Riset Prasmul, Alasan AI Kerap Lewatkan Website Resmi Brand

Pelaku usaha harus mengubah strategi konten digital dari sekadar katalog menjadi pusat edukasi konsumen.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Riset Prasmul, Alasan AI Kerap Lewatkan Website Resmi Brand
(Foto: solvaworks)

Riset Prasmul, Alasan AI Kerap Lewatkan Website Resmi Brand (Foto: solvaworks)

Berito.id – Universitas Prasetiya Mulya baru-baru ini merilis riset bertajuk AI Citation Audit. Penelitian ini mengungkap fenomena baru bernama AI Citation Gap. Kondisi ini terjadi ketika kecerdasan buatan (AI) merekomendasikan sebuah merek, namun mengambil sumber informasi dari situs lain, bukan dari website resmi perusahaan tersebut. Fenomena ini berpotensi mengubah peta strategi pemasaran digital global.

Kandidat Doktor Universitas Prasetiya Mulya sekaligus praktisi penjualan, Dedy Budiman, memimpin langsung riset ini. Ia menyoroti pergeseran masif perilaku konsumen saat ini. Masyarakat mulai meninggalkan mesin pencari konvensional. Mereka kini mengandalkan AI untuk mendapatkan jawaban instan yang ringkas. Dalam ekosistem baru ini, AI bertindak sebagai kurator tunggal yang menentukan kredibilitas sumber informasi.

Fakta Mengejutkan dari Audit Google AI

Dedy mengaudit Google AI Mode dengan melibatkan 32 responden dan 16 perintah pencarian (prompt) standar di sektor properti. Dari proses tersebut, ia mengumpulkan 1.842 URL dari 222 domain unik. Hasilnya cukup mengejutkan karena AI kerap melewati website resmi produsen.

Baca Juga :  Adaptasi Novel TikTok Viral Every Year After Tayang di Prime Video Juni 2026

AI justru lebih banyak memetik informasi dari media sosial, platform marketplace, blog perbandingan, hingga situs internasional. Bahkan, sumber kutipan dari domain luar negeri mencapai 61,8 persen.

Kesenjangan konten menjadi akar masalah dari tren ini. Mayoritas perusahaan masih memperlakukan website resmi mereka sebatas katalog digital yang kaku. Padahal, konsumen modern selalu mengajukan pertanyaan spesifik yang membutuhkan edukasi mendalam.

“Konsumen jarang mencari nama seri produk secara spesifik. Mereka justru bertanya mana produk terbaik, apa perbedaannya, bagaimana cara memilihnya, berapa harganya, atau apa keunggulannya,” kata Dedy. Jika situs resmi gagal menyediakan jawaban itu, AI otomatis mencari informasi dari sumber pihak ketiga.

Solusi Baru: AI Visibility Optimization (AIVO)

Sebagai langkah solutif, Dedy menawarkan pendekatan baru bernama AI Visibility Optimization (AIVO). Berbeda dengan Search Engine Optimization (SEO) yang fokus menempatkan website di halaman pertama mesin pencari, AIVO bekerja secara berbeda. Strategi ini memastikan sistem AI memahami dan merepresentasikan sebuah merek secara akurat melalui konten edukasi yang padat.

Baca Juga :  Aplikasi Edit Foto Estetis yang Sering Dipakai Selebgram

Dedy menegaskan bahwa indikator performa digital hari ini sudah berubah. Fokus utama bukan lagi sekadar menjaring trafik. Perusahaan harus memastikan informasi yang beredar di internet tetap akurat dan relevan saat AI menjadi perantara utama antara konsumen dan produk.

Akademisi menyambut positif temuan ini. Co Provost 1 Universitas Prasetiya Mulya, Dr.rer.pol. Christiana Yosevina, menilai pergeseran ini sebagai alarm bagi organisasi untuk segera merombak strategi komunikasi mereka. Kualitas konten kini menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik.

Menurut Christiana, tantangan bisnis saat ini bukan lagi sekadar tampil di ranah daring. Perusahaan harus memastikan AI mampu memahami narasi mereka secara tepat. Fenomena AI Citation Gap membuktikan bahwa kredibilitas sumber dan kualitas konten memegang kendali penting. Konten yang edukatif akan menjadi kunci agar organisasi tetap mendapat kepercayaan konsumen di era pencarian berbasis AI.

(A/*)

Berita Terkait

PixVerse R1 Dukung Bahasa Indonesia dan Video AI Real-Time
Adopsi AI Harus Terukur, Perusahaan Jangan Terjebak FOMO
MIND ID Unjuk Gigi Kelola Limbah Tambang di Invirotech 2026
BYD Targetkan Program Pendidikan Menjangkau 45 Kota
Rekomendasi 6 Tablet Murah 2 Jutaan Juni 2026
Samsung Galaxy A37 5G Hadirkan Kamera Malam Anti-Noise, Pas Buat Gen Z
Intip Bocoran Spesifikasi Samsung Galaxy A27 Terbaru
Tecno Pova 8 5G Segera Hadir, Andalkan Baterai 8.000 mAh
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:00 WIB

PixVerse R1 Dukung Bahasa Indonesia dan Video AI Real-Time

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:00 WIB

Riset Prasmul, Alasan AI Kerap Lewatkan Website Resmi Brand

Senin, 15 Juni 2026 - 15:00 WIB

Adopsi AI Harus Terukur, Perusahaan Jangan Terjebak FOMO

Senin, 15 Juni 2026 - 13:02 WIB

MIND ID Unjuk Gigi Kelola Limbah Tambang di Invirotech 2026

Senin, 15 Juni 2026 - 10:07 WIB

BYD Targetkan Program Pendidikan Menjangkau 45 Kota

Berita Terbaru

PixVerse R1 Dukung Bahasa Indonesia dan Video AI Real-Time
(Foto: pixverse)

Teknologi

PixVerse R1 Dukung Bahasa Indonesia dan Video AI Real-Time

Selasa, 16 Jun 2026 - 17:00 WIB

Suzuki Grand Vitara Andalkan BBM Irit dan Biaya Servis Murah(Foto: suzukiindomobil)

Otomotif

Suzuki Grand Vitara Andalkan BBM Irit dan Biaya Servis Murah

Selasa, 16 Jun 2026 - 15:05 WIB

10 Negara Teraman Dan Terdamai di Dunia Tahun 2026
(Foto: Islandia
Pexels/Michael Fischer/voi)

Lifestyle

10 Negara Teraman Dan Terdamai di Dunia Tahun 2026

Selasa, 16 Jun 2026 - 14:10 WIB

Riset Prasmul, Alasan AI Kerap Lewatkan Website Resmi Brand
(Foto: solvaworks)

Teknologi

Riset Prasmul, Alasan AI Kerap Lewatkan Website Resmi Brand

Selasa, 16 Jun 2026 - 12:00 WIB