Berito.id – Universitas Prasetiya Mulya baru-baru ini merilis riset bertajuk AI Citation Audit. Penelitian ini mengungkap fenomena baru bernama AI Citation Gap. Kondisi ini terjadi ketika kecerdasan buatan (AI) merekomendasikan sebuah merek, namun mengambil sumber informasi dari situs lain, bukan dari website resmi perusahaan tersebut. Fenomena ini berpotensi mengubah peta strategi pemasaran digital global.
Kandidat Doktor Universitas Prasetiya Mulya sekaligus praktisi penjualan, Dedy Budiman, memimpin langsung riset ini. Ia menyoroti pergeseran masif perilaku konsumen saat ini. Masyarakat mulai meninggalkan mesin pencari konvensional. Mereka kini mengandalkan AI untuk mendapatkan jawaban instan yang ringkas. Dalam ekosistem baru ini, AI bertindak sebagai kurator tunggal yang menentukan kredibilitas sumber informasi.
Fakta Mengejutkan dari Audit Google AI
Dedy mengaudit Google AI Mode dengan melibatkan 32 responden dan 16 perintah pencarian (prompt) standar di sektor properti. Dari proses tersebut, ia mengumpulkan 1.842 URL dari 222 domain unik. Hasilnya cukup mengejutkan karena AI kerap melewati website resmi produsen.
AI justru lebih banyak memetik informasi dari media sosial, platform marketplace, blog perbandingan, hingga situs internasional. Bahkan, sumber kutipan dari domain luar negeri mencapai 61,8 persen.
Kesenjangan konten menjadi akar masalah dari tren ini. Mayoritas perusahaan masih memperlakukan website resmi mereka sebatas katalog digital yang kaku. Padahal, konsumen modern selalu mengajukan pertanyaan spesifik yang membutuhkan edukasi mendalam.
“Konsumen jarang mencari nama seri produk secara spesifik. Mereka justru bertanya mana produk terbaik, apa perbedaannya, bagaimana cara memilihnya, berapa harganya, atau apa keunggulannya,” kata Dedy. Jika situs resmi gagal menyediakan jawaban itu, AI otomatis mencari informasi dari sumber pihak ketiga.
Solusi Baru: AI Visibility Optimization (AIVO)
Sebagai langkah solutif, Dedy menawarkan pendekatan baru bernama AI Visibility Optimization (AIVO). Berbeda dengan Search Engine Optimization (SEO) yang fokus menempatkan website di halaman pertama mesin pencari, AIVO bekerja secara berbeda. Strategi ini memastikan sistem AI memahami dan merepresentasikan sebuah merek secara akurat melalui konten edukasi yang padat.
Dedy menegaskan bahwa indikator performa digital hari ini sudah berubah. Fokus utama bukan lagi sekadar menjaring trafik. Perusahaan harus memastikan informasi yang beredar di internet tetap akurat dan relevan saat AI menjadi perantara utama antara konsumen dan produk.
Akademisi menyambut positif temuan ini. Co Provost 1 Universitas Prasetiya Mulya, Dr.rer.pol. Christiana Yosevina, menilai pergeseran ini sebagai alarm bagi organisasi untuk segera merombak strategi komunikasi mereka. Kualitas konten kini menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik.
Menurut Christiana, tantangan bisnis saat ini bukan lagi sekadar tampil di ranah daring. Perusahaan harus memastikan AI mampu memahami narasi mereka secara tepat. Fenomena AI Citation Gap membuktikan bahwa kredibilitas sumber dan kualitas konten memegang kendali penting. Konten yang edukatif akan menjadi kunci agar organisasi tetap mendapat kepercayaan konsumen di era pencarian berbasis AI.
(A/*)






