Berito.id – Gelombang transformasi digital yang bergerak masif kini telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat global, tidak terkecuali di Provinsi Aceh. Wilayah yang di kenal erat dengan karakteristik budaya, syariat agama, dan sejarah yang kuat ini, sekarang berada di persimpangan jalan dalam merespons cepatnya perkembangan teknologi informasi.
Guru Besar Jurusan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. H. Apridar, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gawai. Lebih dari itu, hal ini berkaitan dengan kecakapan dalam memanfaatkan teknologi komunikasi secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Menurutnya, penetrasi digital ini memicu diskusi hangat mengenai dampak nyata yang di bawanya.
“Kita di hadapkan pada dua sisi mata uang. Di satu pihak, pergeseran digital ini membawa ancaman yang cukup nyata terhadap nilai-nilai luhur dan adat istiadat masyarakat lokal. Namun di pihak lain, lompatan teknologi ini membuka ruang emas bagi lompatan kemajuan di sektor ekonomi, dunia pendidikan, hingga interaksi sosial,” papar Prof. Apridar.
Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya respons yang bijaksana dari semua pihak dalam menghadapi era keterbukaan informasi ini. Tantangan serta potensi yang lahir dari teknologi harus di kendalikan lewat kearifan lokal. Langkah ini krusial di lakukan agar akselerasi literasi digital mampu menghasilkan dampak positif yang lebih dominan, alih-alih merusak tatanan sosial yang sudah ada.
(Aat/*)






