Berito.id – Ketegangan di jalur perdagangan energi dunia mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Kabar mengejutkan datang dari Washington setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Keputusan ini memicu optimisme besar akan di bukanya kembali Selat Hormuz, yang langsung berdampak pada terjun bebasnya harga minyak mentah dunia ke level di bawah USD 100 per barel.
Minyak Mentah Tertekan Sentimen Gencatan Senjata
Pasar energi merespons cepat perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (8/4), dua barometer minyak dunia kompak mencatatkan penurunan dua digit. Kontrak minyak mentah Brent di tutup merosot tajam USD 14,52 atau sekitar 13,29 persen ke posisi USD 94,75 per barel.
Nasib serupa menimpa minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS. Penurunan WTI bahkan lebih dalam, mencapai USD 18,54 atau 16,41 persen, yang membawa harganya kini bertengger di level USD 94,41 per barel.
Penurunan drastis ini menjadi angin segar bagi negara-negara importir minyak yang selama ini terbebani biaya energi tinggi, meski pasar tetap waspada memantau realisasi gencatan senjata tersebut di lapangan.
Batu Bara dan CPO Ikut Melemah
Sentimen negatif ternyata tidak hanya menghantam sektor minyak. Harga batu bara ICE Newcastle juga tergelincir pada penutupan perdagangan. Mengutip data dari situs Barchart, kontrak untuk pengiriman April 2026 turun 2,17 persen dan kini berada di angka USD 135,50 per ton.
Di sektor perkebunan, minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) berjangka Malaysia pun gagal bertahan di zona hijau. Data dari Tradingeconomics menunjukkan harga CPO ambles 3,76 persen menuju level MYR 4.586 per ton. Analis menilai pelemahan ini sering kali sejalan dengan penurunan harga minyak bumi karena daya saing biodiesel yang ikut meredup saat harga minyak mentah murah.
Logam Industri Justru Berjaya: Nikel dan Timah Melesat
Berbanding terbalik dengan sektor energi dan perkebunan, kelompok logam industri justru menunjukkan performa impresif di London Metal Exchange (LME).
Harga nikel terpantau naik 2,09 persen, membawa posisinya ke level USD 17.302 per ton. Namun, kenaikan paling signifikan di rasakan oleh komoditas timah. Harga timah melonjak 3,63 persen dan kini menetap di angka USD 47.627 per ton.
Kenaikan harga logam industri ini biasanya di picu oleh ketatnya pasokan di gudang-gudang resmi serta ekspektasi peningkatan permintaan dari sektor manufaktur dan teknologi baterai global.
Tips Praktis bagi Investor Komoditas:
Bagi pelaku usaha atau investor di sektor ini, fluktuasi tajam akibat isu geopolitik menunjukkan pentingnya melakukan di versifikasi portofolio. Saat harga energi turun, biaya logistik biasanya akan mengikuti, yang bisa menjadi peluang bagi saham-saham di sektor konsumsi dan transportasi. Namun, tetap perhatikan stabilitas nilai tukar karena komoditas global sangat sensitif terhadap pergerakan mata uang dolar AS. (Nd)






