Rupiah Terperosok ke Rp17.400 per Dolar AS Akibat Tekanan Geopolitik Global

Badai Geopolitik Seret Rupiah ke Level Terendah

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:06 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah Terperosok ke Rp17.400 per Dolar AS Akibat Tekanan Geopolitik Global

Rupiah Terperosok ke Rp17.400 per Dolar AS Akibat Tekanan Geopolitik Global

Berito.id – Mata uang rupiah gagal membendung dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (5/5/2026), nilai tukar rupiah resmi melampaui angka Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan tajam ini memicu alarm waspada bagi pelaku pasar dan industri nasional.

Analis pasar uang, Ibrahim Assu’aibi, memproyeksikan tekanan ini belum mencapai puncaknya. Target pelemahan bahkan di perkirakan menyentuh Rp17.550 dalam rentang pekan ini. Situasi ini bukan sekadar fluktuasi harian, melainkan akumulasi dari ketegangan global yang meledak secara bersamaan.

Mesiu di Selat Hormuz dan Kilang Ukraina

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Intimidasi militer AS di Selat Hormuz terhadap armada Iran telah mengganggu jalur logistik energi paling vital di dunia. Hancurnya kapal-kapal perang kecil Iran dalam insiden terbaru menciptakan sentimen negatif yang instan di pasar finansial.

Kondisi di perparah dengan serangan drone Ukraina yang menghantam jantung produksi minyak Rusia. Akibatnya, rantai pasok energi global tercekik. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, Indonesia terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Kebutuhan dolar AS yang melonjak drastis untuk impor energi inilah yang menjadi beban utama bagi otot rupiah.

Baca Juga :  Rekomendasi Drama China Terbaru Juni 2026 Paling Hits

Dilema Domestik: Cadangan Devisa dan Manufaktur yang Lesu

Di dalam negeri, amunisi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi mulai menunjukkan batasnya. Cadangan devisa menyusut signifikan akibat upaya stabilisasi pasar valas dan obligasi yang di lakukan secara masif belakangan ini. Intervensi yang terus-menerus tanpa adanya aliran modal masuk (capital inflow) yang kuat membuat ruang gerak kebijakan moneter semakin sempit.

Sektor riil pun mulai menjerit. Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia kini berada di bawah level 50, yang berarti industri sedang mengalami kontraksi. Bahan baku impor yang harganya selangit akibat konversi dolar membuat produsen kesulitan berproduksi. Jika rantai pasok terus terganggu, ancaman pemutusan hubungan kerja hingga kenaikan harga barang di tingkat konsumen menjadi konsekuensi logis yang sulit di hindari.

Mengapa Kali Ini Berbeda?

Pelemahan rupiah kali ini memiliki karakteristik yang lebih kompleks di banding tahun-tahun sebelumnya. Kita tidak hanya menghadapi kebijakan suku bunga The Fed (High for Longer), tetapi juga menghadapi “Weaponization of Energy” atau persenjataan energi akibat konflik terbuka. Kombinasi antara defisit transaksi berjalan di sektor energi dan melemahnya daya saing manufaktur menciptakan tekanan ganda (double pressure).

Baca Juga :  951 Pinjol Ilegal Diblokir OJK, Segera Cek Daftar Resminya di Sini

Pemerintah perlu segera mempercepat diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor migas. Tanpa langkah struktural, rupiah akan terus menjadi “sasaran empuk” setiap kali ada riak di Timur Tengah atau Eropa Timur.

Tips Praktis untuk Masyarakat

  1. Efisiensi Konsumsi: Kurangi penggunaan energi yang tidak perlu untuk membantu menekan beban impor negara secara kolektif.

  2. Diversifikasi Portofolio: Bagi investor, pertimbangkan untuk menaruh sebagian aset pada instrumen lindung nilai (hedging) seperti emas atau reksadana pasar uang yang memiliki eksposur dolar.

  3. Prioritaskan Produk Lokal: Menggunakan produk dalam negeri akan membantu mengurangi ketergantungan industri terhadap bahan baku impor yang saat ini harganya sedang melambung.

(Nd/*)

Berita Terkait

Pertamina Perkuat Kapabilitas SDM dan Budaya ESG, Strategi Jangka Panjang Hadapi Transisi Energi
MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026
Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia
Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026
Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya
OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger
Harga Emas Pekan Depan Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS
Harga Minyak Dunia Sentuh US$100, Prabowo Minta Simulasi APBN
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:00 WIB

MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026

Rabu, 29 Juli 2026 - 08:00 WIB

Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:00 WIB

Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:00 WIB

Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya

Senin, 27 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger

Berita Terbaru