Berito.id – Teka teki jatuhnya helikopter PK-CFX milik Matthew Air Nusantara di Sekadau, Kalimantan Barat, mulai memasuki fase krusial. Tragedi yang telah merenggut delapan nyawa pada Kamis (16/4) lalu ini menyisakan pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum heli tersebut jatuh.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bergerak cepat dengan mengamankan sisa-sisa instrumen penerbangan. Namun, ada tantangan teknis yang harus di hadapi para investigator di lapangan.
Mengapa Tidak Ada Blackbox?
Berbeda dengan pesawat komersial berbadan lebar, helikopter jenis Airbus Helicopters H-130T2 ternyata tidak di bekali kotak hitam atau blackbox. Ketiadaan perangkat ini berarti tidak ada rekaman percakapan di kokpit (Cockpit Voice Recorder) yang bisa di putar ulang untuk mendengar detik-detik terakhir sebelum kecelakaan.
Investigator KNKT, Dian Saputra, mengonfirmasi keterbatasan ini. Menurutnya, karakteristik teknis kendaraan jenis ini memang berbeda.
“Tidak memiliki blackbox. Jadi, tidak ada perekam percakapan di situ,” ungkap Dian pada Jumat (17/4).
Asa pada Engine Data Recorder dan Manufaktur Prancis
Meski suara pilot tak terekam, harapan kini bertumpu pada engine data recorder. Perangkat ini menyimpan catatan teknis yang sangat spesifik, mulai dari tekanan oli hingga fluktuasi putaran mesin sesaat sebelum jatuh.
Masalahnya, data ini tidak bisa di baca begitu saja di dalam negeri. KNKT memutuskan untuk mengirimkan perangkat tersebut langsung ke pihak manufaktur di Prancis. Langkah ini di lakukan guna memastikan akurasi pembacaan data melalui kerja sama dengan otoritas investigasi setempat.
“Terkait dengan data recorder yang ada akan kami kirimkan ke pihak manufaktur di Prancis,” ujar Dian.
Menanti 30 Hari untuk Preliminary Report
KNKT menjadwalkan preliminary report atau laporan awal akan di rilis dalam waktu 30 hari sejak kejadian. Laporan ini nantinya bakal membedah data faktual secara transparan, mencakup kondisi cuaca di Sekadau saat hari nahas tersebut hingga performa mesin yang tercatat di sistem.
Sementara itu, hasil akhir atau final report baru bisa di ketahui maksimal dalam kurun waktu 12 bulan. Fokus utama tim adalah safety investigation, bukan mencari siapa yang salah secara pidana, melainkan memetakan celah keselamatan yang terabaikan.
Upaya ini menjadi taruhan penting bagi industri penerbangan helikopter di tanah air agar tragedi serupa tak perlu terulang kembali di masa depan.
Mengenai Helikopter H-130T2
Airbus H-130T2 (kini dikenal sebagai H130) adalah helikopter ringan mesin tunggal yang populer digunakan untuk transportasi VIP dan wisata medis. Mesinnya menggunakan turbin Safran Arriel 2D yang memiliki sistem kontrol digital (FADEC). Data dari sistem kontrol inilah yang kemungkinan besar sedang diekstraksi oleh KNKT untuk melihat apakah terjadi kegagalan sistematis pada unit daya selama penerbangan. (Nd)






