Berito.id – Setiap musim haji, jutaan umat Islam berkumpul di Mina untuk melaksanakan ritual lempar jumrah. Prosesi ini wajib di lakukan pada hari-hari tasyrik. Jemaah akan melempar batu-batu kecil ke tiga titik penampungan, yaitu Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Banyaknya jumlah batu yang di lempar setiap tahun sering memicu rasa penasaran. Bagaimana mungkin tempat tersebut tidak penuh dan tertimbun gunung batu? Ke mana sebenarnya semua kerikil itu pergi?
Mengenal Ritual Lempar Jumrah
Dalam buku Misteri Haji & Umrah karya Thariq As-Suwaidan, lempar jumrah adalah simbol perlawanan manusia terhadap godaan setan. Ritual ini meniru kisah Nabi Ibrahim AS saat mengusir setan yang mencoba menggoyahkan imannya.
Ada tiga titik utama dalam ibadah ini:
-
Jumrah Ula: Titik yang paling dekat dengan Masjid Al-Khaif.
-
Jumrah Wustha: Titik yang berada di posisi tengah.
-
Jumrah Aqabah: Titik yang posisinya paling dekat dengan kota Makkah.
Setiap jemaah wajib melempar masing-masing titik sebanyak tujuh kali. Batu yang di gunakan berukuran kecil, idealnya sedikit lebih besar dari biji adas tetapi lebih kecil dari kacang tanah. Jemaah biasanya mengambil batu-batu ini di area Muzdalifah atau Mina. Jika kesulitan mencari batu, jemaah juga boleh memakai gumpalan tanah yang keras.
Ibadah ini berlangsung pada tanggal 10, 11, dan 12 Zulhijah. Bagi jemaah yang mengambil pilihan nafar tsani (menunda kepulangan), mereka akan tinggal di Mina sampai tanggal 13 Zulhijah untuk kembali melempar jumrah. Waktu pelaksanaan ritual ini sangat fleksibel, bisa di lakukan dari pagi hingga sore hari.
Pandangan Ulama: Kerikil Di angkat ke Langit
Terkait hilangnya batu-batu tersebut, ada kisah menarik dari sisi spiritual. Abdulkarim Khiratullah dalam bukunya Mencari Cinta Yang Hilang menuliskan sebuah keyakinan yang bereder di kalangan ulama terdahulu.
Konon, kerikil dari jemaah yang ibadah hajinya di terima (haji mabrur) akan di angkat oleh malaikat ke langit. Sebaliknya, batu dari jemaah yang tidak di terima akan tetap tertinggal di bumi. Sahabat Nabi, Ibnu Umar, pernah memperkuat pendapat ini. Beliau bersumpah bahwa Allah SWT memang menaikkan batu-batu yang di terima ke langit.
Cerita serupa ada dalam kitab Syifa’ Al-Gharam. Syaikh Abu Nu’man at-Tabrizi, seorang mantan mufti Masjidil Haram, mengaku pernah melihat langsung batu-batu tersebut bergerak naik ke atas.
Kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq juga membahas hal ini. Ia mengutip pendapat Ibnu Hazm yang menjelaskan dialog tentang riwayat Ibnu Abbas. Logikanya, jika semua batu tidak di pindahkan, maka area Mina pasti sudah berubah menjadi gunung batu yang tinggi sejak zaman dahulu.
Selain itu, ada pula aturan fikih yang mempermudah jemaah. Sesuai hadis riwayat Ibnu Majah dari Qudamah bin Abdillah, Rasulullah SAW dahulu pernah melempar Jumrah Aqabah dari atas unta tanpa harus mengusir atau menyakiti orang di sekitarnya.
Penjelasan Ilmiah: Pengelolaan Modern di Bawah Tanah
Secara nyata dan teknologi, Kerajaan Arab Saudi memiliki sistem pengelolaan batu yang sangat canggih. Kerikil yang di lempar tidak di biarkan menumpuk begitu saja di lantai atas.
Melansir laporan dari media Arab News, semua kerikil jatuh ke dalam lubang penampungan di bawah Jembatan Jamarat. Lubang ini terhubung dengan ruang bawah tanah sedalam 15 meter.
Ahmed Al Subhi, perwakilan dari Kidana Development Company, menjelaskan proses teknisnya. Di dalam ruangan bawah tanah, batu-batu tersebut akan di tarik oleh sistem ban berjalan (conveyor belt).
Batu yang terkumpul kemudian di saring dan di semprot dengan air bersih. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan debu dan kotoran yang menempel.
Setelah bersih, kerikil di pindahkan ke truk khusus untuk di simpan di gudang. Batu-batu ini nantinya dapat di proses ulang untuk di gunakan kembali pada musim haji berikutnya.
Pihak pengelola juga menyediakan ratusan titik pengambilan batu gratis di Muzdalifah dan area Jembatan Jamarat demi kenyamanan jemaah. Dengan perpaduan iman dan teknologi, ritual suci ini pun bisa berjalan dengan lancar dan bersih setiap tahunnya.
(Aat/*)






