Berito.id – Dinamika geopolitik Timur Tengah mendadak memanaskan pasar energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,8 persen ke angka USD 95,88 per barel pada perdagangan Kamis pagi (7/5). Pemulihan ini di picu oleh sinyal kuat berakhirnya konflik setelah beredar kabar mengenai draf kesepakatan satu halaman yang sedang di tinjau oleh Teheran.
Iran mengonfirmasi sedang mempelajari proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Donald Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan akan tercapai, meski isu krusial seperti program nuklir dan pembukaan Selat Hormuz masih menjadi ganjalan utama. Bagi pelaku industri, stabilitas di Selat Hormuz adalah kunci; penyumbatan jalur ini bisa memicu lonjakan harga energi global secara ekstrem secara instan.
Fluktuasi Komoditas Logam dan Perkebunan
Sektor logam menunjukkan performa yang kontras. Timah mencatatkan lonjakan fantastis sebesar 8,22 persen, menyentuh angka USD 53.808 per ton di London Metal Exchange (LME). Lonjakan ini menjadi anomali positif di tengah koreksi komoditas lainnya.
Daftar perubahan harga komoditas terkini:
-
CPO: Menguat tipis 0,26 persen ke level MYR 4.591 per ton.
-
Nikel: Terkoreksi 2,26 persen menjadi USD 19.199 per ton.
-
Batu Bara: Melemah 1,75 persen ke posisi USD 132,05 per ton di pasar ICE Newcastle.
Panduan Strategis bagi Investor
Kenaikan harga minyak dan CPO secara bersamaan biasanya akan menekan biaya operasional sektor transportasi dan logistik. Anda yang memiliki aset di sektor pertambangan nikel dan batu bara perlu waspada terhadap tren pelemahan ini. Sebaliknya, performa impresif timah memberikan peluang bagi emiten terkait untuk memperkuat posisi portofolio di tengah ketidakpastian global. Pantau terus respons resmi Iran terhadap proposal AS, karena setiap pernyataan diplomatik akan langsung berimbas pada volatilitas harga energi malam ini. (Nd)






