Berito.id – Laporan terbaru organisasi kesehatan dunia mengonfirmasi identitas patogen yang menyerang kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik. Virus Andes, salah satu varian hantavirus, menjadi penyebab utama klaster penyakit pernapasan berat yang menginfeksi para penumpang. Berbeda dengan mayoritas keluarga hantavirus yang hanya berpindah dari hewan ke manusia, virus Andes memiliki kemampuan unik untuk menular antarmanusia.
Transmisi Terbatas namun Mematikan
Kepala Laboratorium Virologi Geneva University Hospitals, Dr. Manuel Schibler, menegaskan bahwa isolasi ketat bagi pasien suspek adalah prosedur wajib. Meskipun virus Andes dapat berpindah dari orang ke orang, daya sebarannya tidak secepat SARS-CoV-2 atau influenza. Penularan biasanya hanya terjadi melalui kontak fisik yang sangat dekat dan berlangsung lama.
Infeksi awal kerap menyamar sebagai gangguan kesehatan umum. Gejala seperti demam, nyeri otot hebat, dan kelelahan menjadi indikasi pertama sebelum penyakit ini berisiko berkembang menjadi hantavirus pulmonary syndrome. Kondisi tersebut menyerang fungsi paru-paru secara drastis dan memiliki tingkat fatalitas yang tinggi jika tidak segera ditangani medis.
Data Kasus dan Penanganan Darurat
Hingga 9 Mei 2026, akumulasi data menunjukkan perkembangan angka yang signifikan pada klaster MV Hondius:
-
Total Kasus: 8 orang.
-
Konfirmasi Laboratorium: 5 kasus positif hantavirus (6 kasus diidentifikasi oleh ECDC sebagai varian Andes).
-
Korban Jiwa: 3 orang meninggal dunia.
Saat ini, MV Hondius diarahkan menuju Tenerife, Kepulauan Canary. Protokol kesehatan internasional telah diaktifkan untuk melakukan evakuasi medis, disinfeksi total area kapal, serta pelacakan kontak erat. Penumpang yang tidak menunjukkan gejala tetap dipulangkan melalui jalur transportasi khusus guna meminimalisir risiko paparan di ruang publik.
Langkah Antisipasi dan Perawatan
Dunia medis belum menemukan obat spesifik atau vaksin untuk hantavirus. Penanganan saat ini sepenuhnya bergantung pada terapi suportif, meliputi pemberian cairan, bantuan alat pernapasan, dan pemantauan fungsi organ vital secara intensif. Deteksi dini menjadi satu-satunya kunci untuk meningkatkan peluang bertahan hidup pasien.
Bagi masyarakat luas, risiko penularan virus ini di daratan tetap rendah selama menjaga kebersihan lingkungan dari kotoran hewan pengerat. Bagi pelaku perjalanan internasional, sangat disarankan untuk memantau informasi resmi dari otoritas kesehatan jika baru saja melakukan perjalanan di wilayah terdampak atau lingkungan tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk. (Nd/*)






