Berito.id – Islam menanamkan nilai semangat kemandirian dalam islam sebagai salah satu karakter utama seorang Muslim. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa rezeki terbaik berasal dari hasil usaha sendiri. Karena itu, setiap Muslim di dorong untuk bekerja keras, berikhtiar, dan tidak menjadikan orang lain sebagai tempat bergantung.
Suatu ketika, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada makanan yang di peroleh dari jerih payah sendiri. Beliau kemudian mencontohkan Nabi Daud AS yang selalu mencari nafkah melalui hasil kerja tangannya. Pesan tersebut di riwayatkan dalam hadis sahih Imam Bukhari.
Keteladanan Abdurrahman bin Auf Saat Hijrah ke Madinah
Semangat kemandirian dalam islam juga tercermin dari sikap Abdurrahman bin Auf ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Saat itu, Sa’ad bin Rabi’ menawarkan separuh hartanya sebagai bentuk persaudaraan. Namun, Abdurrahman memilih jalan lain.
Ia hanya meminta di tunjukkan lokasi pasar agar bisa berdagang dan memperoleh penghasilan sendiri. Keputusan itu memperlihatkan bahwa seorang Mukmin tidak mudah menyerah pada keadaan. Sebaliknya, ia berusaha menciptakan peluang meski menghadapi keterbatasan.
Bagi seorang Muslim, sempitnya lapangan pekerjaan bukan alasan untuk berputus asa. Kondisi tersebut justru menjadi motivasi untuk mencari kesempatan baru melalui usaha dan kerja keras.
Allah Memerintahkan Umat Mengubah Nasib dengan Ikhtiar
Semangat tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka berusaha mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Karena itu, Rasulullah SAW terus mengingatkan para sahabat agar menjadi pribadi yang memberi, bukan meminta. Beliau menegaskan bahwa tangan yang berada di atas lebih baik daripada tangan yang berada di bawah. Hadis ini di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Hakikat Kaya dan Miskin Menurut Rasulullah SAW
Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan pesan tersebut dalam khutbah. Beliau juga mengajarkannya secara langsung kepada para sahabat.
Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah menjelaskan bahwa orang miskin bukan sekadar mereka yang kekurangan makanan atau kurma. Menurut beliau, kemiskinan yang sesungguhnya adalah kebiasaan meminta-minta kepada orang lain.
Sebaliknya, kekayaan tidak selalu di ukur dari banyaknya harta. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang kaya adalah mereka yang merasa cukup dan selalu bersyukur atas rezeki yang Allah berikan, meskipun jumlahnya tidak banyak.
Dalam hadis lain yang di riwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW menyebut orang yang paling beruntung ialah mereka yang memeluk Islam, mampu menjaga diri dari kebiasaan meminta-minta, serta merasa puas terhadap rezeki yang telah Allah tetapkan.
Baiat Rasulullah SAW untuk Menumbuhkan Sikap Mandiri
Auf bin Malik pernah mengisahkan pengalamannya saat bertemu Rasulullah SAW bersama beberapa sahabat. Ketika itu, Rasulullah mengajak mereka berbaiat. Meskipun mereka merasa telah berbaiat sebelumnya, Rasulullah mengulang ajakan tersebut hingga tiga kali.
Setelah baiat untuk mengesakan Allah, meninggalkan kesyirikan, dan menegakkan salat lima waktu, Rasulullah menyampaikan satu pesan penting dengan suara yang pelan tetapi tegas. Beliau meminta mereka berjanji untuk tidak meminta-minta kepada sesama manusia.
Pesan tersebut mengandung makna yang sangat dalam. Rasulullah SAW ingin membangun karakter umat yang mandiri, berusaha dengan kemampuan sendiri, dan tidak menggantungkan hidup kepada orang lain.
Kemandirian Harus Di sertai Semangat Tolong-Menolong
Meski Islam mengajarkan kemandirian, ajaran itu tidak berarti mengabaikan kepedulian sosial. Sebaliknya, umat Islam tetap di perintahkan untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan.
Karena itu, setiap Muslim perlu membangun kehidupan yang seimbang. Di satu sisi, mereka berusaha memenuhi kebutuhan melalui kerja keras. Di sisi lain, mereka tetap memiliki kepedulian untuk membantu sesama yang benar-benar membutuhkan.
Dengan demikian, masyarakat dapat tumbuh menjadi komunitas yang saling menguatkan, menjunjung nilai ta’awun fil birri wat-taqwa, serta menjauhkan diri dari sikap saling menzalimi dan saling memanfaatkan.
(A/*)






