Sentimen Selat Hormuz Picu Penurunan Harga Minyak, Bagaimana Nasib Komoditas Lainnya?

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 9 April 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sentimen Selat Hormuz Picu Penurunan Harga Minyak, Bagaimana Nasib Komoditas Lainnya? (Foto: AI)

Sentimen Selat Hormuz Picu Penurunan Harga Minyak, Bagaimana Nasib Komoditas Lainnya? (Foto: AI)

Berito.id – Ketegangan di jalur perdagangan energi dunia mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Kabar mengejutkan datang dari Washington setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Keputusan ini memicu optimisme besar akan di bukanya kembali Selat Hormuz, yang langsung berdampak pada terjun bebasnya harga minyak mentah dunia ke level di bawah USD 100 per barel.

Minyak Mentah Tertekan Sentimen Gencatan Senjata

Pasar energi merespons cepat perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (8/4), dua barometer minyak dunia kompak mencatatkan penurunan dua digit. Kontrak minyak mentah Brent di tutup merosot tajam USD 14,52 atau sekitar 13,29 persen ke posisi USD 94,75 per barel.

Nasib serupa menimpa minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS. Penurunan WTI bahkan lebih dalam, mencapai USD 18,54 atau 16,41 persen, yang membawa harganya kini bertengger di level USD 94,41 per barel.

Baca Juga :  Pi Network Pasang Deadline 6 April! Ini Prediksi Harga dan Langkah Wajib bagi Pionir

Penurunan drastis ini menjadi angin segar bagi negara-negara importir minyak yang selama ini terbebani biaya energi tinggi, meski pasar tetap waspada memantau realisasi gencatan senjata tersebut di lapangan.

Batu Bara dan CPO Ikut Melemah

Sentimen negatif ternyata tidak hanya menghantam sektor minyak. Harga batu bara ICE Newcastle juga tergelincir pada penutupan perdagangan. Mengutip data dari situs Barchart, kontrak untuk pengiriman April 2026 turun 2,17 persen dan kini berada di angka USD 135,50 per ton.

Di sektor perkebunan, minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) berjangka Malaysia pun gagal bertahan di zona hijau. Data dari Tradingeconomics menunjukkan harga CPO ambles 3,76 persen menuju level MYR 4.586 per ton. Analis menilai pelemahan ini sering kali sejalan dengan penurunan harga minyak bumi karena daya saing biodiesel yang ikut meredup saat harga minyak mentah murah.

Logam Industri Justru Berjaya: Nikel dan Timah Melesat

Berbanding terbalik dengan sektor energi dan perkebunan, kelompok logam industri justru menunjukkan performa impresif di London Metal Exchange (LME).

Baca Juga :  Honda Pamer CB400 Super Four Terbaru dengan Teknologi Tanpa Tarik Kopling

Harga nikel terpantau naik 2,09 persen, membawa posisinya ke level USD 17.302 per ton. Namun, kenaikan paling signifikan di rasakan oleh komoditas timah. Harga timah melonjak 3,63 persen dan kini menetap di angka USD 47.627 per ton.

Kenaikan harga logam industri ini biasanya di picu oleh ketatnya pasokan di gudang-gudang resmi serta ekspektasi peningkatan permintaan dari sektor manufaktur dan teknologi baterai global.

Tips Praktis bagi Investor Komoditas:

Bagi pelaku usaha atau investor di sektor ini, fluktuasi tajam akibat isu geopolitik menunjukkan pentingnya melakukan di versifikasi portofolio. Saat harga energi turun, biaya logistik biasanya akan mengikuti, yang bisa menjadi peluang bagi saham-saham di sektor konsumsi dan transportasi. Namun, tetap perhatikan stabilitas nilai tukar karena komoditas global sangat sensitif terhadap pergerakan mata uang dolar AS. (Nd)

Berita Terkait

Harga Emas Antam Hari Ini 14 Mei 2026, Stagnan di Rp2,839 Juta per Gram
Jadwal Libur Bursa Efek Indonesia 15 Mei 2026, Strategi Menghadapi Cuti Bersama
OJK Perkuat Literasi Kripto dan Tokenisasi Aset, Cegah Penipuan Digital Generasi Muda
OpenAI Perkuat Dominasi Korporasi Lewat Investasi Rp 69,68 Triliun
Wall Street Tembus Rekor Baru, Dominasi AI Melawan Tekanan Geopolitik
IHSG Terkoreksi ke 6.750 Jelang Rebalancing MSCI dan Sentimen Royalti Tambang
IHSG Anjlok ke 6.905 Akibat Eksodus Modal Asing di Saham Perbankan dan Blue Chip
Simulasi Imbal Hasil ST016, Raih Passive Income Stabil dengan Pajak Rendah
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:02 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 14 Mei 2026, Stagnan di Rp2,839 Juta per Gram

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:06 WIB

Jadwal Libur Bursa Efek Indonesia 15 Mei 2026, Strategi Menghadapi Cuti Bersama

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:04 WIB

OJK Perkuat Literasi Kripto dan Tokenisasi Aset, Cegah Penipuan Digital Generasi Muda

Selasa, 12 Mei 2026 - 15:03 WIB

OpenAI Perkuat Dominasi Korporasi Lewat Investasi Rp 69,68 Triliun

Selasa, 12 Mei 2026 - 09:32 WIB

Wall Street Tembus Rekor Baru, Dominasi AI Melawan Tekanan Geopolitik

Berita Terbaru