Berito.id – Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Sabtu (30/5) sore. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 1 kilometer di atas puncak gunung.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, melaporkan erupsi terjadi pada pukul 16.57 WIB. Kolom letusan terpantau mencapai sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut atau 1 kilometer di atas puncak Semeru.
Abu vulkanik terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas cukup tebal dan bergerak ke arah barat. Aktivitas erupsi juga terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 171 detik.
Tiga Kali Erupsi dalam Sehari
Berdasarkan data pengamatan, Gunung Semeru mengalami tiga kali erupsi sepanjang Sabtu. Letusan pertama terjadi pukul 01.04 WIB, di susul erupsi kedua pada pukul 04.53 WIB. Kedua erupsi tersebut tidak dapat di amati secara visual karena kondisi cuaca.
Sementara itu, erupsi ketiga pada pukul 16.57 WIB menjadi yang paling jelas terpantau dengan kolom abu mencapai 1 kilometer di atas puncak.
Status Masih Siaga
Hingga saat ini, Gunung Semeru masih berada pada Status Level III atau Siaga. Masyarakat di minta tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari pusat erupsi.
Warga juga di imbau menjauhi area sejauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak awan panas maupun aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
Warga Di minta Waspadai Awan Panas dan Lahar
Petugas mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Area tersebut berisiko terkena lontaran material pijar saat terjadi erupsi.
Selain itu, warga di minta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat mengalir melalui sejumlah sungai yang berhulu di Semeru. Wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Potensi lahar juga dapat terjadi di anak-anak sungai yang terhubung dengan aliran Besuk Kobokan, terutama saat hujan turun di kawasan puncak.
(Aat/*)






