Berito.id – Perusahaan teknologi dunia terus memacu inovasi tanpa henti. Mereka saling sikut setiap bulan demi meluncurkan model kecerdasan buatan (AI) yang lebih responsif, presisi, dan cakap dalam menuntaskan berbagai pekerjaan rumit. Oleh karena itu, fenomena tersebut secara otomatis memicu pertanyaan penting. Lebih jauh lagi, publik kini penasaran mengenai teknologi milik siapa yang sebenarnya memegang gelar paling cerdas saat ini.
OpenAI GPT 5.5 Pro Puncaki Daftar AI Terpintar
Lembaga pemantau perkembangan kecerdasan buatan, Tracking AI, baru saja merilis data pengujian terbaru per Juni 2026. Sebagai hasilnya, OpenAI GPT 5.5 Pro (Vision) sukses merebut posisi teratas dengan raihan skor IQ mencapai 145. Sementara itu, pencapaian gemilang ini otomatis menggeser para rival beratnya ke peringkat bawah.
Melalui uji coba berbasis standar Tes IQ Mensa Norwegia tersebut, jawara baru ini memamerkan keunggulan mutlaknya dalam mengolah penalaran abstrak serta memecahkan teka-teki pola visual.
Berdasarkan data yang dihimpun tersebut, mari kita cermati lima model AI yang sukses mendominasi peringkat skor IQ tertinggi sepanjang bulan ini:
| Peringkat | Nama Model AI | Skor IQ |
| 1 | OpenAI GPT 5.5 Pro (Vision) | 145 |
| 2 | Gemini 3.1 Pro Preview | 143 |
| 3 | Grok-4.20 Expert Mode | 143 |
| 4 | Claude-4.8 Opus Adaptive Thinking | 142 |
| 5 | OpenAI GPT 5.5 Thinking (Vision) | 139 |
Jarak poin yang sangat rapat di papan atas membuktikan bahwa para pengembang global kini terlibat dalam rivalitas yang sangat ketat. Kemampuan berpikir sistem komputer ini pun terus melesat dalam waktu singkat.
Mengukur Logika AI Lewat Tes Mensa Norwegia
Para peneliti sengaja memilih Tes IQ Mensa Norwegia sebagai parameter utama untuk menakar bobot kecerdasan entitas digital ini. Pada dasarnya, metode evaluasi tersebut memang berfokus menguji fluid intelligence. Hal ini berarti bahwa pengujian lebih mengutamakan kapasitas bawaan subjek dalam menangkap pola serta mengandalkan logika. Alhasil, subjek dituntut untuk mengurai problem baru tanpa sedikit pun memanfaatkan modal hafalan masa lalu.
Sistem penilaian ini murni menguji ketajaman analisis visual dan nalar abstrak—dua aspek yang menjadi indikator utama kecerdasan manusia. Atas dasar itulah, para pakar menguji deretan model AI modern ini dengan instrumen yang sama guna melihat seberapa jauh mesin mampu meniru cara berpikir kita.
(A/*)






