Berito.id – Masjid Nabawi di Madinah memiliki banyak kubah berwarna putih. Namun, satu kubah berwarna hijau tampak lebih mencolok di bandingkan yang lain. Kubah inilah yang di kenal sebagai Kubah Hijau atau Green Dome.
Banyak jemaah bertanya-tanya mengapa hanya satu kubah yang di beri warna hijau. Ternyata, warna tersebut bukan sekadar elemen arsitektur, melainkan memiliki makna penting dalam sejarah Islam. Kubah Hijau menjadi penanda lokasi makam Rasulullah SAW bersama dua sahabat terdekat beliau, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA.
Alasan Kubah Masjid Nabawi Berwarna Hijau
Dalam buku Mengais Berkah di Bumi Sang Rasul karya Ahmad Hawassy di jelaskan bahwa Kubah Hijau di buat sebagai penanda khusus area makam Rasulullah SAW dan kedua sahabat beliau.
Bangunan yang menaungi makam tersebut mulai di bangun setelah perluasan besar Masjid Nabawi pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid I dari Dinasti Umayyah. Lokasi kubah berada di bagian tenggara Masjid Nabawi. Dahulu, area tersebut merupakan rumah Aisyah RA yang kemudian menjadi tempat di makamkannya Rasulullah SAW.
Awalnya, makam hanya di tutupi bangunan sederhana dari kayu. Seiring waktu, bangunan itu beberapa kali di renovasi, terutama pada abad ke-15. Kubah yang berdiri saat ini di bangun oleh Sultan Utsmaniyah Mahmud II pada 1818. Kemudian, pada 1837, kubah tersebut di cat hijau. Sejak saat itu, bangunan tersebut di kenal luas sebagai Kubah Hijau.
Sejarah Awal Pembangunan Masjid Nabawi
Masjid Nabawi merupakan salah satu masjid yang di bangun langsung oleh Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah. Menurut buku Sejarah Terlengkap Peradaban Islam karya Abdul Syukur Al-Azizi, pembangunan masjid di mulai pada bulan Rabiul Awal tahun pertama Hijriah.
Rasulullah SAW meletakkan batu pertama pembangunan masjid. Setelah itu, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali turut meletakkan batu berikutnya sebagai simbol kebersamaan dalam membangun rumah ibadah tersebut. Pembangunan kemudian dilakukan secara gotong royong oleh kaum Muslimin hingga masjid selesai dibangun.
Bentuk Masjid Nabawi pada Masa Rasulullah
Pada awal pembangunannya, Masjid Nabawi memiliki ukuran sekitar 35 meter x 30 meter. Lantainya masih berupa tanah dan batu, sementara atapnya di buat dari pelepah kurma.
Masjid juga memiliki tiga pintu sebagai akses keluar masuk jemaah. Tanah yang digunakan untuk pembangunan masjid berasal dari kaum Bani Najjar. Mereka dengan sukarela mewakafkan lahan tersebut untuk kepentingan umat Islam.
Berulang Kali Mengalami Perluasan
Seiring bertambahnya jumlah umat Islam, Masjid Nabawi beberapa kali mengalami renovasi dan perluasan. Perbaikan pertama dilakukan pada tahun 4 Hijriah dengan mengganti lantai tanah menjadi batu bata.
Kemudian, pada tahun 7 Hijriah, Rasulullah SAW memutuskan memperluas area masjid karena kapasitas yang ada tidak lagi mampu menampung jumlah jemaah yang terus meningkat. Biaya pembebasan lahan untuk perluasan tersebut di tanggung oleh Utsman bin Affan setelah kembali dari Perang Khaibar.
Renovasi Besar pada Masa Kesultanan Utsmaniyah
Salah satu renovasi terbesar Masjid Nabawi terjadi pada tahun 1265 Hijriah pada masa Sultan Abdul Majid dari Kesultanan Utsmaniyah. Proyek pembangunan tersebut berlangsung selama sekitar 12 tahun.
Dalam prosesnya, dinding dan tiang masjid di hiasi ukiran serta kaligrafi indah yang masih menjadi daya tarik hingga saat ini. Keindahan arsitektur tersebut menjadi bagian penting dari sejarah panjang Masjid Nabawi sebagai salah satu masjid paling suci bagi umat Islam di dunia.
Kesimpulan
Kubah Hijau Masjid Nabawi bukan sekadar simbol keindahan bangunan. Warna hijau yang melekat pada kubah tersebut berfungsi sebagai penanda makam Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA. Kubah yang di bangun pada 1818 dan di cat hijau pada 1837 itu kini menjadi salah satu ikon paling di kenal dari Masjid Nabawi serta memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat besar bagi umat Islam.
(Aat/*)






