raksasa tersebut. Sayangnya, kemenangan Maurizio hanya menjadi awal dari babak paling kelam dalam sejarah industri fashion.

Tahun 1995 menjadi catatan hitam saat Maurizio Gucci tewas di tembak di Milan. Dunia terperangah ketika penyelidikan mengungkap dalang pembunuhan: mantan istrinya, Patrizia Reggiani. Kemarahan Patrizia di picu oleh kegagalan Maurizio mengelola bisnis keluarga hingga lepasnya kendali perusahaan ke tangan investor luar. Rasa di khianati oleh kehadiran orang ketiga dalam hidup Maurizio semakin memantapkan niat Patrizia untuk melakukan tindakan ekstrem tersebut.

Kutukan Suksesi dan Kehilangan Identitas

Kasus House of Gucci adalah studi kasus klasik tentang kegagalan suksesi dalam bisnis keluarga. Ketika ambisi pribadi mulai melampaui kepentingan kolektif dan visi awal pendiri, struktur perusahaan menjadi rapuh. Jatuhnya kendali keluarga ke tangan grup investasi (Investcorp dan kemudian Kering) merupakan konsekuensi logis dari konflik internal yang tidak kunjung padam.

Baca Juga :  Prabowo Klaim Swasembada Pangan Tercapai dalam Satu Tahun

Secara teknis, drama ini justru memberikan “karakter” unik bagi brand Gucci. Berbeda dengan brand mewah lain yang menjaga citra bersih, Gucci tumbuh dengan narasi yang provokatif dan berani. Hal ini tercermin dalam arah kreatif mereka di era modern yang sering kali mendobrak norma, seolah-olah mewarisi semangat pemberontakan para pendahulunya namun dalam koridor yang lebih profesional dan menguntungkan secara komersial.

Menjaga Objektivitas dalam Investasi Fashion

Bagi Anda pengoleksi barang mewah atau investor fashion, memahami latar belakang sejarah sebuah brand sangatlah krusial. Kisah kelam di masa lalu sering kali memengaruhi nilai jual kembali (resale value) barang-barang vintage dari era tertentu. Misalnya, koleksi dari era Aldo Gucci atau masa awal Maurizio sering kali di buru kolektor karena nilai historisnya yang dramatis. Pastikan Anda selalu memeriksa sertifikat keaslian dan nomor seri, terutama untuk tas ikonik seperti The Jackie atau produk berbahan kulit keluaran Florence, guna menjamin investasi Anda tetap aman di tengah fluktuasi tren. (Nd/*)

Berita Terkait

Tencent Cloud Luncurkan Solusi Agen AI di Indonesia
PM India Narendra Modi Temui Prabowo di Jakarta
Eddy Soeparno Ajak Bloomberg NEF Promosikan EBT Indonesia
Kerja Sama AS-Indonesia Perkuat Industri Susu Nasional
Tarif Visa Jepang 2026 Resmi Naik hingga Rp1,6 Juta
Putin Sambut Menlu RI Sugiono di KTT ASEAN–Rusia di Kazan
AIIB Siapkan Dana US$17 Miliar untuk Indonesia hingga 2029
Tradisi Tahun Baru Islam di Berbagai Negara, Unik dan Penuh Makna
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:00 WIB

Tencent Cloud Luncurkan Solusi Agen AI di Indonesia

Selasa, 7 Juli 2026 - 13:00 WIB

PM India Narendra Modi Temui Prabowo di Jakarta

Senin, 29 Juni 2026 - 13:00 WIB

Eddy Soeparno Ajak Bloomberg NEF Promosikan EBT Indonesia

Selasa, 23 Juni 2026 - 09:05 WIB

Kerja Sama AS-Indonesia Perkuat Industri Susu Nasional

Senin, 22 Juni 2026 - 13:05 WIB

Tarif Visa Jepang 2026 Resmi Naik hingga Rp1,6 Juta

Berita Terbaru

5 Drama China Baru Paruh Kedua 2026 yang Wajib Di Tonton
(Foto: AI)

Showbiz

5 Drama China Baru Paruh Kedua 2026 yang Wajib Di Tonton

Kamis, 16 Jul 2026 - 11:00 WIB

BKN Minta Pemerintah Tambah Jumlah PNS
(Foto: AI)

Nasional

BKN Minta Pemerintah Tambah Jumlah PNS

Kamis, 16 Jul 2026 - 07:00 WIB